Rahasia Siswi SMP dan Pamannya

Rahasia Siswi SMP dan Pamannya

Lima belas tahun silam, saat masih duduk di bangku kelas tiga SMP favorit di kota, beban harapan terasa begitu berat dipikul. Sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, jejak sukses kakak-kakakku—seorang dokter umum dan seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri—menciptakan bayang-bayang besar yang harus kukejar. Prestasi akademik menjadi ukuran utama, dan nilai-nilai yang kurang memuaskan selalu berujung pada teguran keras dari orang tua. Kekecewaan mereka terkadang tercurah dalam bentuk hukuman fisik, meninggalkan luka fisik dan emosional yang mendalam. Kesulitan terbesar kuhadapi adalah mata pelajaran sejarah; ketidakmampuan saya menguasainya seringkali memicu kemarahan ayah.

Di tengah badai emosi itu, sosok paman Winata, sepupu ayah yang baru berusia dua puluh enam tahun, selalu hadir sebagai penopang. Ia kerap membela saya dari amarah ayah, namun upaya pembelaannya hanya berbuah teguran lebih keras ditujukan kepadanya juga. Suatu sore, setelah kembali menerima hukuman dari ayah karena nilai sejarah yang buruk, air mata tak terbendung lagi. Di kamarnya, yang bersebelahan dengan kamar saya, saya bercerita tentang perlakuan ayah. Isak tangis menggema di ruangan kecil itu, diselingi ungkapan ketidakberdayaan dan rasa sakit. Paman Winata, dengan lembut, mencoba menenangkan saya, mengatakan kata-kata penghiburan. Rasa sakit yang teramat sangat pada kaki saya, akibat pukulan ayah, mendorong saya untuk menunjukkannya pada paman. Dengan hati yang remuk, saya membuka pakaian hingga terlihat memar di kaki saya. Paman Winata kemudian mengambil pelembab tubuh, dan dengan gerakan lembut, mulai membalurkan dan memijat kaki saya yang lebam, berusaha meredakan rasa sakit yang saya rasakan. Sentuhan lembutnya memberikan sedikit ketenangan di tengah kepedihan yang saya alami. Kedekatan saya dengan Paman Winata sejak kecil, telah menciptakan ikatan yang erat di antara kami berdua...

u kecil, kami tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan paman-kemenakan. Kemudian Oom memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka aku pun mengerang kesakitan.

“Auch Oom sakit sekali punggung Anna” “Coba kamu lepas saja daster nya Anna, biar Oom pijitin juga punggung kamu”

Aku pun mengambil posisi tengkurap ketika Oom Win memijat-memijat punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, terutama karena memang aku adalah remaja puber yang baru saja mendapatkan perubahan-perubahan di tubuhku. Tangannya sesekali menyentil bagian samping payudaraku, dan setiap kali itu pula badanku menyentak-menyentak.

“Kenapa kamu Anna, sakit ya?” “Nggak kok Oom, cuman Anna kaget” “Ooh, itu normal kok, tandanya kamu sudah dewasa”

Pipiku memerah menahan malu, karena ternyata Oom Win mengetahui apa maksudku. Kemudian dengan cepat Oom Win membalikkan badanku dan dia dapat melihat payudaraku yang mulai tumbuh besar dengan pentilnya yang mencuat dibawah miniset yang kupakai karena aku mulai terangsang, terutama karena pandangannya yang menyapu bagian-bagian tertentu dari tubuhku itu.

“Wah Anna, kok susu kamu sudah sebesar itu kamu masih pakai miniset?”

“Iya Oom, habis Anna tidak tahu harus bagaimana” “Besok pulang sekolah ikut Oom yah ke mall kita beli BH buat kamu” “Oom serius?” “Iya, tapi kamu tahu nggak ukurannya?” “Wah kalau itu sih Anna nggak tahu Oom, gimana dong?” “Coba sini Oom lihat”

Dengan cepat pula Oom Win menarik miniset yang kupakai, dan refleks tanganku menutupi susuku yang tidak ditutupi dengan apapun juga. Pelan-Pelan tangan Oom Win menarik tanganku yang menutupi susuku itu.

“Gila, Anna, susu sebesar itu kamu masih pakai miniset. Kalau kamu di sekolah, pasti temen-temen kamu sering melihat pentil kamu dong” “Iya Oom, temen-temen Anna yang cowok kadang-kadang ada yang jahil pura-pura tak sengaja menyenggol Anna punya” “Tuh kan, barang segitu gede mustinya dibungkus yang bener, Anna”

Kemudian, dengan tangannya Oom Win mulai memegang-memegang susuku, mengusap-mengusapnya dengan body lotion tapi tidak menyentuh pentilnya.

“Wah ini pasti ukurannya 34B” “Kok Oom tahu?” “Oom cuman kira-kira, Anna, besok kita tanya aja sama Mbaknya yang jaga toko, OK?”

Sebelum aku menjawab pertanyaan Oom Win, tiba-tiba mulutnya sudah “ngempeng” di pentilku, karena kaget tubuhku tersentak dan bukannya mengelak, aku pun malahan membusungkan dadaku ke arah Oom Win. Tiba-Tiba Oom Win melepaskan mulutnya dari pentilku, dan seketika itu pula tubuhku semakin maju mengikuti arah kepalanya.

“Enak nggak Anna?”

Dengan malu-malu aku mengangguk dan dengan liar Oom Win mulai memegang-memegang susuku lagi, menggoyang-menggoyangkannya sambil memilin-memilin putingku yang sudah keras sekali. Kemudian, Oom Win keluar dari kamar dan ketika dia kembali, akan terjadi peristiwa yang lebih asik lagi.

Oom Win kembali ke kamarnya ketika aku masih mengelus-mengelus putingku sendiri.

“Lho, Anna, kamu lagi ngapain?” “Um, um, lagi cobain sendiri Oom, ternyata geli-geli gimana gitu enak kok”

Oom Win ternyata mengambil 2 butir telur dari lemari es. Kemudian, dia mengikat kedua tanganku ke belakang (di belakang pinggang), dan setelah itu mencium bibirku. Ketika tubuhku tersentak karena aku merasakan pentilku telah beradu dengan benda dingin yang aneh, tanpa kusadari ternyata Oom Win mengelus-mengelus kan telur-telur itu tadi ke kedua pentilku. Karena aliran dingin itu pula, aku meronta-meronta kegelian dan tidak berdaya karena kedua tanganku masih terikat. Aku hanya bisa memaju mundurkan dadaku saja dan justru itu menambah keasyikan sendiri ketika kedua putingku kembali menyentuh telur yang dingin itu.

“Oom, Anna pengen pipis.” “Pipis aja disini, Anna, nggak Papa kok”

Karena memang aku belum pernah berhubungan bercinta sebelumnya, cairan yang keluar kental dan tak henti-hentinya itu ternyata lendir birahiku yang kuketahui setelah Oom Win sendiri menjelaskannya kepadaku.

Setelah “pipis” itu, aku merasakan badanku lemas terkulai. Dengan tangan yang masih terikat, Oom Win mulai melucuti celana dalamku.

“Oom, jangan dibuka Oom, Anna barusan aja pipis” “Anna, biar Oom bersihkan pipisnya”

Kemudian Oom Win melepas celana dalamku yang sudah basah oleh lendir perawanku. Dengan liar, Oom Win menjilati serambi lempitku yang sudah basah itu.

Cerita Sex Dewasa - Rahasia Siswi SMP dan Pamannya
“Geli ah Oom, kok Oom nggak jijik jilatin pipis Anna?” “Hmph, hmph, serambi lempit kamu kenyal Anna”

Justru mendengar kata-kata jorok dari Oom Win itulah berahiku timbul lagi dan ketika serambi lempitku sudah merasakan nyot-nyotan yang hebat, aku pun berteriak.

“Sudah Oom, Anna mau pipis lagi”

Karena Oom Win benar-benar melepaskan lidahnya dari serambi lempitku, pinggulku dengan selangkangannya yang telah terbuka lebar dan berlendir itu pun terangkat. Kemudian setelah beberapa saat, Oom Win berbalik menjilatiku lagi. Dan tak lama kemudian, aku pun mengerang hebat.

“Arghh Oom, Anna pipis lagi Oom”

Cairan kental yang deras (lebih hebat dari yang pertama kurasakan) mengalir kembali di serambi lempitku. Oom Win mulai melucuti pakaiannya dan aku kaget melihat ujangnya berdiri tegak menantang.

“Lho kok bisa berdiri gitu sih Oom?” “Memang itu keistimewaan laki-laki, Anna, ade Oom ini bisa juga lemes dan lucu tapi bisa juga jadi gede dan tegak”

Pelan-Pelan Oom Win mengarahkan ujangnya ke serambi lempitku.

“Oom, mau dimasukkan kemana Oom, serambi lempit Anna tidak berlubang” Dengan sabar Oom Win berkata, “Setiap serambi lempit perempuan berlubang, Anna dan lubang itu baru berguna setelah ada laki-laki yang mau masuk ke lubang itu” “Tapi Anna tidak pernah melihat lubangnya, Oom” “Nanti kamu juga merasakannya, tidak usah ingin melihatnya, Anna”

Daging yang kenyal itu (kepala ujang Oom Win) mulai menggesek-menggesek bagian yang menonjol dari serambi lempitku, oleh karenanya cairan yang keluar tadi mulai lagi mengalir di serambi lempitku dan aku merasa lagi kegelian.

Karena masih perawan, maka lubang serambi lempitku mungkin memang sulit ditemukan oleh Oom Win. Sambil masih terus menggosok-menggosokkan kepala ujangnya, Oom Win memijit-memijit bibir serambi lempitku dan merekahkannya pelan-pelan. Dengan tangan yang masih terikat, aku meronta-meronta.

“Oom, sakit Oom” “Kamu mau kita cari lubang itu nggak?” “Mau Oom”

Oom Win mulai mengarahkan ujangnya ke lubang serambi lempitku. Pelan-Pelan dia menggesek-menggesek kan kepala ujang itu dan aku mulai merasakan adanya “lubang” di serambi lempitku. Pelan-Pelan sambil digosok-digosokkan maju mundur, akhirnya clep, ujang Oom Win masuk menembus selaput daraku.

“Arhh Oom, sakit sekali,” darah segar pun mengalir di selangkanganku.

Dengan ujangnya yang masih menancap, Oom Win hanya tersenyum melihat reaksiku. Dia masih diam dan sambil pelan-pelan mengelus-mengelus bahuku dan susuku. Setelah aku agak tenang, Oom Win memutar-memutar pinggulnya sehingga aku merasa geli yang hebat di seluruh bagian rahimku dimana tertancap ujang Oom Win. Daging yang kenyal itu melesak-melesak menyenggol-menyenggol semua bagian seakan-seakan mengocok-mengocok isi perutku. Pelan-Pelan Oom Win mulai menggenjot ujangnya dengan memaju mundurkan ujang nya dari lubang di serambi lempitku.

“serambi lempit kamu sempit sekali Anna, dede Oom serasa dipijitin” “Argh Oom, ah, geli ah..”

Oom Win tidak hanya menggenjotku, tapi meremas-meremas putingku dengan liar, melumatnya dengan lidahnya mengecup-mengecupnya dan karena tanganku yang masih terikat di belakang punggung, aku pun hanya pasrah atas apa yang akan dilakukan Oom Win.

“Oomm Anna pipis lagi Oom”

Dan ketika cairan kental itu keluar lagi dari serambi lempitku, Oom Win masih menancapkan ujangnya di serambi lempitku sambil menunggu sampai gerak badanku agak melemah.

Setelah itu, tubuhku diangkatnya dan kakiku dilingkarkan ke pinggangnya, dan dia memainkan aku seperti bonekanya, naik turun dan oleh karena gerakan itu juga, setiap kali tubuhku bergoyang-bergoyang, pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu tipis dan bidang itu. Kegelian yang kurasakan makin hebat karena ujang Oom Win semakin melesak masuk ke dalam lubangku itu.

Direbahkannya lagi tubuhku dan diganjalnya pinggangku dan pantatku dengan tumpukan bantal sehingga serambi lempitku semakin terkuak lebar dan itu memudahkan Oom Win untuk menancapkan ujangnya di lubangku. Pada posisi itu pula akhirnya ujang Oom Win terasa berdenyut-berdenyut dan akhirnya menyemprotkan cairan yang banyak bersamaan dengan orgasmku yang terakhir.

Setelah itu, aku pun terbaring lemas dan pelan-pelan Oom Win melepaskan ikatan tanganku kemudian memandikan aku dan mengeringkanku dengan penuh kelembutan.

“Sekarang Anna sudah menjadi perempuan ya, Oom?” “Iya, lubangnya ada kan Anna?” “Eh iya Oom” “Tapi, sebagai perempuan kamu tidak boleh sembrono memasukkan semua ujang-ujang ke dalam lubang serambi lempitmu itu, apalagi kalau sampai ujang-ujang itu menyemprotkan cairan seperti ujang Oom tadi” “Kenapa Oom?” “Karena cairan yang menyemprot itu berisi benih laki-laki, Anna. Kamu bisa saja hamil”

Karena wajahku pusat pasi mengetahui kenyataan itu, Oom Win menenangkan aku dan memberiku pil anti hamil untuk mencegah aku hamil.

Malam itu, aku tertidur pulas setelah “pipis” untuk kesekian kalinya dari hasil memilin-memilin puttingku sendiri. Setelah kejadian itu, setiap kali ayah memarahiku, lubangku tidak pernah menganggur untuk diisi ujang oleh Oom Win.

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel