4some

4some

Ini cerita modifikasi q lagi. Bisa dibuat jadi lanjutan crita Kompaknya majikan dan housekeeper yang blon lama aq posting. Dalam crita ini covid dianggep gak ada ya gaes.

Satu hari hpku ada yg kirim message, ternyata dari om Ahmed, “apa kabarnya cantik”. “Baek2 aja om”. “Kangen ni ma Inez”. “Kangen ma Inez atau pengen menggenjotin Inez lagi”, jawabku to the point. “Ya dua2nya lah. Aku mo bikin bercinta party Nez, bintang tamunya kamu ya, mau gak digilir 3 lelaki gantian”. gak kerasa merinding juga baca mo dientot gantian ma 3 lelaki. “Kok gak ajak bu Sintia om, tempo ari kan ngegeilir bu Sintia”. “Pengennya ngegeilir kamu Nez, mau ya, nti aku kasi tau temen2ku. Bikinnya dirumahku aja” “Inez si mau aja, tapi om minta ijin ke bu Sintia”. “Udah Nez”. “Trus bu Sintia gak pengen ikutan dientot?” “Dia ngarep si, tapi aku jawab, kan ada suaminya, ya menggenjotin kamu aja yang masi bujing”. “Bujing paan tu om”. “Kalo lelaki kan bujangan, kalo prempuan ya harusnya bujingan kan”, aku senyum baca messagenya, bisa juga ngelucu ni lelaki rudal jumbo. “Iya om, yang bareng bu Sintia, Inez blon puas tu kerna bu Sintia yg om entotin trus”. “Ya namanya majikan Nez, makanya skarang ma kamu aja biar bisa menggenjotin kamu sepuasnya”. “Ya kalo bu Sintia dah ngijinin Inez mah pasrah aja mo diapain ma om juga”. “Nti aku kabarin waktunya ya Nez”.

Pada hari yang dah dijanjiin, aku dah ada dirumah om Ahmed, bu Sintia cuma bilang, “enjoy deh Nez”. Ke suaminya aku pamit bilang mo maen rumah temen. Suaminya mah cuek banget, ke bininya ja gak perhatian palagi ke aku, tapi gak tau juga si dia pengen gak kalo aku ajak menggenjot, hihi berhayal jadinya, padahal dah ada om Ahmed yang rudalnya jumbo, palagi ni mo digilir 3 lelaki, kurang apa lagi. Kebayang kaya apa lemesnya tu.”temen2 om kmana”. “Nti nyusul Nez, aku duluan lah yg dapet giliran pertama, dan nanti yang terakhir”. “Kok terkahir om”. “Iya abis mreka menggenjotin kamu kan mreka pulang. Na kembali giliranku kan menggenjotin kamu lagi sampe lemes”.

om Ahmed langsung ja mencium aku dikamar, awalnya kecupan lembut yang kemudian berubah menjadi lumatan. Adegan ciuman itu bertambah panas, kami saling memagut dan bergulingan, om Ahmed menjilati telinga dan leherku sementara tangannya menyusup kedalam t-shirt meremas-remas toketku, aku mendesah. disibakkannya t-shirtku dan lidahnya menjalar dan meliuk-liuk di pentilku, dia terus ja menghisap dan meremas toketku. Setelah itu tangannya mulai merayap kebawah, mengelus-elus selangkanganku yang tertutup g-string. “Wah bercintay banget cdnya Nez”. “Iya om, dikasi ma bu Sintia, katanya kalo mo menggenjot ma om disuru pake, om napsu gak liatnya”. “Liat kamu masi pakean utuh ja dah napsu Nez, palagi kalo cuma pake bra ma gstring gini”.

om Ahmed membuka t-shirt dan celana pendekku dan kembali menikmati toketku, perlahan mulutnya merayap makin kebawah. Ia mengecup gundukan diantara pahaku sekaligus menarik turun g-stringnya. om Ahmed membuka kedua pahaku dan mulai mengecup serambi lempitku dan dijilati. Tubuhku bergetar merasakan lidah om Ahmed. “Agghh..om.. oohh.. enakk.. om” Tubuhku setengah melonjor di ranjang dengan kaki menapak kelantai, om Ahmed berlutut dilantai dengan badan berada diantara kedua kakiku. Mulutnya mengulum-ngulum serambi lempitku, tak lama kemudian om Ahmed meletakkan kedua kakiku dibahunya dan kembali menyantap serambi lempitku. Tak ayal lagi aku kelojotan diperlakukan seperti itu. “Ssshh.. sshh.. aahh” desisku. “Oohh..om.. nikmat sekalii.., Gigit..om..pliiiisss.. gigitt. Auuwww.. pelan om gigitnyaa”. Satu tanganku mencengkram kepala om Ahmed, tangan lainnya meremas toketku sendiri serta memilin pentilnya.

Beberapa saat kemudian kami berganti posisi, aku yang berlutut di lantai, cd om Ahmed kulepas, “Ih gedenya om, kayanya makin gede ya om”. “Ah itu kan perasaan kamu aja ngeliatnya”. mulutku langsung mengulum rudal om Ahmed, kepalaku turun naik, tanganku mengocok batang rudal om Ahmed, sesekali kujilati bagai menikmati es loli. Setiap gerakan kepalaku sepertinya memberikan sensasi yang luar biasa bagi om Ahmed. “Aaahh..aauugghh.. teruss Nez” desah om Ahmed, “Ohh..enakk sekalii”. Suara desahan dan erangan om Ahmed membuat aku tambah bernafsu melumat rudalnya. “Ohh..Nez.. ngga tahann..masukin Nez” pinta om Ahmed.

Aku menyudahi lumatannya dan beranjak keatas, berlutut diranjang dengan pinggul om Ahmed berada diantara pahaku, tanganku menggapai batang rudal om Ahmed, kuarahkan kemulut serambi lempitku dan kubenamkan. “Aaagghh”, kami sama2 melenguh panjang merasakan kenikmatan gesekan pada bagian sensitif masing-masing. Dengan kedua tangan berpangku pada pahanya aku mulai menggerakan pinggulnya mundur maju, karuan saja om Ahmed mengeliat merasakan rudalnya diurut serambi lempitku. Sebaliknya, rudal om Ahmed yang menegang keras kurasakan menggaruk serambi lempitku. Suara desahan, desisan dan lenguhan saling bersaut manakala kami sedang dirasuk kenikmatan.

Setelah berlangsung beberapa saat om Ahmed mengganti posisi, aku direbahkannya diranjang dan dia merangkak naik keatas tubuh ku. rudalnya yang besar terlihat masih ngaceng dengan kerasnya. om Ahmed kemudian menopang tubuhnya dengan satu tangan, sementara tangan lain memegang rudalnya. om Ahmed mengarahkan rudalnya ke me mekku, digosokkannya ujung rudalnya di me mekku. “oohh.. aahh” aku mendesah. om Ahmed langsung menekan pinggulnya, ujung rudalnya tenggelam dalam serambi lempitku. “Aakhh.. om..eengghh” erangku cukup keras. om Ahmed lebih merunduk lagi dengan sikut menahan badan, perlahan pinggulnya bergerak turun naik serta mulutnya dengan rakus melumat toketku. “Teruss.. om.. enak banget.. ohh.. isep yang kerass om”, aku meracau. “Aku suka sekali toket kamu Nez.. mmhh”. “Kecil gitu kok suka si om, isep terus om..ahh”, aku membusungkan dadaku membuat om Ahmed bertambah mudah melumatnya. om Ahmed merebahkan badannya menindihku dan memeluk seraya melumat mulut, leher dan telingaku. om Ahmed menekan pinggulnya, rudalnya melesak masuk ke dalam serambi lempitku. “Auuwww.. om”, desahku. om Ahmed terus menekan lebih dalam lagi.

Seluruh rudal om Ahmed telah terbenam di dalam serambi lempitku. Beberapa saat om Ahmed tidak bergerak, ia mengecup leher, pundak dan akhirnya toket ku kembali jadi bulan-bulanan lidah dan mulutnya. Perlakuan om Ahmed membuat aku melenguh dan mendesah. punggung, pinggang dan pantat om Ahmed tak luput dari remasan tanganku. om Ahmed menggerakkan pinggulnya memutar perlahan dan mulutnya bertambah ganas melahap toket ku yang dihiasi pentil kecil kemerahan. “Uhh.. ohh.. om” desahku, kaki kubuka lebih melebar lagi. Om Ahmed mempercepat gerakan pinggulnya. “Agghh.. ohh.. terus om”, aku meracau merasakan rudal om Ahmed yang berputar di serambi lempitku, kepalaku tengadah dengan mata terpejam, pinggulku turut bergoyang.

Merasakan gerakannya mendapat respon, om Ahmed menarik-memasukan batang rudalnya. “Aaauugghh.. sshh.. om.. ohh.. om”, desahku lagi. Pinggul om Ahmed yang turun naik dan kakiku yang terbuka lebar membuat rudal besarnya terus memompa serambi lempitku dengan ganasnya. “Adduuhh.. om..nikmat sekalii”, desahku seraya memeluk om Ahmed. Pantatku bergoyang mengikuti irama hentakan-hentakan turun-naik pantat om Ahmed. “Enaak Nez.. terus goyang.. uhh.. eenngghh”, merasakan goyangan ku, om Ahmed semakin mempercepat hujaman rudalnya. “Ahh.. aahh.. om.. teruss.. om” pekikku.

Semakin liar kami bergumul, keringat membanjir menyelimuti tubuh ku padahal ac di kamar disetel dingin banget. “om.. tekan om.. uuhh.. Inez mau ke.. kelu.. aarrghh” erangku. om Ahmed menekan pantatnya dalam-dalam dan tubuh kami pun mengejang bareng. Kerasa banget pejunya nyembur2 di serambi lempitku, nambah kenikmatan buat aku. Gema erangan kenikmatan memenuhi seantero kamar dan kemudian kami terkulai lemas. “Nez, nikmat banget deh menggenjotin kamu, bis ini giliran temen2ku ya, aku mo pergi dulu, nti subuh ku balik lagi mo menggenjotin kamu lagi ya”. Aku cuma ngangguk lemes, wah kerja keras ya aku malem ni.

Dikamar aku akhirnya ketiduran, lemes kena udara dingin dari ac bikin aku ngantuk. Om Beni dan Dodi dateng waktu aku masi ketiduran. Aku kebangun kerna ranjangnya gerak. om Dodi duduk diseblah aku diranjang, bahuku dipeluknya.”Nez, maen yuk,” bisik om Dodi sambil meremas pundakku. Remasan dan terpaan nafas om Dodi saat berbisik menyebabkan semua bulu tubuhku meremang. om Dodi menarik tanganku meletakan dipahanya ditekan sambil diremasnya, tak ayal lagi tanganku jadi meremas pahanya. “Remas paha aku Nez,” bisik om Dodi lagi. merasakan paha om Dodi dalam remasanku membuat darahku berdesir keras. Merasa mendapat angin, om Dodimelepaskan rangkulannya dan memindahkan tangannya di atas pahaku, awalnya masih dekat dengkul lama kelamaan makin naik, setiap gerakan tangannya membuatku merinding. Entah bagaimana mulainya tanpa kusadari tangan om Dodi sudah berada dipaha dalamku, tangannya mengelus dengan halus, rasa geli-geli enak yang timbul begitu kuatnya, membuatku membiarkan kenakalan tangan om Dodi yang semakin menjadi-jadi. “Nez, aku suka deh liat leher sama pundak kamu” bisik om Dodi seraya mengecup pundakku. Aku menjadi makin terbuai karena kecupannya itu. om Dodi terus mengecup, bahkan semakin naik keleher, “om.. ahh” desahku tak tertahan lagi. “Enjoy aja Nez” bisik om Dodi lagi, sambil mengecup dan menjilat daun telingaku. “Ohh om” aku medesah. Aku hanya mampu tengadah merasakan kenikmatan mulut om Dodi di leher dan telingaku.

Om Beni yang sedari tadi asik nonton melihatku seperti itu tidak tinggal diam, ia pun mulai turut melakukan hal yang sama. dia pun duduk diseblah satunya lagi di ranjang. Pundak, leher dan telinga sebelah kiriku jadi sasaran mulutnya. Melihat aku sudah pasrah mereka semakin agresif. Tangan om Dodi semakin naik hingga akhirnya menyentuh serambi lempitku. Elusan di serambi lempitku, remasan om Beni di toketku dan kehangatan mulut mereka dileherku membuat birahiku menggelegak lagi. “Agghh.. om.. ohh.. sshh” desahanku bertambah keras. om Beni langsung melahap toketku dengan rakus. om Dodi juga beraksi meraba serambi lempitku yang sudah basah oleh cairan pelicin. Aku jadi tak terkendali dengan serangan mereka tubuhku bergelinjang keras. “Emmhh.. aahh.. ohh.. aagghh” desahanku berganti menjadi erangan. om Beni melumat bibirku dengan bernafsu lidahnya menerobos kedalam rongga mulutku, lidah kami saling beraut, mengait dan menghisap dengan liarnya.

Sementara om Dodi menjilat-jilat pahaku lama kelamaan semakin naik dan akhirnya sampai di serambi lempitku, lidahnya bergerak liar di itilku, bersamaan dengan itu om Beni pun sudah melumat toketku, pentilku yang kemerahan jadi bulan-bulanan bibir dan lidahnya. Diperlakukan seperti itu membuatku kehilangan kesadaran, aku terlena dibawah kenikmatan hisapan mereka. Bahkan aku mulai meremas punggung om Beni, kujambak rambutnya dan merengek meminta mereka untuk tidak berhenti melakukannya. “Aaahh.. om.. teruss..sshh.. enakk sekalii” “Nikmat ya Nez,” bisik om Beni seraya menjilat telingaku. pinggul kuangkat, ingin om Dodi melakukan lebih dari sekedar menjilat, ia memahami, disantapnya serambi lempitku dengan menyedot-nyedot sampe serambi lempitku menjadi semakin basah oleh ludahnya dan cairanku. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan kenikmatan itu semakin memuncak, tubuhku menegang, kupeluk om Beni-yang sedang menikmati pentilku dengan kuatnya. “Aaagghh.. om.. Inez..oohh” jeritku keras, dan merasakan hentakan kenikmatan didalam me mekku. Tubuhku melemas, lungai. om Dodi dan om Beni menyudahi hidangan pembukanya, dibiarkan tubuhku beristirahat sambil memejamkan mata kuingat-ingat apa yang baru saja kualami. Permainan om Beni di tetek dan om Dodi di serambi lempitku yang menyebarkan kenikmatan banget.

Cerita Sex Dewasa - 4some
tiba-tiba kurasakan hembusan nafas ditelingaku, bibir dan lidah om Beni mulai lagi, tapi kali ini tubuhku seperti di gelitiki ribuan semut, ternyata om Beni sudah polos dan bulu-bulu lebat di tangan dan dadanya menggelitiki tubuhku. Begitupun om Dodi sudah bugil, ia membuka kedua pahaku lebar-lebar dengan kepala sudah berada diantaranya. Mataku terpejam, Gairahku bangkit merasakan lidah om Dodi menjalar dibibir serambi lempitku ditambah lagi om Beni yang dengan lahapnya menghisap pentilku membuat tubuhku mengeliat merasakan geli dan nikmat dikedua titik sensitif tubuhku. “Aaahh.. om..nngghh.. aaghh” rintihku tak tertahankan lagi. om Dodi kemudian mengganjal pinggulku dengan bantal sehingga pantatku menjadi terangkat, lalu kembali lidahnya bermain diserambi lempitku. Kali ini ujung lidahnya sampai masuk kedalam liang serambi lempitku, bergerak liar diantara serambi lempit dan lubang pantatku, seluruh tubuhku bagai tersengat aliran listrik. aku hilang kendali. Aku merintih, mendesah bahkan menjerit-jerit merasakan kenikmatan yang tiada taranya.

Lalu kurasakan sesuatu yang hangat keras berada dibibirku, rudal om Beni. ia manahan kepalaku dengan tangannya, “Jilat.. Nez”. kujilat batangnya yang besar dan sudah keras itu, om Beni mendesah merasakan jilatanku. “Aaahh.. Nez.. jilat terus.. nngghh” desah om Beni. “Jilat kepalanya Nez” aku menuruti permintaannya. Lidahku berputar dikepala rudalnya membuat om Beni mendesis, “Ssshh.. nikmat sekali Nez.. isep Nez.. isep” pintanya sambil desisannya. kepala rudalnya pertama-tama kumasukan kedalam mulut, om Beni meringis. “Jangan pake gigi Nez.. isep aja” protesnya, sengaja kugigit pelan kepalanya. kuemut lagi, kali ini om Beni mendesis nikmat. “Ya.. gitu Nez.. sshh.. enak.. Nez”, sebagian rudalnya melesak masuk menyentuh langit-langit mulutku.

Sementara itu om Dodi yang tiada hentinya menjilati me mekku. Aku semakin binal karena napsu yang berkobar, kukocok rudal om Beni yang separuhnya berada dalam mulutku. Beberapa saat kemudian om Beni mempercepat gerakan pinggulnya dan menekan lebih dalam batang rudalnya, tanganku tak mampu menahan laju masuknya kedalam mulutku. Aku menjadi gelagapan, ku geleng-gelengkan kepalaku hendak melepaskan rudal panjang itu tapi malah berakibat sebaliknya, gelengan kepalaku membuat rudalnya seperti dikocok-kocok. Om Beni bertambah beringas mengeluar-masukan rudalnya dan.. “Aaagghh..nikmatt.. Nez.. aku.. kkeelluaarr” jerit om Beni, pejunya menyembur keras didalam mulutku membuatku tersedak, sebagian meluncur ke tenggorokanku sebagian lagi tercecer keluar dari mulutku. Aku sampai terbatuk dan meludah membuang sisa yang masih ada dimulutku. om Dodi tidak kuhiraukan aku langsung duduk bersandar menutup dadaku dengan bantal sofa. “Gila om Beni..kira-kira dong” celetukku sambil bersungut-sungut. “Sorry Nez.. ngga tahan..abis isepan kamu enak banget” jawab om Beni dengan tersenyum.

“Udah Nez santai aja lagi,” sela om Dodi seraya mengambilkan aku minum dan membersihkan sisa peju dari mulutku. om Dodi memelukku dengan lembut. Dikecupnya keningku, hidungku dan bibirku. Kecupan dibibir berubah menjadi lumatan semakin memanas, kami pun saling memagut, lidah om Dodi menerobos mulutku, aku terpancing untuk membalasnya. Ohh.. sungguh luar biasa permainan lidahnya, leher dan telingaku kembali menjadi sasarannya membuatku sulit menahan desahan kenikmatan yang begitu saja meluncur keluar dari mulutku. om Dodi merebahkan tubuhku kembali diranjang, pentilku dihisap dan satunya lagi dipilin. Dari toket kiriku tangannya melesat turun keserambi lempitku, dielus-elusnya itil dan bibir serambi lempitku. Tubuhku langsung mengeliat-geliat merasakan kenakalan jari om Dodi. “Ooohh.. mmppff.. ngghh.. sshh” desisku tak tertahan. “Teruss.. om.. aakkhh”. Aku menjadi lebih menggila waktu om Dodi mulai memainkan lagi lidahnya di serambi lempitku, kedua tanganku meremas-remas toketku sendiri. “Ssshh.. nikmat om..mmpphh” desahanku semakin menjadi-jadi.

Tak lama kemudian om Dodi merayap naik keatas tubuhku, om Dodi membuka lebih lebar kedua kakiku, dan kemudian kurasakan ujung rudalnya yang besar menyentuh mulut serambi lempitku yang sudah basah. “Aauugghh.. om” jeritku lirih, saat kepala rudalnya melesak masuk kedalam rongga serambi lempitku. om Dodi menghentikan dorongannya, sesaat ia mendiamkan kepala rudalnya dalam serambi lempitku. Kemudian-masih sebatas ujungnya-secara perlahan ia mulai memundur-majukannya. pinggulku mengeliat mengikuti tusukan om Dodi. “Ooohh.. om.. sshh.. aahh.. enakk om” desahku lirih. Aku benar-benar tenggelam dalam kenikmatan yang luar biasa akibat gesekan di me mekku. Mataku terpejam-pejam kadang kugigit bibir bawahku seraya mendesis. “Enak.. Nez,” tanya om Dodi berbisik. “He ehh om.. oohh enakk.. om.. sshh”. “Nikmatin Nez.. nanti lebih enak lagi” bisiknya lagi. “Ooohh.. om.. ngghh.” om Dodi terus menggerakkan pinggulnya turun-naik-tetap sebatas ujung rudalnya-dengan ritme yang semakin cepat. Selagi aku terombang ambing dalam buaian birahi, tiba-tiba om Dodi menekan rudalnya lebih dalam membelah serambi lempitku. “Auuhh.. enak om,” desahku lagi. om Dodi menghentikan tekanannya seraya menjilat dan menghisap telingaku. aku mulai merasakan nikmatnya milik om Dodi yang keras dan hangat didalam rongga serambi lempitku. om Dodi kemudian menekan lebih dalam lagi, membenamkan seluruh batang rudalnya dan mengeluar-masukannya.

Gesekan rudalnya dirongga serambi lempitku menimbulkan sensasi yang luar biasa! Setiap tusukan dan tarikannya membuatku menggelepar-gelepar. “Ssshh.. ohh.. ahh.. enakk om.. empphh” desahku tak tertahan. “Ohh..Nez.. enak banget serambi lempit kamu.. oohh” puji om Dodi diantara lenguhannya. “Agghh.. terus om.. teruss” aku meracau tak karuan merasakan nikmatnya hujaman kon tol om Dodi diserambi lempitku. Peluh mulai menetes membasahi tubuh. Jeritan, desahan dan lenguhan mewarnai pergumulan kami. Menit demi menit rudal om Dodi menebar kenikmatan ditubuhku. Magma birahi semakin menggelegak sampai akhirnya tubuhku tak lagi mampu menahan letupannya. “om ..oohh.. tekan om.. agghh.. nikmat sekali om” jeritan dan erangan panjang terlepas dari mulutku. Tubuhku mengejang, kupeluk om Dodi erat-erat, magma birahiku meledak, mengeluarkan cairan kenikmatan yang membanjiri relung-relung serambi lempitku. Tubuhku terkulai lemas, tapi itu tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian om Dodi mulai lagi memacu gairahku, hisapan dan remasan didadaku serta pinggulnya yang berputar kembali membangkitkan birahiku. Lagi-lagi tubuhku dibuat mengelepar-gelepar. Tubuhku dibolak-balik, setiap posisi memberikan sensasi yang berbeda. Entah berapa kali serambi lempitku berdenyut-denyut mencapai klimaks tapi om Dodi sepertinya belum ingin berhenti menjarah tubuhku.

Selagi posisiku di atas om Dodi, om Beni yang sedari tadi hanya menonton serta merta menghampiri kami, dengan berlutut ia memelukku dari belakang. Leherku dipagutnya seraya kedua tangannya memainkan toketku. Apalagi ketika tangannya mulai bermain-main diitilku membuatku menjadi tambah bernapsu. Kutengadahkan kepalaku bersandar pada pundak om Beni, mulutku yang tak henti-hentinya mengeluarkan desahan dan lenguhan langsung dilumatnya. Pagutan om Beni kubalas, kami saling melumat, menghisap dan bertukar lidah. Pinggulku semakin bergoyang berputar, mundur dan maju dengan liarnya. Aku begitu menginginkan rudal m Dodi mengaduk-aduk seluruh isi rongga serambi lempitku yang meminta lebih dan lebih lagi. “Aaargghh.. Nez.. enak banget.. terus Nez.. goyang terus” erang om Dodi. Erangan om Dodi membuat gejolak birahiku semakin menjadi-jadi, kuremas toketku sendiri yang ditinggalkan tangan om Beni.. Ohh aku sungguh menikmati semua ini. om Beni yang merasa kurang puas meminta merubah posisi. om Dodi baring di pinggir ranjang dengan kaki menjulur dilantai, Akupun merangkak kearah batang rudalnya. “Isep Nez” pinta om Dodi, segera kulumat rudalnya dengan rakus. “Ooohh.. enak Nez.. isep terus”

Bersamaan dengan itu kurasakan om Beni menggesek-gesek bibir serambi lempitku dengan kepala rudalnya. Tubuhku bergetar hebat, saat batang rudal om Beni-yang besar dengan perlahan menyeruak menembus bibir serambi lempitku dan terbenam didalamnya. Tusukan-tusukan rudal om Beni serasa membakar tubuh, birahiku kembali menggeliat keras. Aku menjadi sangat binal merasakan sensasi erotis dua batang rudal didalam tubuhku. Batang rudal om Dodi kulumat dengan sangat bernafsu. “Nez.. terus Nez.. aku ngga tahan lagi.. Aaarrgghh” erang om Dodi. Aku tahu om Dodi akan segera menumpahkan pejunya dimulutku, aku lebih siap kali ini. Selang berapa saat kurasakan semburan-semburan hangat peju om Dodi. “Aaagghh.. nikmat banget Nez.. isep teruss.. telan Nez” jerit om Dodi, kuhisap rudalya yang menyemburkan cairan hangat dan kutelan cairan. Kulumat terus itu hingga tetes terakhir dan benda keras itu mengecil.. lemas.

om Dodi beranjak meninggalkan aku dan om Beni, hujaman rudal om Beni yang begitu bernafsu dalam posisi doggy dapat membuatku kembali merintih-rintih. Apalagi ditambah dengan elusan Ibu jarinya dipantatku. Bukan hanya itu, setelah diludahi om Beni bahkan memasukan Ibu jarinya di lubang pantatku. Aku hanya bisa mendesah desah, “engghh.. yang keras om.. mmpphh…Enak banget om.. aahh.. oohh.” Mendengar eranganku om Beni tambah bersemangat menggedor kedua lubangku, Ibu jarinya kurasakan tambah dalam menembus pantatku, membuatku tambah lupa daratan.Sedang asiknya menikmati, om Beni mencabut rudal dan Ibu jarinya. “om .kenapa dicabutt” protesku. “Masukin lagi om.. pliiiis”. Sebagai jawaban aku hanya merasakan ludah om Beni berceceran di lubang pantatku, tapi kali ini lebih banyak. Dia mulai menggosok kepala rudalnya dilubang pantatku, ada rasa geli-geli enak kala ia melakukan hal itu. dengan sodokan jarinya di me mekku tiba-tiba kurasakan kepala rudalnya sudah menembus pantatku.

Perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit batang rudalnya membelah pantatku dan tenggelam habis didalamnya. Dia mencium punggung dan satu tangannya lagi mengelus-itilku. Separuh tubuhku yang tengkurap diranjang, akumencengram dan mengigit bantal untuk mengurangi rasa sakit. Berangsur-angsur rasa sakit itu hilang, aku bahkan mulai menyukai batang keras om Beni yang menyodok-nyodok pantatku. Perlahan-lahan perasaan nikmat mulai menjalar disekujur tubuhku. “Aaahh..aauuhh.. oohh om” erangku setiap disodok rudal om Beni yang besar itu. om Beni dengan buasnya menghentak- hentakan pinggulnya. Semakin keras om Beni menghujamkan rudalya semakin aku terbuai dalam kenikmatan.

om Dodi yang sudah pulih dari istirahatnya tidak ingin hanya menonton, ia kembali bergabung. Membayangkan akan dijarah lagi oleh mereka menaikan tensi gairahku. om Dodi merebahkan diri terlentang ditempat tidur dengan kepala beralas bantal, tubuhku ditarik menindihinya. Sambil melumat mulutku yang segera kubalas dengan bernafsu,ia membuka lebar kedua pahaku dan langsung menancapkan rudalnya kedalam serambi lempitku. om Beni yang berada dibelakang membuka belahan pantatku dan meludahinya. Menyadari apa yang akan mereka lakukan menimbulkan getaran birahi yang tak terkendali ditubuhku. Sensasi bercintaual yang luar bisa hebat kurasakan saat rudal mereka yang keras mengaduk-aduk rongga serambi lempit dan pantatku. Hentakan-hentakan milik mereka dikedua lubangku memberi kenikmatan yang tak terperikan.

om Beni yang sudah lelah berlutut meminta merubah posisi, ia mengambil posisi tiduran, tubuhku terlentang diatasnya, rudalnya tetap berada didalam pantatku. om Dodi langsung membuka lebar-lebar kakiku dan menghujamkan rudalnya diserambi lempitku yang terpampang menganga. Posisi ini membuatku semakin menggila, karena bukan hanya kedua lubangku yang digarap mereka tapi juga toketku. om Beni dengan mudahnya memagut leherku dan satu tangannya meremas toketku, om Dodi melengkapinya dengan menghisap pentilku. Aku sudah tidak mampu lagi menahan deraan kenikmatan yang menghantam sekujur tubuhku. Hantaman-hantaman om Dodi yang semakin buas dibarengi sodokan om Beni, sungguh tak terperikan rasanya. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu didalam me mekku akan meledak, keliaranku menjadi-jadi. “Aaagghh.. ouuhh.. om.. tekaann” jerit dan erangku tak karuan.

Dan tak berapa lama kemudian tubuhku serasa melayang, kucengram pinggul om Dodi kuat-kuat, kutarik agar batangnya menghujam keras diserambi lempitku. Jeritanku, lenguhan dan erangan mereka menjadi satu. “Aduuhh.. om.. nikmat sekalii.” “Aaarrghh.. Nez.. enakk bangeett.” Keduanya menekan dalam-dalam milik mereka, cairan hangat menyembur hampir bersamaan dikedua lubangku. Tubuhku bergetar keras didera kenikmatan yang amat sangat dahsyat, tubuhku mengejang berbarengan dengan hentakan-hentakan diserambi lempitku dan akhirnya kami terkulai lemas. Aku terkapar diranjang saat kedua om itu meninggal rumah om Ahmed.

Aku tertidur kecapean, sampe om Ahmed bangunin aku. Kuliat dia dah bugil dengan rudal besarnya yang dah ngaceng, segera aku digarapnya dengan ganasnya. Sepanjang sisa malam tak henti-hentinya dia melampiaskan napsunya ke aku sampai akhirnya kami berdua terkapar kelelahan.

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel