Istri Baru, Suami Jauh

Alona Wulandari mengantar kepergian suaminya, Dony Sutomo, dengan perasaan campur aduk. Pernikahan mereka baru saja berlangsung seminggu, dan Dony harus segera memulai tugas barunya sebagai kepala bagian di sebuah perusahaan pertambangan di Papua. Kegembiraan atas promosi tersebut bercampur dengan sedihnya batalnya rencana bulan madu mereka ke Bali. Waktu terasa begitu singkat, tidak ada kesempatan untuk penundaan keberangkatan. Di tengah kesedihan perpisahan, Dony menjanjikan liburan pengganti ke Raja Ampat bulan depan, sebuah upaya untuk menghibur Alona di tengah kesedihannya. Di bandara, ciuman lembut di pipi Alona menjadi tanda perpisahan. “Yang penting kamu bisa cepat pulang,” bisik Alona, mencoba menyembunyikan kesedihannya di balik kata-kata yang penuh pengertian. Ayahnya, dengan tangan yang lembut mendarat di bahu Alona, mengucapkan pesan agar Dony menjaga diri dan meminta Alona untuk tetap tegar. Dony pun berpamitan, mencium tangan ayahnya sebelum akhirnya pergi. Air mata Alona menetes, menandai kepergian suaminya ke tempat yang sangat jauh.
Kenangan lima hari lalu kembali menghantuinya. Perpisahan yang terasa begitu cepat, seolah baru kemarin mereka masih berbahagia sebagai sepasang kekasih setelah empat tahun berpacaran. Kini, kehidupan rumah tangga mereka yang baru saja dimulai harus diuji jarak dan waktu. Keputusan Dony untuk berangkat sendiri dipicu oleh kekhawatiran akan keselamatan Alona di Papua dan tanggung jawabnya untuk merawat ayahnya yang sudah lanjut usia di Jakarta. Alona masih terbaring di ranjang pengantin, waktu terasa begitu panjang tanpa Dony di sisinya. Perasaannya mengalami berbagai macam perasaan yang menyebabkannya kehilangan semangat. Ia merasa lemas, lesu, dan tak berdaya. Air mata kembali menetes, berkilauan terkena sinar matahari sore yang menerobos celah gorden jendela, pukul setengah enam sore. Kesunyian menyelimuti kamar pengantin itu, mencerminkan kesepian Alona yang mendalam.
menolehkan wajahnya ke sana. Dan menyadari sedari tadi dia hanya telentang di kasur selama beberapa jam. 2-3 jam mungkin? Atau sudah 5 jam? Masa bodoh lah dengan waktu. Kalau bukan karena harus menyiapkan makan malam untuk bapak mertuanya Lona mungkin masih terus ada di ranjangnya. Merenungi nasib pengantin baru. Sampai kamarnya menjadi gelap. Maka dia bangun dan melangkah menuju kamar mandi. Di depan pintu dia mulai menanggalkan semuanya lalu masuk ke dalam. Lona tidak sadar kalau pintu kamarnya telah lama sedikit terbuka. Rupanya si mertua yang tua mengintipnya sejak siang tadi. Di usianya yang ke-69 tahun dan dengan status duda 5 tahun Komo Sutomo, seorang pensiunan PNS, masih menyukai tubuh perempuan. Meskipun terlihat renta dan ringkih, tapi sebetulnya dia masih memiliki stamina. Bahkan ketika masih beristri dia suka main-main ke diskotik atau panti pijat hanya untuk melihat wanita-wanita telanjang menari-nari di panggung bertiang satu atau merasakan pijatan enak dari tangan lembut berminyak. Kalau sedang ada duit lebih dia tak sungkan menggunakannya untuk memanjakan kemaluannya. Sejak pertama melihat Lona berpacaran dengan anak lelakinya dia merasa seolah terobsesi. Wanita-wanita liar di luar sana sudah tidak ada lagi yang bisa memuaskannya sehingga membuatnya berhenti jajan. Yang ada di pikirannya hanya Lona. Otaknya menginginkan kedua matanya bisa melihat perempuan itu telanjang. Kelaminnya bercita- cita suatu saat nanti dirinya bisa menikmati tubuh Lona. Walaupun begitu dia sadar, tahu, kalau Lona sudah menjadi menantunya. Berarti sudah menjadi anaknya juga. Tidak sepatutnya dia masih menyimpan dendam libido itu. Tapi memang dasar setan, dia tak tahan menahan nafsu. Masturbasi yang dilakukannya sambil membayangkan wajah dan tubuh menantunya menjadikannya hilang akal. Apalagi sejak Lona menikah dan tinggal di rumah. Apalagi sekarang cuma berdua saja dan anaknya ada di tempat yang sangat jauh. Jadi, Pak Komo memanfaatkan kesempatan tinggal berdua dengan istri anaknya itu untuk bisa menatapi dan mengintipnya kapanpun dan dimanapun secara diam-diam. Dan sore ini adalah moment yang tiba-tiba saja membuahkan ide kepada otaknya yang kotor. Pak Komo segera menutup pintu kamar itu, pelan-pelan tentunya, dan mengetuknya. Tok tok tok.. Belum ada jawaban. Tok tok tok… Masih belum. Tapi terdengar suara pintu terbuka. Lalu ada suara tapak kaki. Tok tok tok… “Naa, Alonaa. Bapak ada perlu. Tolongin bapak..” Diam. “Iyaa, Pak. Tunggu bentar..” Cklek. “Ada apa, Pak?” Alona hanya mengenakan handuk. Sialan. ******** Alona Wulandari saat ini berumur 24 tahun. Cantik bertubuh semampai dengan warna kulit cokelat muda. Rambutnya yang agak basah dipotong model bop seleher dan ada tahi lalat di kiri dagu. Dengan hanya mengenakan handuk putih semakin tampaklah bentuk tubuhnya yang berisi dan padat. Bahunya yang bulat berbercak air sampai ke lengannya yang berdaging lembut. Membuat orang jadi ingin meremas-remasnya. Terlebih lagi dadanya itu. Besar, memenuhi bagian atas handuk yang seolah tidak kuat lagi menampungnya. Pinggul dan paha melengkung dengan pas dan enak dilihat. Eksotis. Lona bergelar sarjana sastra Inggris dari universitas negeri terbaik dan bekerja di sebuah lembaga kursus bahasa inggris terkenal di Jakarta. Dengan gaji menggiurkan dan lingkungan yang menyenangkan tanpa terasa sudah 2 tahun dia mengajar banyak anak dari SD hingga SMA. Kebetulan sekarang dia cuti nikah dan tidak lama, karena bersama suami saja cuma seminggu. Di tempatnya mengajar dia selalu menjadi pusat perhatian karena tubuhnya yang bercintay dan wajahnya yang cantik galak tapi menggoda. Mulai dari para pengajar sampai anak-anak murid semuanya memperhatikannya. Mereka juga menghormatinya dan suka bergaul dengannya. Orang bilang Miss Lona supel dan perhatian kepada teman. Beberapa hari sebelum menikah Lona sudah tahu bahwa Dony akan ditempatkan di Papua. Meskipun rencananya dia sebulan bisa pulang ke Jakarta 2-3 kali tapi tetap saja itu adalah sesuatu yang menyedihkan. Apalagi bagi pengantin wanita yang baru saja sah bersuami. Baru kali ini seumur hidupnya Lona mengalami perasaan kesepian yang teramat sangat. Seperti kehilangan semangat hidup. Rasanya tak tertahankan. Tapi, sebenarnya yang paling menyebalkan adalah sejak menikah dia belum melakukan ritual malam pertama. Karena menstruasi dan keburu suaminya berangkat. ******** “Halooo. Pak.. Bapak…” Lona melambaikan tangan di depan wajah orang tua di depan kamar pengantinnya. “Hah? Ooh..” Sepintas tadi Pak Komo hanya bengong karena terpukau. Baru pertama itu dia melihat menantu cantiknya hanya memakai handuk. Tanpa ditekenikmatan suami lagi. Basah pula. Lona hanya tersenyum geli. Dia sadar mertuanya pasti terkejut karena melihat penampilannya. Lona suka terlihat bercintay. “Kenapa, Pak?” “Emm, gak, gak papa kok..” “Kalo gak papa kenapa di sini, Pak? Bengong lagi…” “Oh, itu….” Gila… bercintay sekali sih kamu.. beruntungnya kamu, Don. “Iyaa?” “Bapak gak enak badan, nduk..” Hampir saja dia lupa idenya. Wajah Lona langsung tampak khawatir. “Bapak sakit?” “Gak tau, nduk. Badan pegal-pegal ini.. Kepala rasanya berat juga..” Entah mata Lona yang ngaco atau Pak Komo yang pandai berpura-pura, Lona berkata, “Iya, Bapak kelihatan pucat..” Pak Komo bersyukur wajahnya yang berkepala botak terlihat seperti yang dikira menantunya. Dia berusaha menahan senyum. Dengan jantung deg-degan dia mencoba bilang “Bapak boleh gak, nduk, ng.. Minta tolong dipijet..?” Deg deg. Deg deg. Sepi. Deg deg. Deg deg. “Hmm, habis aku mandi aja ya, Pak? Gimana?” Yes! Orang tua itu seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia memperhatikan wajah Lona yang tidak curiga. Lalu dia berkata, mencoba yang lebih lagi. “Sekarang aja, gimana?” “Iya, tapi aku mandi dulu, Pak, biar enak mijitnya..” Tiba-tiba, badan Pak Komo ambruk ke depan dan berhasil ditahan oleh tangan Lona. “Eh, eh, eh, Bapaak…” “Haah. Haah. Bapak harus tiduran. Gak kuat rasanya..” orang tua itu, dengan berpura-pura, berusaha berjalan gontai melewati pintu, ke tempat tidur. Lona segera memapahnya. Pak Komo perlahan menolehkan wajahnya ke kanan bawah, ke arah dada menantu bercintaynya. Di sana, tampaklah daging empuk yang terbelah dengan garis pendek menggiurkan. Disertai bintik-bintik kecil air dan tahi lalat yang imut di atas dada kiri. Besarnyaaa.. Ck, ck, ck.. Ssluurp.. Pak Komo membatin dalam hati sambil mencium sekilas wangi tubuh Lona. Bau tubuh sore hari wanita rumah tangga yang belum mandi bercampur dengan wangi parfum yang kenikmatans. Pak Komo menjatuhkan dirinya ke kasur dan wajahnya semakin pucat. Lona kebingungan, lalu menaikkan kedua kaki mertuanya ke atas kasur. Kemudian membalikkan pundak Pak Komo agar di sana dia telentang. Lona memandangi mertuanya sambil berpikir. Dia punya minyak angin di meja riasnya. Siapa tahu bisa mengobati pusing Pak Komo. Dia berjalan untuk mengambilnya tanpa menyadari orang tua itu mengamati bagian belakang tubuhnya dengan mesum. Pantat Lona yang sekal tercetak di kain handuk yang posisi bagian bawahnya jauh di atas paha. Dan ketika Lona membungkukkan badannya di depan meja dan kain handuk itu semakin naik meninggalkan setengah paha, mata Pak Komo langsung melotot. Anjiiing… Kedua mata Pak Komo seolah mau keluar dari lubangnya ketika melihat paha mulus dan daging segar di antara kedua paha itu. Langsung saja dia memasukkan tangan ke dalam celana. Agak lama juga Lona mencari- cari minyak angin di mejanya. Pinggulnya bergeser ke kanan, ke kiri sementara tangan si orang tua masih mengusap-usap kemaluannya sendiri. Menikmati pemandangan baru. Ketika Lona berbalik tangan itu dengan cepat keluar dari dalam celana. “Aduuh, Pak, gak ada minyak anginnya..” kata Lona. “Ya udahlah, nduk, ga papa. Pijitin badan Bapak aja deeh. Kali aja sembuh nanti,” jawab Pak Komo. “Mmm…” Melihat bapak mertuanya seperti tak berdaya dan takut kenapa-kenapa Lona mempertimbangkan apakah dia harus mandi dulu atau langsung saja memijit Pak Komo. Tapi aku kan belum mandi. Takut bau. Ah masa sih bau? Aku kan perempuan yang bersih dan terawat, jadi belum mandi pun pasti masih wangi laah. Kalo aku mandi dulu kasian si Bapak.. nanti kenapa-kenapa lagi.. “Cepetan, nduk.. Tambah pusing nih..” ujar Pak Komo sambil memegang kepalanya. “I.. Iya, Pak.” Lona mengambil minyak bulus di meja rias lalu mendekat ke ranjang. Pak Komo membuka bajunya sendiri. Melihat mertuanya telanjang dada membuat Lona merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada rasa campuran malu dan takut. Kemudian dia naik ke atas ranjang. Pak Komo membalikkan badannya sambil bepikir betapa beruntung dirinya bisa dipijati menantu cantik dan bercintay seperti Lona. Cuma pakai handuk pula. Dan pikiran itu membuatnya ngaceng. Pak Komo merasakan kedua tangan lembut Lona yang sudah dikasih minyak membaluri punggungnya. Diusap-usap dengan perlahan. Lona merasa canggung. Ini adalah pertama kalinya dia menyentuhkan tangannya kepada lelaki lain selain suaminya. Dia jadi teringat suaminya dan hal-hal apa saja yang sudah dilakukan mereka berdua. Selama seminggu kehidupan pernikahannya itu Lona yang masih perawan hanya pernah berciuman, memeluk, meraba, yah intinya bercinta tanpa penetrasi. Bahkan mereka melakukannya tanpa telanjang, hanya menanggalkan sedikit pakaian. Tapi ada satu yang menurut Lona menyenangkan yang dia lakukan tehadap suaminya: bercinta oral. Sewaktu pacaran dengan orang lain dan Dony Lona beberapa kali melakukan bercinta oral. Dan dia menyukainya. Ada sensasi tersendiri yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata saat melakukannya. Apalagi kalau rudal lawan mainnya tebal dan besar. Tidak perlu terlalu panjang, yang penting pas dan nyaman dilihat. Ya ampun… Apa sih yang aku pikirkan ini? Lona berusaha menepis pikiran kotornya. Seolah takut bapak mertuanya bisa tahu apa yang dipikirkannya. Sambil melupakan segala pikiran tetang bercinta tanggung bersama suami dia mulai memijit leher dan bahu Pak Komo. Lalu pijitannya turun ke belakang badan. Lalu naik lagi ke kepala. Kemudian pindah ke kaki. Pijatan yang dilakukan jari-jari lentik Lona dirasakan oleh si orang tua benar-benar enak. Badan langsung merasa segar, kendatipun badan Pak Komo sebenarnya sedang tidak sakit. Kepala dan leher juga terasa enteng. Lona melakukannya pun dengan ikhlas. Tanpa menaruh rasa curiga. Dia hanya berpikir ayah suaminya adalah ayahnya, jadi dia juga harus memberikan pelayanan dan bantuan. Terlebih lagi mertuanya itu sudah renta. Untung saja pada saat dia memijati Pak Komo tidak ada timbul bau yang tidak enak dari badan orang tua itu. Sepertinya ayah Dony orang yang menjaga kebersihan. 15 menit pun sudah berlalu dan Lona berkata “Udah enakan, Pak? Pusingnya udah hilang?” “Yaah lumayan, nduk.. Hehee.” Apalagi kalau dipijit pake dada kamu, nduuk.. Pak Komo berpikir mesum. Pak Komo membalikkan badannya untuk melihat dada itu. Dan tanpa disangka bagian ratas handuk Lona terbuka dan ujung kainnya turun melorot ke bawah. Lona panik dan segera membetulkannya, tapi jeda sepersekian detik tadi adalah surga bagi Pak Komo sehingga membuat rudal si orang tua kembali berdiri. Dan Lona mengetahui itu. Lona melihat bagian bawah celana pendek ayah suaminya itu menggembung aneh. Bersamvung..
lanjutt….
Muka Lona bersemu merah. Pertama karena barusan handuknya tanpa sengaja melorot. Kedua karena matanya, entah kenapa, tertuju ke bagian bawah celana ayah mertuanya. Di situ tampaknya ada sesuatu yang melengkung yang mengingatkan Lona pada celana suaminya di malam setelah pernikahan: suaminya ngaceng sebelum dia memberikan blowjob. Tapi ini kelihatannya lebih besar dari punya suaminya. Permukaan kainnya naik, seperti membentuk kurva yang tinggi. Hah? Bapak kok bawah celananya berdiri ya? Apa karena barusan handukku lepas? pikirnya. Tiba-tiba muncul rasa yang aneh. Entah dari mana datangnya, dada Lona seperti berdesir. Pikiran bahwa mungkin ayah mertuanya ngaceng karena suka melihat tubuhnya membuat Lona senang. Dan dia jadi penasaran apakah bagian bawah celana itu benar-benar berdiri karena ngaceng atau bukan. Kalau ya, apakah sebesar milik suaminya? Atau bahkan lebih besar? Haah..? Kok makin membesar gitu ya? Tanpa disadari Lona tangan Pak Komo perlahan meraba pahanya. Dielus-elusnya dengan sangat pelan. Berani sekali orang tua ini! Dia sendiri juga sebetulnya nekat saja. Mungkin karena melihat tatapan nanar menantunya ke arah kemaluannya yang membesar dia pikir inilah kesempatannya untuk bisa sekadar meraba-rabanya. Meskipun jauh di dalam hatinya dia ingin betul menyetubuhi tubuh istri putranya itu, tapi saat ini dia hanya ingin menikmati sentuhan jemari Lona sekaligus melihat tubuhnya dan menyentuh kulit lembutnya. Jemari Pak Komo pindah ke lengan Lona. Dia merabnya dengan buku-buku jemarinya lalu dengan punggung jari-jarinya yang keriput. Lembut sekali. dilihat wajah menantunya. Masih merah dan bermimik penasaran dengan mata yang agak melotot. Melihatnya seperti itu dia mengumpulkan keberanian kemudian berkata “Kenapa, nduk? Kok jadi bengong?” “Eh? Oh, gak papa, Pak,” jawab Lona kaget. Dia memandang wajah mertuanya dengan bingung. Saat itu tangan Pak Komo sudah di atas sprei lagi. “Buka aja, nduk, kalo mau lihat.” “Heeh? Maksudnya Bapak?” “Daripada penasaran, yang di itu dibuka aja.. Hehehe..” BREET! Terdengar suara seperti kain yang dengan cepat dibuka paksa. “Haah?” Mata Lona langsung kembali ke kemaluan ayah mertuanya. Tenggorokannya menelan ludah. Rupanya si mertua sudah membuka celananya sendiri. Dan begitu Lona menengok ke bawah tubuh Pak Komo tampaklah suatu benda yang berdiri. rudal. Bisik Lona dalam hati. Dia tahu itu adalah rudal. Tapi saking terkejutnya dia jadi terpaku di tempat. Duduk bersimpuh di kasur pengantinnya, dia tidak sadar kalau tangan kanan yang menahan bagian atas handuknya perlahan turun sehingga lipatan kain itu terlepas. Dan dua daging besar yang montok mencuat keluar dengan sendirinya. “Gede bangeet..” bisik Lona. “Apa kamu bilang, nduk?” tanya Pak Komo terkekeh. Kelihatannya si menantu sudah mulai tergoda. “Itu, Pak.. Heeh?” Lona tersadar dengan malu. “Kalo mau kamu boleh lihat lebih dekat lhoo, nduk..” Gila apa? Masa aku melihat rudal punya mertuaku sendiri sih? batin Lona. Tapi, ya ampuun besar bangeeet. Lona sadar betul dirinya masih perawan. Belum pernah berhubungan bercinta sama sekali kecuali bercinta tanpa penetrasi dan tanpa telanjang dengan suaminya. Tapi dia suka menghisap kelamin lelaki. Kelamin suaminya, Dony. Dia suka rudal. Dan dia tidak puas meskipun si suami orgasme karena hisapannya. Dia tidak puas karena tidak melakukan bercinta seperti suami istri pada umumnya. Dia tidak puas karena rudal suaminya biasa-biasa saja. Terlalu biasa malah. Yang ini gede.. Lebih panjang.. Tebal.. GLEK. Pak Komo tahu ini adalah kesempatan emas. Kapan lagi dia bisa merasakan mulut menantu cantiknya? “Ayoo, nduk..” bujuknya sambil mengelus-elus pinggul dan pantat yang sedikit terbalut handuk. Lona kembali menoleh ke mertuanya dan sadar dirinya sudah setengah telanjang. Dia langsung berusaha membetulkan posisi handuknya dengan malu. “Hah, sejak kapan… “.. Udah gak usah dipake lagi handuknya, nduk. Keburu tidur nih..” Dia menoleh dengan cepat ke rudal Pak Komo. Dadanya kembali berdesir aneh. Dan ada bisikan dari pikiran kotornya yang menyuruhnya untuk mendekat ke rudal itu dan menyentuhnya. “Haah.. Sialan.”
Alona beringsut ke selangkangan ayah suaminya. Dibiarkannya handuk putihnya melorot meninggalkan tubuhnya. Perempuan itu sekarang telanjang. Tepat di depan mertuanya. Entah dia tak peduli kalau tubuhnya dilihat lelaki lain selain suaminya atau memang dia suka telanjang dan dilihat orang lain, dia masa bodoh. Yang penting rasa penasarannya bisa terobati sesuai harapannya. Lona berlutut dan meringkuk. Kedua lututnya menempel dengan tulang belakang yang merunduk melengkung dan pantat yang menungging. Siku tangannya di atas kasur. Wajahnya di tengah pangkal paha tempat tumbuhnya rudal terbesar yang pernah dilihatnya. Bentuknya memang lebih besar dari punya suaminya. Berwarna pucat kemerahan. Tebal dan gendut dengan satu urat bercabang di satu sisi. Kepalanya yang besar mengerucut aneh. Panjangnya lebih dari rudal biasa. Panjangnya tidak berlebihan tapi menggoda mata wanita. Lona suka ini dan ingin memegangnya. “Gimana, nduk? Kamu suka?” Lona mendegar pertanyaan mesum itu. Dia tahu itu rudal mertuanya. Mertua yang baik dan sopan. Yang menghormati Lona sebagai perempuan dan istri putra bungsunya. Dan dia juga tahu yang bertanya tadi adalah mertuanya, si pemilik rudal gendut itu. “Iyaah..” “Apa, nduk? Yang jelas dong…” “Iyaah Lona suka..” jawab menantu Pak Komo sambil mengangguk dan tetap menatap rudal. Woow dia sukaa.. Menantuku suka rudalku. Hehehee.. Girang Pak komo dalam hati. Dia tak menyangka ternyata istri anaknya suka rudal dan mau melihat rudalnya dari dekat. Apakah dia suka bercinta juga? “Kalo suka pegang aja, nduk. Kalo suka disayang-sayang biar tambah gede.. Hehehe..” Bola mata Lona menatap mata tua mertuanya. Tatapannya galak seolah mengancam. Pak Komo tersenyum jengah, seperti ketakutan. Lona kembali memusatkan perhatiannya ke rudal di depan mukanya dan menggerakkan tangan kanannya. Menyentuh rudal Pak Komo dengan mengelusnya. Pelan… Pelan… Jemarinya yang panjang lentik mulai menggenggam batang dagingnya tapi tidak cukup karena saking tebalnya. Rasanya seakan memegang kaleng permen. Lalu tangan kirinya mencoba mencoba menggenggam pangkal rudal itu dengan tangan kanan naik ke puncak batangnya. Dua tangan satu rudal besar, pikirnya. Kemudian tangan kanannya dilepas dan Lona mendekatkan hidungnya yang mancung. Diendus-endusnya seperti kucing betina mengendus makanan. Bagi Lona baunya jantan sekali dan menimbulkan selera libido wanita. Memang amis dan aneh tapi begitulah bau kelamin. Lona memperhatikan sepertinya rudal bapak suaminya ini berkeringat dan berkedut pelan seolah minta dilayani lebih lanjut. Betul saja. Jemari kiri Lona mengocok daging segar itu perlahan. Ke atas ke bawah. Rasanya licin berminyak. Dan dia tiba-tiba ingat kalau jari-jarinya baru saja ditaruh minyak telon untuk memijati mertuanya. Maka terciumlah seketika bau minyak telon. rudal itu pun makin berkedut seiring kocokan Lona. Mendadak jemari cantik Lona berhenti. Dia tak sengaja melihat cincin emas yang melingkari jari kenikmatansnya itu. Cincin pernikahannya. Pernikahan suci yang baru berjalan kurang lebih dua minggu. Pernikahannya dengan Dony Sutomo anak dari sang pemilik rudal. rudal yang sedang dikocokinya dengan sadar dan rela. Pikiran kotor Lona kemudian berbisik mengingatkannya betapa tidak bahagianya pernikahannya yang sekarang. Ditinggal pergi jauh. Hanya seminggu di rumah. Tanpa malam pertama. Tanpa bercinta. Dadanya menjadi sakit. Bergetar terluka mengingat suaminya. Dan luka itu semakin melebar dan menguarkan kebencian semu. Pikiran kotor itu juga menyiratkan, jangan sampai suaminya nanti pulang ke rumah tidak sesuai janji. Kalau sampai telat pulang maka dendam akan menusuk dada itu. Akhirnya air mata berlinang di matanya. Dia memejamkannya. Tidak ingin dilihat si empunya rudal yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari suaminya. Tentu saja si rudal dan pemiliknya tidak tahu kalau si perempuan muda menangis karena si pemilik itu matanya meram menikmati. Pak Komo hanya bisa menengadahkan wajah dan membuka mulut. Memikirkan betapa amat beruntung dirinya hari ini. Bisa melihat istri anaknya telanjang bulat dan menikmati kocokan lembut pada rudal besarnya. Lenguhan pelan keluar dari mulutnya dengan suara seperti kakek-kakek penyakitan. Makin lama suara si kakek makin panjang dan melengking karena kocokan menantunya semakin intens. Clekk.. clek.. clekklek.. clklek.. clek.. Suara kocokan basah pada rudal Pak Komo. Lona, sambil memperhatikan cincin nikah di jemari kirinya, mengocok-ngocok rudal mertuanya dengan kencang. Terus.. Terus.. tambah kencang. Dia seperti geram. Cincin itu terlihat berminyak dan berkilau di jari kenikmatansnya. Membuat nafsunya makin naik. Clekk.. clek.. cleklek.. clklek.. clek.. cleek.. “Aah.. ah.. aahh, nduuk…” bapak mertua Lona melenguh. “Terus nduk.. Terus… Aakh..”. Clekclekclekclekclekclek… Maafkan aku, mas.. Maafkan istrimu ini.. batin Lona menderita. Aku ga kuat lagi, mas… “CUUHH!” Tiba-tiba Lona meludah. “CUHH.. CUHH!” Lona menyemprotkan ludahnya lagi. “Krcshkkhh…” Lona menarik ludah dari tenggorokannya yang paling dalam. “Kkrshkkhh.. Cuuhh..” Dan segumpal ludah yang besar pun muncrat keluar dari bibirnya yang tipis. Menempel berhamburan pada permukaan kulit batang rudal ayah mertuanya. Gilaaa.. Rupanya kamu perempuan yang suka melakukan hal menjijikkan seperti itu yaa menantuku.. kata mertua Lona dalam hati, kaget tapi senang.
Kamu jahat, mas.. Jahat banget sih udah ninggalin istrimu yang baru aja kamu nikahi.. batin Lona, memandangi bergumpal-gumpal liur yang menempel di rudal itu. Tebal dan berbusa. Bahkan sampai menyebar ke bawah perut dan selangkangan mertuanya. Maafkan aku, mas.. Sekali ini saja.. Bisiknya lirih seraya menundukkan kepala. Poni rambut pendeknya berjatuhan. Aku sayang kamu… Dan mendaratlah bibir kenikmatans Alona di kepala rudal bapak suaminya. Lidahnya menempel di sana. ******** Komo Sutomo tersentak kaget. Dia membuka matanya dan harapannya tercapai. “Oo.. Oohh.. Akh.. Akhh…” dia mendesah kegelian. Lona punya lidah yang panjang sekali. Ujungnya meruncing dan bergoyang-goyang dengan licinnya di kepala rudal si bapak mertua. Melingkar-lingkar dan melecuti ujungnya yang berlubang mungil. Jemari Lona yang bercincin nikah tak lupa mengocoknya; kali ini dengan pelan tapi intens. Kepalanya sampai miring ke kanan dan kiri. Benar-benar menikmati yang dilakukannya. Desir aneh kembali menjamah dalam dadanya. Membuat suatu ruang di dalam bawah perutnya terasa mulas. Dia sange. Ingin yang lebih dari sekadar menjilati kepala rudal. Lupa sudah dirinya akan suaminya yang telah tega meninggalkannya demi pekerjaan. Meninggalkannya berdua saja dengan ayah mertuanya yang tua renta. Bahkan meninggalkannya untuk menjilat-jilat rudal si orang tua sambil bertelanjang bulat. Biar tua tapi rudalnya muda. Gak seperti punyamu, mas.. kata Lona dalam hati. Lidah Lona kemudian menjulur ke bawah. Ke batang daging rudal itu. Melata di permukaan kulitnya. Menyapu sisi-sisi rudal dari bawah ke atas. Air liur yang menempel berserakan di batangnya juga ikut tersapu. Menginggalkan jejak-jejak basah berlendir. Si rudal berkedut- kedut. Enak sekali, mas.. Enak.. Aku suka ini.. Bapak mertua Lona senang sekali bukan main. Dari pandangannya dia menyaksikan betapa bercintay menantunya ketika sedang menjilati rudalnya. Wajah ayu Lona kelihatan binal saat memiring-miringkan kepala sambil mengeluarkan lidah. Lidah itu merah muda dan mengkilap menari-nari di ujung kepala dan batang tebal kemaluannya. Terdengar juga suara napas Lona yang agak tersengal. Pak Komo tahu menantunya ini menikmati yang dilakukannya. Tanpa paksaan. Karena memang dia suka. Pandangan mesum Pak Komo berpindah ke tubuh Lona yang telanjang bulat berwarna hitam kenikmatans berkilat. Keringat dingin membuat tubuh sintal itu berminyak dan terlihat bercintay. Mungkin karena terlalu bernafsu dan belum mandi menjadikan kulit menantunya mengeluarkan keringat. Buah dadanya menggantung dan bergoyang-goyang dengan indahnya. Pantat bulatnya di belakang mencuat tinggi seolah menantang si pemilik rudal. “Nduuk.. Lidahmu enak sekali.. Oohh.. Sshh..” desah Pak Komo keenakan. Lona mendengar desahan itu dan senang mengetahui kalau mertuanya keenakan. Dijilatinya terus rudal itu. Terus dan terus. Sampai mulutnya berlimpah leleran air liur. “Aaakh.. Ssshhsh.. Coba dihisap dong, nduk..” Lona berhenti dan menatap mertuanya. “Hmm? Apaaa?” tanyanya dengan menggoda lalu melanjutkan lagi tarian lidahnya. “Diisep nduk.. Dikulum. Akh.. Ooh.. Sialaan..” Pak Komo kegelian. Lona berhenti lagi. Dia ludahi rudal itu dan mulutnya membuka. Memasukkan ujung rudal ke dalamnya dan menghisap. Sssluuurrp…. “Anjiiing.. Akh.. Ugh.. Ugh..” ayah mertua Lona merasakan rudalnya ngilu bukan main. Kakinya kelojotan. Awalnya mulut menantunya hanya diam, menyembunyikan kepala rudalnya. Nafas nya berderu. Beberapa detik kemudian mulut itu semakin turun ke bawah. Dalam.. Dalam.. Lona berusaha memasukkan batang itu sampai pangkalnya. Tapi rupanya cuma bisa setengahnya. Lalu dia diam lagi. Seperti mencoba mengambil nafas untuk melanjutkan hisapan perdananya yang terdalam. Setelah itu rahangnya ditarik dari rudal gendut itu. Terlepas dari mulut kenikmatansnya. “PUAAH! Hah.. hah.. hah..” Lona tampak tersengal-sengal. “Fuuuhh..” “Kenapa nduk..? Capek yaa?” Lona mendongak dan menatap ayah mertuanya dengan jutek. Tangannya lalu bergerak memegang celana Pak Komo yang masih melingkar di paha dan membukanya paksa. “Biar nyaman,” ujarnya sambil membuang celana pendek kucel itu entah kemana. Lona betul-betul menikmati ini. Fakta bahwa dirinya sedang telanjang bulat di depan selangkangan orang tua suaminya dan melihat kelamin gendut itu membuatnya bergairah amat sangat. Dia sadar dia masih perawan. Kemaluannya yang sudah tidak mens masih suci dan hanya untuk suaminya ketika dia pulang nanti. Dan Lona ingin mempertahankan hal itu. Meskipun untuk mulut dia tak bisa menjaganya. Maka, di saat suaminya dengan tega meninggalkannya, inilah moment yang tepat untuk kembali memuaskan mulut, bibir, dan lidahnya. Tentu saja dia tahu dia salah. Dia adalah seorang istri dari suami yang sedang mencari nafkah di tempat yang sangat jauh. Dan sekarang dia sedang memuaskan birahi mulutnya akan rudal selain punya suaminya. rudal siapapun selain rudal suaminya saja tidak boleh. Apalagi ini rudal mertuanya sendiri. Ayah dari suaminya. Calon kakek dari calon anaknya nanti. Inilah akibatnya kalau masih perawan setelah menikah, pikirnya dalam hati. Gara-gara mens. Habis mens dia malah pergi. Huuh.. “Nduuk.. Kok malah bengong, nduk?” tanya Pak Komo dengan senyum mesum menjijikkan. “Heeh? Hmm.. Gak papa..” “Jangan diliatin aja, nduk, rudalnya. Sayang tauu.. Hahaa,” bujuk mertua Lona.
Lona masih memperhatikan rudal mertuanya itu. Sepertinya tingkat kebasahan air liurnya yang menempel di daging tebal berurat itu mulai berkurang. Dia mencoba mengambil nafas. “Haah fuuuh.. Haah fuuuh.. Haap.” Segera saja mulut Lona kembali beraksi. Kali ini tidak diam di helm rudal itu. Tapi mulai di gerakkan naik turun pelan. Sehingga setengah rudal itu bisa perlahan dilewati. Mulutnya mengulum batang rudal itu dengan luwes. “Ssluurp.. slurpp.. haap.. sslrruuup.. hmmph.. hmmph.. puaah.. sshssh..” “Aaakhkh.. Gilaa kamu, nduk.. Nikmat banget mulutmu..” lenguh mertua Lona. rudalnya terasa basah sekali. Seperti disiram air yang kental. Ditambah kocokan tangan kanan dan mulut membuat rudal besarnya terasa seperti mempenetrasi serambi lempit. serambi lempit pengantin perawan. Timbul pikiran untuk memerawani istri putranya itu. Pak Komo tahu mereka berdua hanya melakukan bercinta tanpa penetrasi karena Dony pernah curhat kalau Lona sedang mens. Dia juga sering mencuri dengar di depan pintu kamar pengantin mereka setiap tengah malam. Yang terdengar dari balik pintu hanyalah suara orang sedang berciuman dan menghisap, plus desahan tegang. Kasihan sekali istrimu, nak.. Apa aku saja yang menggantikan dirimu? Ayah Dony terus mengamati pelayanan blowjob yang diberikan menantunya sambil mendesah keenakan. Kepala Lona masih naik turun dengan lembut pada rudalnya. Seolah takkan berhenti menghisap kalau tidak disuruh. Rambut polwan bopnya berantakan. Helai- helainya berloncatan kesana kemari. Cantik sekali. Sampai akhirnya Pak Komo tak sengaja melirik ke samping bantalnya: ada handphone. Milik Lona, tentunya.
Komentar
Posting Komentar