Rahasia Tip Besar dari Pak Frans

Rahasia Tip Besar dari Pak Frans

Saya bekerja di sebuah salon kecantikan yang terletak di kompleks perkantoran besar. Kompleks ini juga memiliki supermarket tiga lantai, dengan lantai teratas sebagai area makanan. Salon tempat saya bekerja berada di samping sebuah restoran, tepat di dekat pintu keluar kompleks. Tugas utama saya adalah mencuci rambut dan memberikan perawatan krim rambut (creambath). Sebagai karyawan baru, saya biasanya mengerjakan tugas-tugas yang lebih ringan.

Suatu hari, saya melayani seorang pelanggan pria yang berusia sekitar tiga puluhan. Beliau tampak sangat menarik. Untungnya, beliau memesan potong rambut dan creambath, sehingga saya berkesempatan untuk mencuci rambutnya sebelum stylist memotong rambutnya. Setelah potong rambut selesai, saya yang menangani creambath. Karena salon sedang ramai, saya menggunakan meja tambahan yang terletak agak terpisah dari meja perawatan lainnya. Selama perawatan, beliau memulai percakapan yang ramah.

“Nama kamu siapa?” tanyanya.

“Memes, Pak,” jawab saya.

“Kok Pak? Membuatku merasa tua sekali,” katanya sambil tersenyum.

“Lalu bagaimana, Bang?,” sahut saya. Logatnya terdengar sedikit asing bagi saya.

“Kamu yang paling muda di sini, ya?” tanyanya lagi.

Cerita Sex Dewasa - Rahasia Tip Besar dari Pak Frans
“Iya, Bang. Saya masih junior,” jawab saya.

“Tapi creambath-nya enak,” pujinya.

“Terima kasih, Bang,” kata saya, merasa sedikit malu.

Percakapan berlanjut dengan beberapa pujian yang membuat saya agak salah tingkah. Ia kemudian menanyakan jam pulang saya, dan secara halus menawarkan untuk mengantar saya pulang. Saya hanya tersenyum sebagai jawaban. Setelah perawatan selesai, saya menerima tip yang sangat besar, jauh lebih banyak dari biasanya.

“Terima kasih banyak, Bang. Eh, nama Bang siapa ya?” tanyaku.

“Frans,” jawabnya sambil berlalu meninggalkan salon. Karena kesibukan di hari itu, saya sampai lupa untuk mengingat detail percakapan kami.

Ketika pulang kerja dan melewati restoran di ujung kompleks, saya tiba-tiba mendengar...

dìndìng kaca restonya dìketuk-ketuk. Aku menoleh, kulìhat bang Frans senyum sambìl manggìl aku ayunan tangannya. aku masuk ke resto ìtu dan duduk dìseblahnya. “Mes, mo makan apa neh”. “wah abang beneran neh mo nganterìn Memes pulang?’ “Makan dulu lah”. Aku pesen ja makanan yang aku rasa enak, harga gak kulìhat lagì, pastì dìbayarìn sì abang. Sambìl makan sì abang senyum ngelìatìn aku terus. “Betul kan, kamu tu cantìk lo Mes”. “abang neh, gak brentìnya mujì Memes, cuma pakai baju kumel gìnì ja dìbìlang cantìk”. “Ya udah, abìs makan aku belììn kamu pakaian ya”. “Bener bang?” Dìa membuat ganguank. Pesenanku dateng dan aku mulaì menyantap makanan lahap, enak banget terasa, palagì dìbayarìn. Kalo bayar ndìrì mah mìkìn sejuta kalì makan dìsìtu gara-gara harga makanannya mahal2. Habìs makan, aku dìajaknya ke mal yang mempunyai letak gak jauh darì komplex perkantoran. Aku membìarkan tanganku dìbersama sì abang. Bangga lagì jalan ma lelakì ganteng kaya sì abang, mana dìbersama2 lagì. Kìta masuk ke dept store yang ada dì mal. “Mes kamu pìlìh deh mo belì pakaian apa”. “Beneran nìh mo belììn Memes pakaian, abang baek banget sìh”. Aku melakukan dugaan pastì ada bakwan dìbalìk udang, tapì egp ja lah, yang pentìng kan dìblanjaìn, lagìan sì abang ganteng banget. Gak rugì deh dìentot ma dìanya. Aku belì jìns, tanktop, trus aku nanya, “Daleman bole belì bang”. “Bole bangetz, belì yang bercintaì-bercintai Mes”. Aku belì g strìng dan bra yang tìpìs, kalo ampe dìa ngajakìn maen, aku mo pakai tu lìngerìe. Selesai blanja, aku digandengnya menuju basement, parkiran. “Kamu mesti pulang cepet Mes”. “Mangnya abang mo ajak Memes kemana, Memes kos kok bang, gak da yang nungguin”. “Ketempatku yuk”. “Mo ngapain bang”. “Kita ngobrol santai ja, kamu besok kerja gak”. “Besok giliran aku off bang”. Aku masuk ke mobilnya. Dalam perjalanan pulang, kami ngobrol ngalor ngidul. aku open aja kedianya. Aku crita petualangan bercintaku dengan lelaki yang sudah bukan abg lagi. Aku bilang sudah sebulan ini aku gak kencan ama lelaki. “Wah, kalo gitu kamu dah nafsu banget dong Mes. Aku kan sudah gak termasuk abg, jadi boleh dong ikut dalam petualangan Memes”. “Bisa diatur kok bang”. Selama perjalanan, dia mengelus pahaku dari luar jeans ketatku tentunya. “Ih, si abang, dah nafsu sama Memes ya”. “Kalo nafsu sih dari tadi Mes”. “Kalo dah nafsu artinya dah ngaceng ya bang”, kataku sambil mengelus selangkangannya. “Ih, kayanya besar ya bang, keras lagi”, aku mulai meremas selangkangannya. “Memes mo liat duluan, buka aja ritsluitingnya”. Aku segera menurunkan ritsluiting celananya dan tanganku masuk ke dalam cdnya merogoh rudalnya. “Ih besar banget bang, panjang lagi. Memes belum pernah ngerasain yang sebesar dan sepanjang ini”, kataku sambil mengeluarkan rudalnya. Segera kukocok2nya batangnya. Lalu aku menunduk dan mengemut kepala rudalnya. “Mes, diisep sampe aku ngecret dong”. “Tempatnya sempit bang, Memes kocok aja yach. non0k Memes jadi basah bang, dah kepingin kemasukan kont0l gede abang”, aku mulai mengocok rudalnya keatas dan kebawah. Dia jadi melenguh kenikmatan. “Masih jauh bang, tempatnya”. “Enggak kok Mes, sebentar lagi sampe”, katanya sambil mempercepat lajunya kendaraan. Tak lama kemudian, sampailah kami di satu rumah. Dia belum ngecret dan aku menyudahi seponganku. “Bang besar banget rumahnya kaya kont0l abang aja besar, punya abang ya”. “Bukan Mes, punya kantor. Ini mes kantor, buat tamu yang perlu nginep. Sekarang lagi kosong, jadi kita pake aja yach”. Kami menuju ke bagian belakang rumah, ada kolam renang disana. Tempatnya teduh karena banyak pepohonan dan tertutup tembok tinggi sehingga gak mungkin ada yang bisa ngintip. Aku duduk didipan dipinggir kolam renang, dia duduk disebelahku. Dia memelukku. Dia mencium pipiku sambil jemarinya membelai-belai bagian belakang telingaku. Mataku terpejam menikmati usapan tangannya. Kupandangi wajahnya yang ganteng dengan hidungnya yangmancung. Tak tahan berlama-lama menunggu akhirnya dia mencium bibirku. Dilumatnya mesra. aku menjulurkan lidahku. Mulutnya terbuka perlahan menerima lidahku. Lama dia mempermainkan lidahku di dalam mulutnya. Lidahnya begitu agresif menanggapi permainan lidahku, sampai-sampai nafas kami berdua menjadi tidak beraturan. Sesaat ciuman kami terhenti untuk menarik nafas, lalu kami mulai berpagutan lagi dan lagi. Dia membelai pangkal lenganku yang terbuka. Dibukanya telapak tangannya sehingga jempolnya bisa menggapai permukaan dadaku sambil membelai pangkal lenganku. Bibirnya kini turun menyapu leherku seiring telapak tangannya meraup toketku. Aku menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Suara rintihan berulang kali keluar dari mulutku di saat lidahnya menjulur menikmati leherku yang jenjang, “baaang….”. Aku memegang tangannya yang sedang meremas toketku dengan penuh nafsu. Bukan untuk mencegah, aku membiarkan tangannya mengelus dan meremas toketku yang montok. “Mes, aku ingin melihat toketmu”, ujarnya sambil mengusap bagian puncak toketku yang menonjol. Dia menatapku. Aku akhirnya membuka tank top ketatku di depannya. D ia terkagum-kagum menatap toketkua yang tertutup oleh BH berwarna hitam. Toketku begitu membusung, menantang, dan naik turun seiring dengan desah nafasku yang memburu. Sambil berbaring aku membuka pengait BH-nya di punggungku. Punggungku melengkung indah. Dia menahan tanganku ketika aku akan menurunkan tali BH-ku dari atas pundakku. Justru dengan keadaan BH-ku yang longgar karena tanpa pengait seperti itu membuat toketku semakin menantang. “Toketmu bagus, Mes”, dia mencoba mengungkapkan keindahan tubuhku. Perlahan dia menarik turun cup BH-ku. Mataku terpejam. Perhatiannya terfokus ke pentilku yang berwarna kecoklatan. Lingkarannya tidak begitu besar sedang ujungnya begitu runcing dan kaku. Diusapnya pentilku lalu dipilin dengan jemarinya. Aku mendesah. Mulutnya turun ingin mencicipi toketku. “Egkhh..” rintihku ketika mulutnya melumat pentilku. Dipermainkannya dengan lidah dan giginya. Sekali-sekali digigitnya pentilku lalu diisap kuat-kuat sehingga membuat aku menarik rambutnya. Puas menikmati toket yang sebelah kiri, dia mencium toketku yang satunya. Rintihan-rintihan dan desahan kenikmatan keluar dari mulutku. Sambil menciumi toketku, tangannya turun membelai perutku yang datar, berhenti sejenak di pusarku lalu perlahan turun mengitari lembah di bawah perutku. Dibelainya pahaku sebelah dalam terlebih dahulu sebelum dia memutuskan untuk meraba serambi lempitku yang masih tertutup oleh celana jeans ketat yang kukenakan. Dia secara tiba-tiba menghentikan kegiatannya lalu berdiri di samping dipan. Aku tertegun sejenak memandangnya. Dia masih berdiri sambil memandang tubuhku yang tergolek di dipan, menantang. Kulitku yang tidak terlalu putih membuat matanya tak jemu memandang. Perutku begitu datar. Celana jeans ketat yang kupakai terlihat terlalu longgar pada pinggangnya namun pada bagian pinggulnya begitu pas untuk menunjukkan lekukan pantatku yang sempurna. Puas memandang tubuhku, dia lalu membaringkan tubuhnya disampingku. Dirapikannya untaian rambut yang menutupi beberapa bagian pada permukaan wajah dan leherku. Dibelainya lagi toketku. Dia mencium bibirku sambil memasukkan air liurnya ke dalam mulutku. aku menelannya. Tangannya turun ke bagian perut lalu membuka kancing celana jinsku dan menurunkan ritsluitingnya, kemudian menerobos masuk. Jemarinya mengusap dan membelai selangkanganku yang masih tertutup CDku. jari tengahnya membelai permukaan CDku tepat diatas serambi lempitku, basah. Dia terus mempermainkan jari tengahnya untuk menggelitik bagian yang paling pribadi tubuhku. Pinggulku perlahan bergerak ke kiri, ke kanan dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang kualami. Dia menyuruhku untuk melepas celana jeans yang kupakai. Aku menurunkan celana jinsku perlahan. CD hitam yang kukenakan begitu mini sehingga jembut keriting yang tumbuh disekitar serambi lempitku hampir sebagian keluar dari pinggir CDku. Dia membantu menarik turun celana jeansku. Aku menaikkan pinggulku ketika dia agak kesusahan menarik celana jeansku. Diapun melepas pakean. Posisi kami kini sama-sama tinggal mengenakan CD. Kami berpelukan. Aku menyentuh rudalnya dari luar CDnya, lalu kuplorotkan CDnya. Langsung rudalnya yang panjangnya kira-kira 18 cm serta agak gemuk kubelai dan kugenggam. “Tangan kamu pintar juga ya, Mes,”´ ujarnya sambil memandang tanganku yang mengocok rudalnya. “Ya, mesti dong!” jawabku sambil cekikikan. Jari-jarinya masuk dari samping CD langsung menyentuh bukit serambi lempitku yang sudah basah. Telunjuknya membelai-belai itilku sehingga aku keenakan. “Diisep lagi Mes. Kan sekarang lebih leluasa” katanya. Aku tertawa sambil mencubit rudalnya. Dia meringis. ” “Nggak muat di mulut Memes, tadi dimobil kan cuma kepalanya yang masuk. Itu juga udah ampir gak muat. gede banget sih rudalnya” selesai berkata demikian aku langsung tertawa kecil. “Kalau yang dibawah, gimana, muat gak?” tanyanya lagi sambil menusukkan jari tengahnya ke dalam serambi lempitku. aku merintih sambil memegang tangannya. Jarinya sudah tenggelam ke dalam liang serambi lempitku. Aku merasakan serambi lempitku berdenyut menjepit jarinya. Segera CDku dilepaskannya. Perlahan tangannya menangkap toketku dan meremasnya kuat. Aku yang sekarang meringis. Kuusap lembut rudalnya yang sudah keras banget. Aku begitu kreatif mengocok rudalnya sehingga dia merasa keenakan. Dia tidak hanya tinggal diam, tangannya membelai-belai toketku yang montok. Dipermainkannya pentilku dengan jemarinya, sementara tangannya yang satunya mulai meraba jembut lebat di sekitar serambi lempitku. Dirabanya permukaan serambi lempitku. Jari tengahnya mempermainkan itilku yang sudah mengeras. rudalnya kini sudah siap tempur dalam genggamanku, sementara serambi lempitku juga sudah mulai mengeluarkan cairan kental karena diobok-obok . Dia memeluk tubuhku sehingga rudalnya menyentuh pusarku. Dia membelai punggungku lalu turun meraba pantatku yang montok. Aku membalas pelukannya dengan melingkarkan tanganku di pundaknya. Dia meraih pantatku, diremasnya dengan sedikit agak kasar lalu dia menaiki tubuhku. Kakiku dengan sendirinya mengangkang. Dia menciumi lagi leherku yang jenjang lalu turun melumat toketku. Dia terus membelai dan meremas setiap lekuk dan tonjolan pada tubuhku. Dia melebarkan kedua pahaku sambil mengarahkan rudalnya ke bibir serambi lempitku. Aku mengerang lirih. Mataku perlahan terpejam. Aku menggigit bibir bawahku untuk menahan laju birahiku yang semakin kuat. Dia menatapku, matanya penuh nafsu. “Aku ingin mengent0ti kamu, Mes” bisiknya pelan, sementara kepala rudalnya masih menempel di belahan serambi lempitku. Kata ini ternyata membuat wajahku memerah. Aku menatapnya sendu lalu mengangguk pelan sebelum memejamkan mataku. Dia berkonsentrasi penuh dengan menuntun rudalnya yang perlahan menyusup ke dalam serambi lempitku. Terasa seret, memang, nikmat banget rasanya. Perlahan namun pasti rudalnya membelah serambi lempitku yang ternyata begitu kencang menjepit rudalnya. serambi lempitku begitu licin hingga agak memudahkan rudalnya untuk menyusup lebih ke dalam. Aku memeluk erat tubuhnya sambil membenamkan kuku-kukuku di punggungnya hingga dia agak kesakitan. Namun aku tak peduli. “Baang, gede banget, ohh..” aku menjerit lirih. Tanganku turun menangkap rudalku. “Pelan bang”. Akhirnya rudalnya terbenam juga di dalam serambi lempitku. Dia berhenti sejenak untuk menikmati denyutan-denyutan yang timbul akibat kontraksi otot-otot dinding serambi lempitku. Denyutan itu begitu kuat sampai-sampai dia memejamkan mata untuk merasakan kenikmatan yang begitu sempurna. Dia melumat bibirku sambil perlahan-lahan menarik rudalnya untuk selanjutnya dibenamkan lagi. Dia menyuruhku membuka kelopak mataku. Aku menurut. Dia sangat senang melihat mataku yang semakin sayu menikmati rudalnya yang keluar masuk serambi lempitku. “Aku suka serambi lempitmu, Mes..serambi lempitmu masih rapet” ujarnya sambil merintih keenakan. “Kamu enak kan, Mes?” tanyanya, lalu kujawab dengan anggukan kecil. Dia menyuruhku untuk menggoyangkan pinggulku. Aku langsung mengimbangi gerakannya yang naik turun dengan goyangan memutar pada pinggangku. “Suka rudalku, Mes?” tanyanya lagi. Aku hanya tersenyum sambil meremas2 rudalnya dengan jepitan serambi lempitku. “Ohh.. hh..” dia menjerit panjang. Rasanya begitu nikmat. Dia mencoba mengangkat dadanya, membuat jarak dengan dadaku dengan bertumpu pada kedua tangannya. Dengan demikian dia semakin bebas dan leluasa untuk mengeluar-masukkan rudalnya ke dalam serambi lempitku. Kuperhatikan rudalnya yang keluar masuk dalam serambi lempitku. Aku semakin melebarkan kedua pahaku sementara tanganku melingkar erat dipinggangnya. Gerakan naik turunnya semakin cepat mengimbangi goyangan pinggulku yang semakin tidak terkendali. “Mes.. enak banget, kamu pintar deh.” ucapnya keenakan. “Memes juga, bang”, jawabku. Aku merintih dan mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Berulang kali aku mengeluarkan kata, “aduh” yang kuucapkan terputus-putus. Aku merasakan serambi lempitku semakin berdenyut sebagai pertanda aku akan mencapai puncak pendakianku. Dia juga merasakan hal yang sama denganku, namun dia mencoba bertahan dengan menarik nafas dalam-dalam lalu bernafas pelan-pelan untuk menurunkan daya rangsangan yang dialaminya. Sepertinya dia tidak ingin segera menyudahi permainan ini hanya dengan satu posisi saja. Dia mempercepat goyangan rudalnya ketika dia menyadari aku hampir nyampe. Diremasnya toketku kuat seraya mulutnya menghisap dan menggigit pentilku. Dihisapnya dalam-dalam. “Ohh.. hh.. baaaang..” jeritku panjang. Dia membenamkan rudalnya kuat-kuat ke serambi lempitku sampai mentok agar aku mendapatkan kenikmatan yang sempurna. Tubuhku melengkung indah dan untuk beberapa saat lamanya tubuhku kejang. Kepalanya kutarik kuat terbenam diantara toketku. Pada saat tubuhku menyentak-nyentak dia tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. “Mes, aakuu.. keluaarr, Ohh..hh..” jeritnya. Aku yang masih merasakan orgasmeku mengunci pinggangnya dengan kakiku yang melingkar di pinggangnya. Saat itu juga dia memuntahkan peju hangat dan kentel dari rudalnya. Kurasakan tubuhku bagai melayang. secara spontan aku menarik pantatnya kuat ke tubuhku. Mulutnya yang berada di belahan dadaku menghisap kuat hingga meninggalkan bekas merah pada kulitku. Dia mencengkram toketku. Diraupnya semuanya sampai-sampai aku kesakitan. Dia tak peduli lagi. Dia juga merasakan nikmat yang tiada duanya ditambah dengan goyangan pinggulku pada saat dia mengalami orgasme. Tubuhnya akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuhku. rudalnya masih berada di dalam nonok ku. aku mengusap-usap permukaan punggungnya. “Memes puas sekali dientot abang”, kataku. Dia kemudian mencabut rudalnya dari serambi lempitku. Aku masuk kembali ke rumah, langsung masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower . Aku membersihkan badanku yang basah karena keringat habis digeluti bang Frans tadi. Setelah aku selesai, ganti dia yang masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ketika dia keluar dari kamar mandi, aku berbaring diranjang telanjang bulat. “Mes, kamu kok mau aku ajak ngent0t”, katanya. “Kan Memes dah lama gak ngerasain nikmatnya kont0l bang, mana kont0l abang besar lagi”, jawabku tersenyum. “Malem ini kita men lagi ya bang”. “Ok aja, tapi sekarang kita cari makan dulu ya, biar ada tenaga bertempur lagi nanti malem”, katanya sambil berpakaian. Aku pun mengenakan pakaiannya dan kita pergi mencari makan malem. Kembali ke rumah sudah hampir tengah malem, tadi kita selain makan santai2 di pub dulu. Di kamar kita langsung melepas pakaian masing2 dan bergumul diranjang. Aku menggenggam rudalnya. Dia melenguh seraya menyebut namaku. Dia meringis menahan remasan lembut tanganku pada rudalnya. Tanganku mulai bergerak turun naik menyusuri rudalnya yang sudah teramat keras. Sekali-sekali ujung telunjukku mengusap kepala rudalnya yang sudah licin oleh cairan yang meleleh dari lubang diujungnya. Kembali dia melenguh merasakan ngilu nikmat akibat usapanku. Kocokanku semakin cepat. Dengan lembut dia mulai meremas-remas toketku. Aku menggenggam rudalnya dengan erat. Pentilku dipilin2nya. Aku masukan rudalnya kedalam mulutku dan mengulumnya. Dia terus menggerayangi toketku, dan mulai menciumi toketku. Nafsuku semakin berkobar. Jilatan dan kulumanku pada rudalnya semakin mengganas sampai-sampai dia terengah-engah merasakan kelihaian permainan mulutku. Dia membalikkan tubuhku hingga berlawanan dengan posisi tubuhnya. Kepalaku berada di bawahnya sementara kepalanya berada di bawahku. Kami sudah berada dalam posisi enam sembilan! Lidahnya menyentuh serambi lempitku dengan lembut. Tubuhku langsung bereaksi dan tanpa sadar aku menjerit lirih. Tubuhku meliuk-liuk mengikuti irama permainan lidahnya di serambi lempitku. Kedua pahaku mengempit kepalanya seolah ingin membenamkan wajahnya ke dalam serambi lempitku. rudalnya kemudian kukempit dengan toketku dan kugerakkan maju mundur, sebentar. Dia menciumi bibir serambi lempitku, mencoba membukanya dengan lidahnya. Tangannya mengelus pahaku bagian dalam. Aku mendesis dan tanpa sadar membuka kedua kakiku yang tadinya merapat. Dia menempatkan diri di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. rudalnya ditempelkannya pada bibir serambi lempitku. Digesek-gesekkannya, mulai dari atas sampai ke bawah. Naik turun. Aku merasa ngilu bercampur geli dan nikmat. serambi lempitku yang sudah banjir membuat gesekannya semakin lancar karena licin. Aku terengah-engah merasakannya. Dia sengaja melakukan itu. Apalagi saat kepala rudalnya menggesek-gesek itilku yang juga sudah menegang. “Baang.?” panggilku menghiba. “Apa Mes”, jawabnya sambil tersenyum melihat aku tersiksa. “Cepetan..” jawabku. Dia sengaja mengulur-ulur dengan hanya menggesek-gesekan kont0l. Sementara aku benar-benar sudah tak tahan lagi mengekang birahiku. “Memes sudah pengen dientot bang”, kataku. Aku melenguh merasakan desakan rudalnya yang besar itu. Aku menunggu cukup lama gerakan rudalnya memasuki diriku. Serasa tak sampai-sampai. Maklum aja, selain besar, rudalnya juga panjang. Aku sampai menahan nafas saat rudalnya terasa mentok di dalam, seluruh rudalnya amblas di dalam. Dia mulai menggerakkan pinggulnya pelan2. Satu, dua dan tiga enjotan mulai berjalan lancar. Semakin membanjirnya cairan dalam serambi lempitku membuat rudalnya keluar masuk dengan lancarnya. Aku mengimbangi dengan gerakan pinggulku. Meliuk perlahan. Naik turun mengikuti irama enjotannya. Gerakan kami semakin lama semakin meningkat cepat dan bertambah liar. Gerakannya sudah tidak beraturan karena yang penting enjotannya mencapai bagian-bagian peka di serambi lempitku. Aku bagaikan berada di surga merasakan kenikmatan yang luar biasa ini. rudalnya menjejali penuh seluruh serambi lempitku, tak ada sedikitpun ruang yang tersisa hingga gesekan rudalnya sangat terasa di seluruh dinding serambi lempitku. Aku merintih, melenguh dan mengerang merasakan semua kenikmatan ini. aku mengakui keperkasaan dan kelihaiannya di atas ranjang. Yang pasti aku merasakan kepuasan tak terhingga ngent0t dengannya. Dia bergerak semakin cepat. rudalnya bertubi-tubi menusuk daerah-daerah sensitiveku. Aku meregang tak kuasa menahan nafsu, sementara dia dengan gagahnya masih mengayunkan pinggulnya naik turun, ke kiri dan ke kanan. Eranganku semakin keras. Melihat reaksiku, dia mempercepat gerakannya. rudalnya yang besar dan panjang itu keluar masuk dengan cepatnya. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat. Aku pun demikian. Aku meraih tubuhnya dankudekap. Kuirengkuh seluruh tubuhnya sehingga dia menindih tubuhku dengan erat. Aku membenamkan wajahku di samping bahunya. Pinggul kuangkat tinggi-tinggi sementara kedua tanganku menggapai pantatnya dan menekannya kuat-kuat. Aku meregang. Tubuhku mengejang-ngejang. “baang..”, hanya itu yang bisa keluar dari mulutku saking dahsyatnya kenikmatan yang kualami bersamanya. Dia menciumi wajah dan bibirku. Aku mendorong tubuhnya hingga terlentang. Aku langsung menindihnya dan menciumi wajah, bibir dan sekujur tubuhnya. Kembali kuemut rudalnya yang masih tegak itu. Lidahku menjilati, mulutku mengemut. Tanganku mengocok-ngocok rudalnya. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, aku langsung berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada lutut dan masing-masing berada di samping kiri dan kanan tubuhnya. serambi lempitku berada persis di atas rudalnya. “Akh!” pekikku tertahan ketika rudalnya kubimbing memasuki serambi lempitku. Tubuhku turun perlahan-lahan, menelan seluruh rudalnya. Selanjutnya aku bergerak seperti sedang menunggang kuda. Tubuhku melonjak-lonjak. Pinggulku bergerak turun naik. “Ouugghh. Mes.., luar biasa!” jeritnya merasakan hebatnya permainanku. Pinggulku mengaduk-aduk lincah, mengulek liar tanpa henti. Tangannya mencengkeram kedua toketku, diremas dan dipilin-pilin. Dia lalu bangkit setengah duduk. Wajahnya dibenamkan ke dadaku. Menciumi pentilku. Dihisapnya kuat-kuat sambil diremas-remas. Kami berdua saling berlomba memberi kepuasan. Kami tidak lagi merasakan panasnya udara meski kamar menggunakan AC. Tubuh kami bersimbah peluh, membuat tubuh kami jadi lengket satu sama lain. Aku berkutat mengaduk-aduk dengan pinggulku. Dia menggoyangkan pantatnya. Tusukan rudalnya semakin cepat seiring dengan liukan pingguku yang tak kalah cepatnya. Permainan kami semakin meningkat dahsyat. Sprei ranjang sudah tak karuan bentuknya, selimut dan bantal serta guling terlempar berserakan di lantai akibat pergulatan kami yang bertambah liar dan tak terkendali. Dia merasa pejunya udah mau nyembur. Dia semakin bersemangat memacu pinggulnya untuk bergoyang. Tak selang beberapa detik kemudian, aku pun merasakan desakan yang sama. Aku terus memacu. sambil menjerit-jerit histeris. Dia mulai mengejang, mengerang panjang. Tubuhnya menghentak-hentak liar. Akhirnya, pejunya nyemprot begitu kuat dan banyak membanjiri serambi lempitku. Aku pun rasanya tidak kuat lagi menahan desakan dalam diriku Sambil mendesakan pinggulku kuat-kuat, aku berteriak panjang saat mencapai puncak kenikmatan berbarengan dengannya. Tubuh kami bergulingan di atas ranjang sambil berpelukan erat. “Baaang., nikmaat!” jeritku tak tertahankan. Aku lemes, demikian pula dia. Tenaga terkuras habis dalam pergulatan yang ternyata memakan waktu lebih dari 1 jam! Akhirnya kami tertidur kelelahan.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel