Petualangan Jayden dengan Dua Gadis Jalanan

Di bawah rindang pepohonan, saya melihat dua gadis muda, mungkin kakak beradik, duduk di pinggir jalan. Gadis yang lebih tua memegang ukulele, sementara adiknya bermain dengan alat musik sederhana yang terbuat dari tutup botol. Keduanya tampak sederhana, pakaian mereka sedikit kusam, dan wajah mereka mencerminkan keletihan karena terik matahari. Di tengah hiruk pikuk kota besar, keberadaan mereka terasa begitu mencolok. Saya, Jayden, seorang warga Singapura yang sering melakukan perjalanan bisnis ke Jakarta, tergerak oleh pemandangan ini. Kehidupan jalanan seperti ini jarang saya temui di negara asal saya. Saya meminta supir untuk berhenti dan mendekati mereka. Saya menawarkan sedikit uang, dan tatapan heran terpancar dari wajah mereka. Ucapan terima kasih yang terlontar dari si kakak membuat hati saya tersentuh.
Setelah menanyakan kabar mereka, saya menawarkan untuk mengajak mereka makan siang. Wajah si adik langsung berseri-seri, menunjukkan betapa mereka membutuhkannya. Saat saya mengusulkan sebuah restoran cepat saji, si kakak sedikit ragu, menyebutnya terlalu mahal. Saya meyakinkan mereka bahwa saya akan membayarnya. Kami berjalan bersama menuju restoran, kontras yang nyata antara penampilan saya yang rapi dengan pakaian mereka yang sederhana menarik perhatian beberapa orang di sekitar kami. Setelah memesan, saya menyerahkan uang yang cukup untuk makan dengan nyaman. Proses pemesanan makanan menjadi sedikit lucu karena saya ikut membantu mereka. Meskipun saya kurang menyukai menu di restoran tersebut, saya senang melihat betapa lahapnya mereka menikmati makanan. Saya berasumsi itu karena lapar, dan mungkin juga karena kejutan mendapatkan hidangan yang lezat.
Sambil makan, saya berbincang dengan mereka, mengetahui bahwa si kakak yang cantik bernama Amel dan adiknya yang lebih muda bernama Gita. Saya mengabadikan beberapa momen mereka menikmati makan siang, dan hal itu membuat Amel terkagum-kagum dengan ponsel saya. Suasana makan siang itu terasa hangat dan penuh dengan kehangatan sederhana.
.
Dari cerita mereka ternyata mereka bukan kakak beradik. Keduanya adalah tetangga. Mereka hidup dengan single parent yaitu ibu mereka masing. Mereka tidak pernah tahu siapa ayah mereka. Mereka tinggal di gang sempit di perumahan yang padat. Ibu mereka hanya mengandalkan pendapatan dari mencuci baju dan membuka warung kecil-kecilan. Untuk menambah pendapatan atas dorongan ibu-ibu mereka dan ajakan teman-temannya mereka lalu mengamen. Keduanya putus sekolah, tidak pernah menyelesaikan bangku sekolah menengah pertama, jadi tidak mungkin melanjutkan ke SMA. Mereka mengamen sekarang sudah hampir 3 tahun.
Pendapatan mereka dari mengamen rata-rata sekitar 50 ribu, yang dibagi berdua. Semua hasil ngamen itu diserahkan kepada orang tua mereka.
Mereka juga sering jadi korban pemalakan oleh berandalan yang lebih besar. Sehingga tidak jarang mereka hanya membawa 10 ribu per orang ke rumah.
”Kalian mau pulang dengan duit lebih banyak?”
“Ya mau dong oom,” kata yang kecil.
“Ya kalian harus lebih pandai cari duitnya dong, cari cara yang lebih kreatif,” kataku.
“Gimana caranya oom?” tanya gadis yang besar penasaran.
“Sekarang kalian mau gak masing-masing oom kasih duit 50 ribu?“
“Ya mau banget lah oom,” kata mereka semangat.
“Ya kalau gitu kalian harus turuti apa kata oom,” kataku.
“Mesti ngapain sih oom?” tanya Gita.
“Gini, kamu lihat ada toilet disitu,” kata ku sambil menunjuk arah toilet.
“Terus?” tanya Amel.
“Kalian bawa HP oom ini ke toilet,” kata ku.
“Buat apa?” tanya Amel makin keheranan.
“Kalau kalian mau foto bugil, ini kalian masing-masing nanti baru oom kasi duit,” kata ku.
“Idih malu ah oom,” kata Amel.
“Orang mau duit ngapain malu? Dan juga kalian foto gak usah ada mukanya, badan aja ke bawah. Kan fotonya juga di dalam kamar mandi, mana ada yang tau?” kataku sambil melirik buah dada mereka yang mulai tumbuh itu.
“Ih oom genit,” kata Gita sambil berusaha menutupi dadanya.
“Lu mau nggak Git?,“ tanya Amel yang kelihatannya tertarik juga sama tawaranku. Lumayan juga mereka bisa mendapat 50 ribu per orang.
“Terserah lu,” kata Gita.
“Oom, kasi tau caranya ya nanti aku yang moto Amel, terus gantian Amel moto aku,” kata Gita.
Aku ajari mereka bagaimana mengambil foto dengan kamera HP. Sebelum ke kamar mandi mereka ku minta mengambil foto masing-masing, dan sekaligus mengambil foto tanpa wajah. Aku juga minta agar masing-masing mengambil 5 foto.
Setelah mereka mengerti, kemudian keduanya pergi ke toilet sambil membawa HP ku. Sekitar setengah jam para gadis remaja itu baru kembali sambil tertawa-tawa malu dan menyerahkan HP ku. Aku segera memeriksa hasil jepretan keduanya.
Terlihat Gita yang pertama kali di foto. Buah dadanya masih agak kecil, sementara di selakangannya terlihat belahan rapat belum berbulu sama sekali. serambi lempitnya menggunduk. Hasil Jepretan Amel lumayan bagus, setidaknya dari 5 jepretan ada 3 yang bagus. Aku bisa memperbaikinya dengan mengedit melalui Photoshop. Foto Amel terlihat kulitnya sangat putih, dadanya cukup besar menggembung dan di serambi lempitnya yang rapat sepertinya ada sedikit rambut halus.
Lumayan juga kedua anak ini cukup cerdas sehingga gambar mereka cukup jelas.
Aku beri mereka 50 ribuan masing-masing ke Amel dan Gita.
Aku mengeluarkan 2 lembar kertas note (biasa digunakan untuk menandai file-file di kantor). Di situ kutulis no HP Indonesia yang ku pakai untuk kunjunganku kali ini. Aku berikan ke mereka masing-masing dan kuminta ditempelkan di gitar dan kecrekannya. “Ini no telp oom, kalau kalian mau duit lagi telpon aja oom,”
“Ya nelponnya dari mana oom, kan kita gak punya HP,” Gita komplain.
“Telpon umum di pinggir jalan bisa, atau pinjam sebentar ke orang, atau ke Wartel, paling cuma habis 1000 perak. Tapi kalau gak bisa nelpon ya nanti Oom ada di tempat kita tadi ketemu jam 1 siang 3 hari lagi.” kataku.
Kami berpisah hari itu dan aku dengan 10 gambar tetek dan serambi lempit menggiurkan dari 2 anak gadis Indonesia cantik.
Belum sampai 3 hari HPku berdering dari no yang gak ku kenal. Waktu itu baru jam 2 siang dan aku sedang malas-malasan di hotel sehabis rapat dengan rekan bisnis.
”Oom, ini Gita, uang kita dipalak habis sama anak-anak tadi di Senen, jadi kami gak punya ongkos pulang,” kata suara di telepon dengan suara setengah menangis.
Mereka kelihatannya terlantar di Senen. Setelah meminta supirku untuk pulang saja hari ini, aku kendarai sendiri mobil sewaan itu ke arah Senen.
Ketika mobilku merapat di tempat mereka berdiri, aku bunyikan klakson dan membuka kaca jendela, raut muka mereka terlihat gembira. Mereka langsung masuk ke mobilku. Gita duduk di depan dan Amel duduk di belakang.
“oom fotonya masih ada nggak?” tanya Amel.
“Sudah oom hapus, setelah puas dilihat langsung oom hapus. Takut ketahuan istri oom di Singapore,” kataku bohong. Sebenarnya foto-foto mereka sudah tersimpan di Laptopku bersama dengan koleksiku yang lain.
Mereka tampak lega mendengar jawabanku.
“Oom bagi duit lagi dong oom?” kata Gita terus terang dengan nada merengek.
“Boleh aja, asal kalian mau kayak dulu lagi,” kataku.
“Ih oom kok gak bosen sih,” kata Amel dengan raut sebal.
“Sekarang oom malah mau kasih kalian 100 per orang.”
“HAH!? Yang betul oom, ah om bohong nih!” kata Gita dengan nada gembira.
”Ya tapi yang ambil fotonya kali ini oom sendiri dan kalian masing-masing bukan 5 foto, tapi 50 foto,” kataku.
“Ih banyak amat, rugi dong kita,” kata Gita.
“Ya nanti oom tambahin HP BB dan pulsanya sekalian 100 ribu,” kataku. Aku tahu HP blackberry sangat populer di kalangan muda-mudi negara ini.
“Ini beneran oom?” kata Amel.
“Ya benerlah kalau kalian mau,” kataku.
“Terus motonya dimana?” tanya Gita.
“Ya nanti oom carikan tempatnya kalau kalian setuju,” Jawabku.
“Gimana Mel? lu mau gak?” tanya Gita yang kelihatannya antusias.
“”Terserah lu deh,” kata Amel.
“Boleh deh oom,” kata Amel. Aku anggap mereka sudah menerima tawaranku.
Mobil ku belokan counter HP terdekat. Mereka aku minta tetap tinggal di mobil. Dua HP BB yang aku janjikan aku serahkan ke mereka. Mereka antusias sekali menerima upah prostitusi mereka itu. “HPnya kayak punyanya artis-artis yah,” kata Gita kegirangan.
“Oom nanti kasi tau ya caranya,” kata Amel yang sudah mendekap kotak HP.
Mobil ku arahkan ke Motel kecil yang sudah jadi langgananku ketika menjalankan aksiku di Indonesia, Gita kuminta jongkok bersembunyi di kolong dashboard dan Amel duduk bersimpuh di jok depan sehingga terlihat seperti wanita dewasa. Kaca mobilku ini agak gelap sehingga petugas motel tidak akan tahu kalau aku sedang membawa dua gadis muda.
Setelah pintu garasi tertutup, mereka kuajak naik kekamar diatas garasi.
Keduanya melihat-lihat sekeliling kamar dan mencoba menghidupkan TV. Aku menyambar telepon dan langsung memesan 3 porsi nasi goreng, 3 botol aqua ukuran 600 ml dan 3 botol Fanta Merah dingin.
Ketika bel pintu berbunyi mereka kuminta bersembunyi di kamar mandi. Setelah urusan bayar kamar dan makanan selesai dan petugas room service berlalu mereka ku minta keluar dari persembunyian.
Untuk kali ini aku tidak menggunakan kamera HP tapi kamera fotografi profesional yang hasilnya jauh lebih bagus. Aku memulai aksiku memotret mereka berdua dalam pakaian lengkap. Selanjutnya foto dari mulai mereka membuka baju satu persatu sampai akhirnya telanjang. Foto berikutnya adalah di kamar mandi. Aku minta mereka agar membersihkan diri dulu sebelum sesi foto selanjutnya. Berbagai pose mereka mandi sudah kudapatkan.
Mereka pada awalnya memang malu-malu, tetapi lama-kelamaan jadi terbiasa dan menuruti pose-pose yang kuinginkan. Setelah foto mandi, seterusnya aku mengatur mereka di tempat tidur dalam berbagai pose sampai close up ke serambi lempit mereka. Setelah aku merasa semua pose dan gambar yang kuinginkan ku dapat, aku menyudahi sesi pemotretan.
Tadi sebelum sesi foto di tempat tidur setelah mereka mandi, aku mengajak mereka makan. Yang istimewa aku minta minum air sebanyak-banyaknya sehingga sebotol Aqua hampir habis dan sedikit Fanta Merah. Aku punya tujuan untuk itu.
Setelah selesai sesi foto di bed, tidak lama kemudian mereka mengatakan kebelet pipis.
Inilah moment yang ingin aku rekam, yakni foto ketika air kencing mereka mancur dari belahan serambi lempit mereka masing-masing.
“Ih oom ini aneh, masak orang kencing aja di foto,” kata Amel.
Lumayan juga hasil jepretanku, cukup jelas moment-moment ketika pipis mereka keluar.
Aku menunggu sampai mereka kencing untuk yang kedua kali, baru kami mengakhiri pemotretan. Lumayan juga koleksiku sangat lengkap untuk foto soft core 2 anak gadis cantik yang sedang mekar-mekarnya.
Dalam perjalanan mengantar mereka pulang, aku berpekir sepertinya ini saat yang tepat untuk melanjutkan ke rencana berikutnya.
“Gimana kalau masing-masing kalian oom kasih 3 juta,” tanyaku.
“Ah yang bener oom, kok banyak amat sih kasinya,” tanya Gita.
Iya tapi ini nggak untuk kalian semua, Cuma untuk yang mau aja,” kataku.
Mereka tampak kebingungan.
“Me… memangnya oom minta kita ngapain lagi?” tanya Amel yang duduk di kursi depan.
Akhirnya aku utarakan tujuanku sebenarnya dengan sangat jelas, “ Oom mau perawan kalian,” kataku singkat.
Mereka tampak terperanjat. “Ih oom gak mau ah kalau itu, kita kan masih segini” kata Amel.
Seketika aku taruh tanganku di paha Amel dan aku elus-elus. Wajah Amel seketika pucat. Dari spion aku lihat Gita juga tampak kaget.
“Ya terserah kalian, tapi kalau kalian nanti berubah pikiran telpon oom ya. Oom masih bakal di Jakarta sampai 4 hari lagi” kata ku.
Kami sampai di gang tempat mereka tinggal. Masing-masing kugenggami 100 ribuan. Sekarang tinggal menunggu saja apakah umpanku dimakan atau tidak. Dari pengalamanku, biasanya gadis-gadis kurang mampu seperti mereka tidak akan melewatkan tawaran menggiurkan seperti ini begitu saja.
Benar saja, dua hari sebelum aku kemabali ke Singapura, masuk telfon dari HP Amel. Dengan agak bingung menyusun kata-kata, Amel bilang kalau dia mau menerima tawaranku, tapi syaratnya dia harus ditekenikmatan Gita. Aku bilang tidak masalah.
Besoknya, jam 10 pagi aku menjemput kedua anak itu di suatu Mall. Mereka tidak lagi membawa peralatan ngamen. Amel kelihatannya gelisah dan wajahnya selalu menunduk. Aku mencairkan suasana dengan mambawa mereka makan. Aku ajak mereka membeli baju baru untuk mengganti baju lusuh yang mereka pakai sekarang. Mereka jadi tampak cantik dan menawan.
Mereka aku ajak ke motel yang kemarin. Begitu masuk kamar setelah semua urusan kamar beres, aku segera memberikan 3,5 juta ke Amel. Buru-buru dimasukkannya uang itu ke dalam tas kecil. Amel kuminta membersihkan diri. Gita sekarang tinggal sendirian bersamaku. Aku duduk di sampingnya.
”Oom dari awal udah berniat gini ya?” tanya Gita dengan nada sedikit ketakutan.
Bukannya menjawab pertanyaannya, tubuh Gita langsung aku peluk dan aku cium bibir mungilnya. Gita menjadi panik dan berusaha mendorong tubuhku. Tubuhnya ku peluk semakin keras. Nafas Gita jadi tersenggal-senggal. Perlahan lidahnya mulai mengikuti permainan lidahku.
Seketika pintu kamar mandi terbuka. Amel keluar dengan baju lengkap. Aku tinggalkan Gita terduduk di sofa untuk melihat kami. Kamera segera kusiapkan untuk merekam saat-saat aku memperawani gadis remaja tanggung itu.
Selain membekali diri dengan K jel untuk melancarkan penetrasi, aku juga mempersiap obat pill. Pill itu adalah fertility drug yang cukup kuat dan selalu aku berikan pada gadis-gadis yang aku gagahi. Aku akui memiliki ”kink” yang cukup aneh. Aku sangat bernafsu untuk menghamili gadis-gadis yang aku tiduri. Membayangkan anak-anak illegitimate ku tumbuh tubuh mereka, tanpa aku perlu bertanggung jawab membuat nafsuku berkobar-kobar.
Aku minta Amel meminum pill itu. Setetelahnya aku baringkan Amel yang berpakaian lengkap T Shirt dan celana jean di tempat tidur. Aku mengambil foto ketika dia masih lengkap berpakaian. Perlahan aku mencopot kausnya sehingga tampak bra ukuran C warna krem menutupi bagian dadanya. Celana jeannya ku pelorotkan dan tampak celana dalam merah yang lusuh.
Amel merasa malu dan berusaha menutupi buah dadan dan ke selakangannya dengan tangan. Aku kembali mengambil foto dengan meminta Amel berhenti menutupi tubuhnya.
Setelah foto ku ambil dari berbagai angle, berikutnya aku membuka Branya. Ku lepas kain penyangga dada itu dan ku campakan begitu saja ke lantai. Dengan hanya bercelana dalam aku kembali mengabadikan tubuh Amel. Setelah itu aku membuka celana dalamnya sehingga dia telanjang bulat tidur di tempat tidur. Aku kembali mengambil gambarnya dari berbagai posisi sampai dia ngangkang dan close up di bagian lubang serambi lempitnya yang masih rapat. Aku berusaha mendapatkan gambar lubang serambi lempitnya yang masih memiliki selaput dara. Dia kuminta bantuan untuk menguakkan belahan serambi lempitnya. Amel mengeluh sakit ketika aku buka lebar-lebar serambi lempitnya. Aku minta dia bertahan sebentar. Aku mengambil gambar belahan serambi lempitnya yang terbuka lebih lebar dan berwarna merah di dalam. Selaput daranya terlihat sedikit dari bagian luar.
Aku mulai membuka baju dan kutanggalkan celanda dalamku. Aku mulai mencumbui Amel. Aku ciumi leher, kedua puting susu pinknya yang masih kecil dan menghisap hisap dadanya.
”Uuuh… Uuh… Oom Jay…,” desah Amel menggelinjang kegelian.
Selanjutnya mulutku turun ke bawah mengarah ke serambi lempitnya. Amel menjambak kepalaku karena merasa geli kuciumi di sekitar kelaminnya. Aku menjilati pelan-pelan seputar serambi lempitnya sampai gundukan belahan serambi lempitnya. Lidahku secara bertahap mulai mengarah ke kelentitnya. Dia merasakan geli luar biasa ketika jilatanku mengenai kelentitnya. Aku tidak meneruskan menjilati kelentitnya, tetapi disekitar lubang serambi lempitnya. Setelah dia mulai bisa menerima adaptasi jilatanku, tidak lagi merasa terlalu geli ketika lidahku menyentuh kelentitnya. Amel berkali-kali menggelinjang ketika ujung lidahku mengenai kelentitnya. Dia melenguh sebagai reaksi rangsangan kelentitnya aku oral. Aku yakin dia mulai terangsang, klentitnya terasa mengeras. Aku terus menjilati kelentitnya sampai akhirnya dia mengejang mencapai orgasmenya yang pertama. Cairan lendir di belahan serambi lempitnya makin banyak, meski tidak dapat dikatakan banjir. Selanjutnya aku kembali mengabadikan lubang serambi lempitnya. Terlihat lubang serambi lempitnya sedikit lebih menganga. Mungkin ini reaksi alami untuk serambi lempit yang siap untuk ditembus.
Aku membuka celana dalamku, rudalku yang lumayan besar meloncat keluar. Aku olesi seluruh rudalku dengan jelli. Tidak lupa aku juga melumuri seluruh permukaan lubang serambi lempitnya. Amel kuminta tidur dengan ganjalan bantal di bawah pantatnya. Aku memposisikan tegak bersimpuh lututku dan mengarahkan kepala rudalku ke lubang serambi lempitnya. Moment itu aku rekam dengan mode video di kameraku. Berkali-kali kepala rudalku terpeleset gagal masuk ke lubang serambi lempitnya. Setelah agak berhati-hati kepala rudalku berhasil menyusup ke serambi lempitnya.
“ Aduh oom… sakiiiit…,” rintih Amel.
Sambil meremas-remas dadanya, aku minta dia untuk menahan sebentar rasa sakit itu. Aku tarik-ulur rudalku untuk melakukan gerakan maju mundur agar bisa masuk lebih dalam ke lubang yang sangat sempit itu. Aku rasakan ujung rudalku menyentuh selaput daranya. Amel kembali mengeluh kesakitan. Kutarik sedikit dan kutekan lagi berkali-kali. Setelah lancar, aku dorong kuat rudalku untuk menembus selaput daranya. Usaha ku berhasil dan rudalku ambles perlahan-lahan ke dalam serambi lempitnya.
”Aduuuuuhh….” teriak Amel kesakitan.
Semua moment itu berhasil terekam dengan baik di kameraku. Kontras sekali, terlihat serambi lempit kecil gadis remaja sedang diterobos rudal pria asing paruh baya. Mulai aku pompa serambi lempitnya secara perlahan. rudalku terbenam makin dalam di belahan serambi lempitnya. Genjotan kutingkatkan, rintihan sakit bercampur nikmat mulai keluar dari mulut Amel.
”AaaH… Uuuuuwh…” lenguh Amel
“Oh… enak… Aaaah…” desahku.
“Ooh… pelan… pelan… Oom….” protes Amel.
Aku justru makin bernafsu menggoyang Gadis pengamen itu. rudalku menembus semakin dalam dan jepitan serambi lempitnya pun semakin kencang. Kulihat tubuh Amel terus menggelinjang, tangannya menarik-narik sprei sampai acak-acakan dan matanya mulai merem melek menahan nikmat. Aku pastikan semuanya terekam baik di kameraku.
Aku alihkan kamera ke Gita. Dia tampak melongo memandangi sahabat karibnya bergumul nikmat bersama pria tua. Wajahnya tampak merah padam.
“Agh Agh… Oom Jay… Enak…. Teruus…”
“ooh… ooh… ooh… ooh…”
“agh… agh… agh… agh… agh…”
Desahan kenikmatan kami berdua menggema memenuhi kamar Motel.
Setelah setengah jam memompa serambi lempitnya, tiba-tiba tubuh Amel bergetar kencang. Jepitan ketat dan kehangatan serambi lempit Amel yang siap orgasme terasa begitu nikmat. Aku tidak tinggal diam, genjotan ke serambi lempitnya aku tingkatkan semakin kencang dan dalam.
Sampai akhirnya muatanku pun sudah siap meledak. Aku peluk Amel dan genjot kuat-kuat rudalku sampai mentok, Aku tumpahkan semua spermaku kedalam rahimnya.
Croooot… Croooot…..
”AAAAAH… OOOOM…” jerit Amel merasakan puncak kenikmatan pula.
Ejakulasi didalam serambi lempit gadis muda memang yang paling nikmat! Aku muntahkan semua spermaku sampai tetes terakhir. Aku pasti akan menghamili gadis miskin itu dengan anak illegitimate ku.
Setelah spermaku habis, aku tarik rudalku. Terlihat batangku diselaputi cairan putih bercampur darah. Lubang serambi lempitnya terlihat terbuka lebar bekas penetrasi rudalku. Aku kuak lubang serambi lempit Amel, terlihat memerah dan terdapat banyak sekali sperma didalam sana. rudalku yang masih agak keras kutempelkan ke depan lubang serambi lempitnya, terlihat rudal dan serambi lempit yang belepotan oleh sperma dan darah dengan bulu hanya beberapa helai di serambi lempit Amel. Aku kembali mengambil foto seluruh tubuh bugil Amel dengan cairan sperma terus mengalir dari serambi lempitnya.
Amel kemudian kubimbing bangun ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia berjalan tertatih-tatih karena selangkangannya terasa perih. Kami kemudian isirahat sejenak sambil menonton TV. Kami tidur berbaring bertiga bersama Gita yang masih berpakaian lengkap sementara kami berdua telanjang.
Kutawari Gita 200 ribu untuk kerja mengoral rudalku. Awalnya dia tidak mau, tetapi setelah ku bujuk dan kuberi langsung uang 200 ribu, akhirnya dia setuju.
Aku telentang dan Gita kuajari untuk mengoral rudalku yang masih lemas. Mulanya dia ragu dan melakukan gerakan oral agak kaku. Tetapi itu tidak berlangung lama setelah rudalku juga bereaksi makin memuai setelah dihisap oleh Gita.
rudalku sudah berdiri tegak kembali. Gita kuminta duduk di pinggir kasur agar bisa melihat aku menggarap Amel lebih dekat. Aku kembali merangkak di antara kedua kaki Amel. Kedua kakinya kulebarkan dan dan kulipat agar lebih memudahkan aku memasukkan rudal. Untuk penetrasi kedua ini aku masih memerlukan bantuan jell. Tidak terlalu susah, rudalku perlahan-lahan bisa masuk ke dalam serambi lempit Amel. Amel masih merasa sakit saat serambi lempitnya aku tembus. serambi lempit yang sangat sempit dan mencekram keras itu kembali aku goyang dengan kencang.
Agak bosan dengan posisi missionary begitu. Aku minta Amel untuk duduk diatasku. Kami berdua berguling dengan tetap mempertahankan rudalku tertancap. Amel semula hanya tertelungkup dan diam diatas tubuhku. Dia belum tahu harus bagaimana. Aku mengajarkan dia agar menggoyang pinggulnya dari atas ke bawah. Posisi badanku dengan Amel menjadi 90 derajat. Aku kembali mengambil kameraku dengan mode video mengabadikan serambi lempit Amel yang naik turun menelan rudalku. Lama-lama Amel jadi mahir melakukan gerakan sampai akhirnya tubuhnya menggelinjang merasakan orgasme keduanya. Aku hentak rudalku keatas, memuntahkan lagi spermaku kedalam serambi lempitnya. Ku dorong Amel yang sudah lemas terjatuh ke ranjang. rudalku melemas, masih tegak perkasa meminta kenikmatan. Aku lumasi lagi rudalku dengan jell lalu duduk di sebelah Gita yang masih duduk gemetar di sudut ranjang.
”Oom mau perawan kamu juga, Gita,” bisikku di telinga gita.
Gita kaget mendengar itu dan berusaha lari. Tapi terlambat aku tarik tubuhnya sampai terduduk di pangkuanku dengan posisi saling berhadapan. Waktu itu Gita memakai rok pendek sehingga rudal kerasku lansung menyentuh benggolan serambi lempitnya yang masih berlapis celana dalam lusuh. Gita masih terus meronta. Untuk kali ini aku akan mencoba melakukan secara hardcore.
Sambil mulai mencumbui bibir dan telinganya. Aku tekan pinggul Gita dan pinggulku semakin rapat. rudalku dan serambi lempitnya saling bergesekan
“Oom… jangan… Oom…!!” rintih Gita mengiba padaku.
Gita mulai mengurangi rontaannya dan akupun semakin menggila. Aku gesekan kepala rudalku ke benggolan serambi lempit Gita yang masih tertutup kain tipis. Aku lanjutkan terus mengulum mulut dan lidah Gita dengan mesra. ”Umm… umu… ah,” desah Gita.
Tangan kiriku merangsek ke bagian depan celana dalam Gita. Celana dalam longgarnya aku sibakan ke kanan jadi serambi lempitnya sudah bebas tidak tertutup lagi. Aku arahkan rudalku yang sudah licin ke serambi lempitnya dan aku hentak keras.
”Aduuuuh Oom….” teriak Gita kesakitan.
Keperawan Gita juga berhasil ku dapatkan. Mulai aku pompa tubuhnya secara perlahan. Gita mulai menjambak rambutku, ketika rudalku menghujami serambi lempitnya berkali-kali. Sambil bersetubuh, Aku minta Gita meminum pill yang sama dengan Amel tadi.
“Oom… udah yah oom… serambi lempit aku ngilu banget,” rengek Gita.
“Bentar sayang… Oom lagi enak,”
Aku kulum lagi mulut Gita membuat serambi lempitnya berdenyut-denyut semakin kencang. Aku rasakan spermaku juga sudah diujung tanduk. Gadis ini pasti akan ku hamili juga! Aku peluk erat-erat tubuh Gita. Pinggulku aku tekan kuat-kuat ke arah serambi lempitnya. Saat Gita orgasme, seluruh spermaku juga menyembur ke dalam rahimnya.
Crooot…. Crooot….
”Perawanmu juga nikmat, Gita,” pujiku sambil mencium bibir Gita.
Aku biarkan rudalku menancap di serambi lempit Gita.
Semua adegan itu terekam dengan baik di kameraku.
Kami menyelesaikan pesta deflorasi dalam waktu sekitar 3 jam. Setelah memberi 3,5 juta jatah Gita aku ajak mereka berdua dari motel ke departemen store. Amel kubelikan berapa pasang pakaian dan sepasang sepatu. Gita pun juga sama tapi ditambah dengan celana dalam untuk mengganti miliknya yang sudah ternoda tadi. Aku bermaksud mengajak mereka jalan agar terbiasa jalan seperti biasa, bukannya tertatih-tatih karena serambi lempitnya perih. Kalau mereka pulang dengan jalannya yang aneh dan membuat ibu mereka curiga, bisa gawat nanti aku. Kejutannya cukup waktu mereka hamil saja, begitu pikir kotorku.
Aku melepas mereka dengan dengan ujung gang tempat mereka tinggal.
Aku merasa lemas dan puas sekali setelah menggarap dua gadis perawan hari ini. Kepalaku enteng dan sesampainya di hotel aku langsung istirahat agar bisa datang tepat waktu untuk penerbangan kembali ke Singapura besok.
Aku baru mengetahui nasib mereka 2 tahun kemudian saat aku kembali ke Jakarta untuk menetap. Ternyata mereka benar-benar hamil. Namun hanya Amel yang mempertahankan dan melahirkan anak perempuannya. Sedangkan Gita kabarnya menggugurkan kandungannya. Saat menemui Amel aku tawarkan dia untuk menjadi pembantu di rumahku di Jakarta agar dia dapat pendapatan lebih baik. Tentu saja aku juga menjadikan Amel wanita simpananku. Tampaknya sebentar lagi dia akan mendapatkan anak kedua.
Nikmatnya memerawani dan menghamili gadis pengamen perawan!
Komentar
Posting Komentar