Rahasia Ayah yang Terlihat Putri 17 Tahun

Rahasia Ayah yang Terlihat Putri 17 Tahun

Pagi itu, di hari libur, saya memulai proyek perbaikan sepeda gunung bekas yang saya beli dari penjual keliling. Harga yang sangat terjangkau, hanya lima puluh ribu rupiah, membuat saya yakin bisa memulihkannya untuk digunakan keluarga. Rangka sepeda masih dalam kondisi baik, namun beberapa bagian, seperti velg yang berkarat dan ban yang usang, memerlukan perhatian khusus. Setelah diperbaiki, saya berencana menggunakannya untuk berolahraga atau sebagai alat bermain anak-anak.

Saya membawa sepeda ke halaman rumah dan mulai membersihkan karat pada velg menggunakan amplas. Tak lama kemudian, Belvina, putri saya yang berusia tujuh belas tahun, keluar dari rumah. Ia tertawa kecil sambil menutup mulutnya, gestur yang membuat saya merasa sedikit bingung. Saya memintanya untuk mengambilkan amplas tambahan dari kotak perkakas.

Reaksi Belvina yang tidak biasa membuat saya bertanya-tanya apa yang membuatnya geli. Setelah ia menunjuk ke arah selangkangan saya, saya menyadari dengan terkejut bahwa pakaian saya sedikit terbuka, memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tertutup. Merasa canggung dan tersipu, saya segera mengambil tindakan untuk memperbaiki situasi tersebut. Saya mencuci tangan di keran air, sekalian mengganti pakaian.

Ketika Belvina kembali dengan amplas, ia terlihat sedikit malu-malu. Percakapan kami berlanjut dengan pertanyaan saya yang berusaha memahami reaksinya terhadap kejadian yang baru saja terjadi. Ia mengakui bahwa ia belum pernah melihat hal tersebut sebelumnya, dan meminta saya untuk merahasiakannya dari ibunya. Suasana terasa sedikit tegang namun juga diselingi oleh tawa gugup dari Belvina. Situasi ini menuntut kehati-hatian dan kepekaan saya dalam melanjutkan pembicaraan. Saya menyadari pentingnya membimbing Belvina dengan bijak dalam memahami perkembangan fisik dan menjaga privasi keluarga.

u melihat lagi? Maksud Papa, supaya kamu tau apa itu rudal.”

“Ini Pah, amplasnya.” Belvina mengalihkan pembicaraan.

Saya mengambil gulungan amplas dari tangan Belvina. “Bikinkan kopi buat Papah ya, nanti balik lagi kesini, kita ngobrol.” kata saya tidak kehilangan akal.

Belvina masuk ke rumah. Saya duduk di tepi lantai teras menunggu Belvina dengan tak sabar. Kira-kira 10 menit saya menunggu, Belvina datang membawa kopi untuk saya. “Ini Pah, kopinya!” ia berjongkok meletakkan gelas kopi di lantai.

“Siapa yang bikin, Mamah atau kamu?” tanya saya memancing supaya Belvina tidak buru-buru pergi.

“Hee.. hee.. Mamah…”

“Ayo, duduk sini!” saya meraih pundak Belvina.

Belvina duduk di samping saya. “Papah bukan mengajarkan kamu yang nggak baik.” kata saya mengambil tangan Belvina yang halus dan mulus, lalu saya remas pelan-pelan. “Papah sayang sama kamu. Makanya karena kamu sudah terlanjur melihat rudal Papah, Papah akan mengajari kamu bercinta, supaya nanti kamu pacaran, nggak dibohongi sama pacar kamu.”

Sambil meremas tangan Belvina, sebelah tangan saya mengangkat gelas kopi. “Hii.. hiikk… iihh… Papah, nggak ditutupin, nanti kelihatan dari jalan.” kata Belvina ketika melihat rudal saya muncul dari bagian celana saya yang sobek.

“Sini, tutupin dengan tanganmu!” saya menarik tangan Belvina ke selangkangan saya.

“Iihh… Papahh… Papahhh… nggak mau.. gelii…” seru Belvina menarik tangannya.

Tapi apalah artinya sebuah tangan yang kecil dengan tangan saya yang besar dan kuat? Saya berhasil menelungkupkan telapak tangan Belvina ke rudal saya. “Iihhh… Papah, orang gak mau dipaksa!” kata Belvina cemberut.

“Anggap saja kamu pegang rudal pacarmu, karena nanti kamu pacaran, pasti suatu hari pacarmu akan meminta kamu memegang rudalnya.” jawab saya. “Apakah kamu nggak mau pegang, ayo? Kalau kamu sayang sama pacarmu, pasti kamu mau pegang rudalnya ya kan?” kata saya.

“Hii… hiikk… jadi keras, Pah?”

“Karna tanganmu ajaib!” seloroh saya.

“Iihh… Papah! Plaakk…!” Belvina memukul paha saya dengan manja.

Saya memeluk pundak Belvina dan mencium rambutnya. “Pegang lagi!” bisik saya.

Tangan Belvina menuju ke rudal saya yang sudah setengah tegang, lalu rudal saya dipegangnya. “Remas…” bisik saya mengajari tangannya meremas batang rudal saya.

Belvina tidak melawan. Dengan diam dan kepalanya bersandar di pundak saya, telapak tangannya yang mulus itu meremas batang rudal saya pelan-pelan. Gelora kenikmatan menjalari tubuh saya. Saya mengangkat gelas kopi, lalu meneguknya.

Gelora kenikmatan semakin mengejar saya. Akhirnya saya mengejang. Saya memeluk pundak Belvina erat-erat, kemudian saya mengajari tangan Belvina mengocoks rudal saya.

“Ooohhh… ooowhhh… “ lenguh saya ketika air kenikmatan saya keluar dari rudal saya. Crroott… crroooottt…

“Papahhh…. “ desah Belvina.

Saya mencium rambutnya berulang-ulang. “Terima kasih, sayang. serambi lempit kamu terasa apa-apa, nggak? tanya saya mencoba memegang selangkangan Belvina yang tertutup celana pendek.

Rasanya hangat dan sedikit lembab. “Papahhh…” desah Belvina lagi, sehingga membuat saya berani mengelus selangkangannya dengan jari jemari saya. “Ooohhh… Papahhhh…” desah Belvina menarik napas panjang. Pahanya yang kaku menjepit tangan saya.

“Ayo kita ke kamar!” ajak saya menarik Belvina bangun dari duduknya.

Belvina tidak membantah. Kopi tinggal ¼ gelas saya tinggalkan di lantai. Riko, adik Belvina yang berumur 13 tahun sedang duduk di kursi nonton televisi dengan sebungkus potato chips. Ia tidak menghiraukan saya dan Belvina masuk ke kamar.

Istri saya sedang mencuci pakaian di kamar mandi. Saya mengunci pintu kamar Belvina. Belvina berbaring di tempat tidur dengan kedua kaki berjuntai ke lantai. Ia membiarkan saya menarik lepas celana pendek dan celana dalamnya.

Saya tidak mau banyak memperhatikan serambi lempit Belvina yang sudah telanjang itu. Saya membuka lebar paha Belvina, lalu segera mulut saya mengulum serambi lempit Belvina yang rasanya asin berbau pesing dan agak amis itu. “Oooo… Papahh… Papahh…” desah Belvina menggelinjang.

Saya menjilat klitorisnya yang sudah mulai mengeras, Belvina memegang rambut saya dengan tangannya. “Ooo… Papp… ppaahhh… Papp… paaahhh….” rintih Belvina mulai mencengkeram rambut saya.

Cerita Sex Dewasa - Rahasia Ayah yang Terlihat Putri 17 Tahun
“Paapp… paaahhh… Paapp… paahhhh….” kemudian tubuh Belvina bergetar hebat, napasnya tersengal-sengal.

Saya melepaskan serambi lempit Belvina dari mulut saya. Belvina terbaring lemas di tempat tidur. Saya berbaring di sebelahnya mengelus rambutnya. “Enak, sayang?” tanya saya.

Belvina memeluk saya. Saya mengecup bibirnya sejenak, lalu saya memakaikan kembali celananya dan membiarkan ia tidur. Siangnya istri saya mengajak saya ke salon untuk gunting rambut.

Riko mau pergi ke rumah temannya mengerjakan PR, jadi ia tidak ikut. Kami berangkat bertiga. Saya ingin memanjakan Belvina supaya suatu hari saya bisa mendapat lebih dari tubuhnya. Saat mamanya sedang potong rambut, saya mengajak Belvina ke toko handphone.

Saya membiarkan ia melihat-lihat dan ketika ia berdiri terpaku cukup lama di sebuah stand handphone, saya mendekatinya dan bertanya, “Mau yang ini?”

“Papa mau beliin buat aku? Kan baru setahun hape aku?” katanya.

“Iya, tukar saya dengan yang ini hapemu!” kata saya.

“Wahh… dapat hape baru nih, Mama nggak dibeliin?” mamanya ngeledek.

Istri saya tidak tahu maksud saya membelikan handphone baru untuk Belvina.

Selang 2 hari, hari libur. Istri saya mengajak Riko ke rumah kakek neneknya, karena sudah sekitar 3 bulan istri saya tidak ke rumah orang tuanya, sekalian mengantar uang bulanan. “Semalam Belvina nggak enak badan. Tolong dilihat ya Pah, kalau masih nggak enak badan juga, suruh minum obat.” kata istri saya pada saya yang sedang duduk nonton televisi.

Istri saya menunduk mencium bibir saya. Cuupp… cupp… muaahhh…. sudah ya, Pah…”

Melihat Riko masih memesan mobil online dengan hapenya di teras belum dapat-dapat, saya merangkul leher istri saya, lalu bibirnya yang bergincu merah itu saya lumat dengan bibir saya. Teteknya yang menggelantung, saya keluarkan dari BH-nya, lalu saya remas.

Istri saya meronta minta dilepaskan, malah saya menarik turun celana dalamnya dari dalam roknya, sehingga memaksa ia duduk di pangkal paha saya memasukkan rudal saya yang tegang ke lubang serambi lempitnya yang basah, lalu digoyangnya dengan cepat rudal saya sembari kami melumat bibir.

Sheerr… sheerrr… sheerrr…. air kenikmatan saya menembak di dalam serambi lempit istri saya. “Mmmhhh… Papaahhhh….“ desah istri saya.

“Nikmat sekali, sayang…”

“Papa keterlaluan, orang sudah mau pergi masih dientot!”

“Haa… haa… siapa suruh cium bibir?” jawab saya.

Istri saya buru-buru pergi ke kamar mandi mencuci serambi lempitnya. Sebentar kemudian Riko mendapat mobil online, mereka berangkat. Saya mandi.

Tidak lama saya selesai mandi dan duduk kembali nonton televisi, Belvina keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan sambil mengucek-cuek matanya. “Papah… “ panggilnya manja melemparkan pantatnya di samping saya.

Saya merangkul bahunya dan mencium rambutnya. “Mau rudal Papah lagi?” tanya saya.

“Papahh…. mmmhhh…” desah Belvina manja menyandarkan kepalanya di bahu saya.

Saya mengeluarkan rudal saya dari celana dan menarik tangan Belvina memegangnya. Belvina menurut, ia menggenggam rudal saya dan meremasnya pelan. “Papahhh…” desahnya.

rudal saya mulai tegang. “Kocok seperti kemarin ya, sayang?” kata saya membantu tangan Belvina bergoyang.

“Nggak mau, nanti keluar!” jawab Belvina manja.

“Kalau gitu, Papah jilat serambi lempit kamu ya, kayak kemarin, enak kan?” kata saya. “Ayo kita ke kamar,” ajak saya mematikan televisi dengan remote control, lalu bangun menarik Belvina yang masih duduk.

“Gendong…” pintanya manja.

Kemanjaan Belvina membuat saya semakin kehilangan akal sehat. Saya mengangkat Belvina berdiri, lalu memeluknya, kemudian bibirnya saya cium dan saya lumat. Belvina yang belum pandai ciuman bibir hanya mangap-mangap mulutnya, tapi saya tahu bahwa ia menikmati ciuman saya sehingga tangan saya berani masuk ke dalam baju tidurnya, lalu mengangkat BH-nya dan meremas teteknya yang bulat kecil itu.

Napas Belvina tersengal-sengal. Saya segera menariknya masuk ke kamar. Tempat tidurnya seperti kapal pecah. Saya tidak peduli lagi. Setelah Belvina berbaring, saya segera melepaskan celana tidur dan celana dalamnya. Pahanya yang putih saya kangkang lebar.

Lalu serambi lempit Belvina segera saya hisap dan saya lumat dengan mulut saya. Saya sudah tidak bisa menjelaskan lagi bagaimana baunya serambi lempit Belvina. Pantat Belvina naik-turun dan tangannya mencakar-cakar selimut. “Ooohhh… Papaaahhh…. Pappp…. ppaaahhh…. “ teriaknya dengan napas tersengal-sengal.

Saya melepaskan celana pendek saya. Sambil menjilat serambi lempit Belvina, saya mengocok rudal saya yang sudah sangat tegang. Kemudian saya berhenti sebentar melepaskan kaos saya dan kaos Belvina serta BH-nya sehingga saya dan anak gadis saya bertelanjang bulat.

Saya menjilat serambi lempit Belvina lagi dan mengocok rudal saya sampai air kenikmatan saya sudah terasa di pangkal rudal saya, lalu saya naik ke tempat tidur menyumbat lubang serambi lempit Belvina dengan kepala rudal saya yang berwarna sangat merah itu. Saya menindih Belvina, saya menghisap puting teteknya yang kecil sembari saya menggoyang-goyang rudal saya di lubang serambi lempitnya yang sempit dan ketat.

Hanya kepala rudal saya yang masuk, lalu saya menyemburkan air kenikmatan saya. Crroott…. crroott… crroottt…. Belvina memeluk saya erat-erat. “Oohhh…. Papp…paahhhh… mau pipisss…” erangnya.

Saya tidak menanggapi Belvina. Saya mencium bibirnya sampai rudal saya terkulai dan serambi lempit Belvina dibajiri dengan air kenikmatan saya. Entahlah apa setetes atau dua tetes air kenikmatan saya sempat menembus ke rahimnya atau tidak.

Bersambung…

Komentar

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel