Ibu Tunawisma Menyembuhkan Luka dengan Bekicot

Nama saya Tiyo, seorang manajer umum di perusahaan teknologi informasi di Yogyakarta. Kehidupan saya di kota ini nyaman; perusahaan menyediakan rumah dan kendaraan untuk saya. Meskipun masih lajang, rutinitas kerja saya terbilang padat. Namun, saya selalu menyisihkan waktu untuk berefleksi dan menikmati keindahan Yogyakarta setelah pulang kantor.
Suatu malam, sekitar pukul sebelas, kejadian tak terduga terjadi. Saat mengemudi pulang, kendaraan saya bersenggolan dengan seorang anak kecil yang sedang berjalan kaki bersama ibunya. Beruntung, dampaknya tidak terlalu parah; hanya luka ringan di paha sang anak. Saya menawarkan bantuan untuk membawa mereka ke rumah sakit, tetapi sang ibu menolak dengan halus, meyakinkan saya bahwa luka tersebut tidak serius. Meskipun demikian, saya tetap menawarkan tumpangan pulang. Namun, sang ibu kembali menolak. Saat itulah, seorang gadis kecil mendekat, membawa sebuah bekicot. Ia memberikannya kepada ibunya, yang kemudian dengan tenang menghancurkan cangkang bekicot dan mengoleskannya pada luka anak perempuannya, Tika. Setelah itu, ibu dan anak-anaknya bersiap untuk pergi. Melihat kondisi mereka, dan merasa bertanggung jawab atas kejadian tersebut, saya kembali mengulurkan bantuan. Saya menyadari, setelah beberapa percakapan singkat, bahwa mereka ternyata adalah keluarga tunawisma. Keprihatinan saya terhadap situasi mereka akhirnya mendorong saya untuk mengundang mereka bertiga untuk bermalam di rumah saya. Meskipun ragu-ragu awalnya, mereka akhirnya menerima tawaran saya. Malam itu, saya merasakan sebuah tanggung jawab yang lebih besar dari sekedar kecelakaan lalu lintas.
ang aku dapatkan didalam mobil perjalananp, simbok ini ternyata pulanggak suaminya saat mengandung Tika, yang akhirnya aku ketahui namanya Intan. Simbok ini namanya namanya Inem, usianya sekitar 42 tahun, dan anaknya si Tika umurnya 14 tahun sedangkan Intan baru 11 tahun. Tika sempat lulus SD, sedangkan Intan hanya sempat menikmati bangku SD kelas 4.
Setelah sampai dirumah, Mbok Inem dan kedua anaknya langsung ke aku suruh mandi dan makan malam. Ternyata simbok, Tika dan Intan tidak membawa baju ganti sehingga setelah mandi baju yang dipakainya tetap yang tadi. Padahal baju yang dipakai ketigany sudah tidak layak dipakai lagi. Simbok memakai daster yang lusuh dan sobek disana-sini sedangkan Tika dan Intan sama saja lusuh dan penuh jahitan disana. besok hari minggu, aku punya rencana membeli baju untuk mereka bertiga. Aku memang tipe orang yang nggak bisa melihat ada orang lain yang menderita. Kata temen-temen sih, aku termasuk orang yang memiliki jiwa sosial yang tinggi.
“Tika dan juga kamu Intan makan yang banyak ya.. biar cepet gede..”. “Inggih Ndoro.., nggak boleh kalau Intan habiskan semuanya, karena Intan sudah 2 hari nggak makan”. “Boleh nduuk.., Intan dan Tika boleh makan sepuasnya disini”.
Mulai dari sini awal dari petualangan bercintaku. Setelah acara makan malam selesai, ketiganya aku suruh tidur di kamar belakang. jam 1 malam setelah aku selesai menonton acara TV yang membosankan, aku menuju kekamar belakang untuk meneggok keadaan mereka. ketika aku masuk kekamar mereka, jantungku langsung berdeguk cepat dan keras saat aku melihat daster Mbok Inem yang tersingkap sampai ke pinggang. Ternyata dibalik daster itu, Mbok inemku ini memiliki yang betul-betul mulus dan dibalik CDnya yang lusuh dan sobek di bagian bawah terlihat dengan jelas jembutnya yang tebal dan hitam. Pikiranku langsung melayang dan rudalku yang masih perjaka ini langsung berontak.
Setelah agak tenang, tangan langsung bergerilnya mengelus paha mulus Mbok inemku ini. Setelah puas mengelus pahanya, saya mulai menjilati ujung paha dan berakhir dipangkal pahanya. Saya sempat mau muntah ketika mulai menjilati klitorisnya. Di depan tadi kan aku sudah bilang kalau CD Mbok ku ini sobek dibagian depan.., jadi klitorisnya terlihat dengan jelas. Sedangkan yang bikin aku mau muntah adalah bau CDnya. Ya.. mungkin sudah berhari-hari tidak melihat. Setelah sekitar 13 menit aku jilati klitorisnya dan ternyata Mbok inemku ini tidak ada reaksi.. ya mungkin terlalu lelah shingga tidurnya pulas banget, aku mulai keluarkan rudalku dan mulai aku gesek-gesekkan di klitorisnya. Aku tidak berani melapas CDnya takut dia bangun.Ya.. aku hanya berani mengocok rudalku sambil memandangi klitoris dan juga teteknya. Ternyata Mbok inemku ini tidak memakai BH sehingga menempatkan payudaranya sempat muncul di balik dasternya. Aku tidak berani untuk memeras teteknya karena takut Mbok Inem akan bangun.
Sedang asyik-asyiknya aku mengocok rudalku, si Tika bangun dan melihat ke arahku. Tika sempat mau teriak dan untung saja aku cepat menutup mulutnya dan memimta Tika untuk diam. Setelah Tika diam, berhubung aku sudah tanggung, terus saja aku kocok rudalku. Tika yang masih terduduk lemas karena ngantuk, tetap saja melihat tangan kiriku yang mengocok rudalku dan tangan kananku mengusap-usap paha mulus ibunya. Sambil melakukan aktivitasku, aku pandangi si Tika, gadis kecil yang benar-benar polos, dan aku melihat Tika melihat mataku terus berpindah ke paha ibunya yang sedang aku elus-elus berulangkali. Setelah sekitar 8 menit berlalu, aku tidak tahan lagi, dan akhirnya “.. croot.. crrott.. croot..” ada 6 kali aku menembakkan pejuhku ke arah clit Mbok inemku ini.
Saat aku keluarkan pejuhku, si Tika menutup matanya sambil memeluk kedua kakinya. Pada saat itulah aku tanpa sengaja melihat pangkal pahanya dan ternyata.., tikaku ini tidak memakai CD. Saat aku sedang melihat serambi lempitnya Tika, dia bilang.. “Ndoro.. kenapa pipis di serambi lempitnya simbok”. aku sendiri sempat kaget. “Nduuk.. itu biar ibumu tidur nyenyak..”. “Ndoroo.. Tika kedingingan.., Tika mau pipis.. tapi Tika takut ke kamar mandi..”. “Ya.. sudah Nduk.. ayo aku antar ke kamar mandi”.
Tika kemudian aku ajak pipis ke toilet di kamar tidurku. Aku sendiri juga pengen pipis, terus Tika aku suruh jongkok didepanku. Tika kemudian mengangkat roknya dan.. suur.. banyak sekali air seni yang keluar dari serambi lempitnya. Aku sendiri hanya sedikit sekali kencingku. Setelah acara pipisnya selesai, Tika aku gendong dan aku dudukkan di pinggir tempat tidurku. Lalu aku peluk dan aku belai lembut rambut panjangnya yang sampai ke pinggang. “Ndoro.. Tika belum cebok.. nanti serambi lempitnya Tika bau lho.. Ndoro..”. “Tidak apa-apa Nduk.. biar nanti Ndoro yang bersihin serambi lempitnya Tika.. Tika bobok disini ya.. sama ndoromu ini..”.
Kemudian Tika aku angkat dan mulai aku baringkan di ranjang empukku ini. Tangganku mulai aktif memperhatikan, pipinya, , dan juga payudaranya yang lumayan montok. Pada saat kami mengelus pahanya.. “Ndoro.. kenapa mengusap-usap kaki Tika yang lecet..”. “Oh iya Nduk.. Ndoro lupa..”. Tahu sendirilah, aku memang benar-benar sudah horny untuk menjadi Tika, gadis kecilku ini. Bayangkan, di sebelahku ada gadis 14 tahun yang begitu polos, dan diam saja ketika kami mengelus seluruh tubuhnya.
Pembaca.. gimana udah belum ngebayanginya.. udah belum..! udah yaa.. aku terusin ceritanya.
Kemudian aku jongkok diantara dan diatas aku singkap rok yang dipakai Tika sampai ke pinggang. Sekarang terpampanglah di hadapanku seorang gadis kecil usia 14 tahun denga bibir video yang masih belum ditumbuhi bulu. Setelah pahanya aku kangkangkan, terpangpanglah segaris bibir serambi lempit yang dikanan-kirinya agak mengelembung.., eh maksudku tembem. Dengan jari telunjuk dan Ibu jari aku berusaha untuk menguak isi didalamnya. Dan ternyata.. isinya merah muda, basah karena ada sisa pipisnya yang tadi itu lho dan agak mengkilap.
Aku pun mulai menyedot serambi lempitnya Tika dengan kuat dan aku melihat Tika menggigit bibir bawahnya sambil kepalanya digoyang kekanan kiri. “Ndoroo.. geli Ndoro.. serambi lempitnya Tika diapain sih ndoroo..”. Akupun tidak peduli dengan keadaan Tika yang menendang-nendang dan mencengkeram seprei ranjangku sampai sobek disana sini. Dan akhirnya.. “Ndoroo.. sudah Ndoro.. Tika mau pii.. piis dulu Ndoro..”. Dan tidak lama kemudian “Ssuur.. suur.. suur..” Banyak sekali cairan hangatnya membanjiri mulutku. Aku berusaha keras untuk menelan semua cairan serambi lempitnya yang mungkin baru pertama kali dikeluarkannya.
Setelah kujilati dan kuhisap sampai bersih, akupun tiduran disebelahnya dan kurangkul tikaku ini. “Ndoro.. maafin Tika ya.. Tika tadi pipis di mulutnya Ndoro.. pipis Tika bau ya Ndoro..”. “apa-apa Nduk.. tapi Tika harus dihukum.. karena sudah pipis dimulut Ndoro..” “Tika mau dihukum apa saja Ndoro.. asalkan Ndoro nggak marahin Tika..”. “Hukumannya, Tika gantian minum pipisnya Ndoro.. mau nggak..”. “Iya Ndoro..”.
Akhirnya aku keluarkan rudalku yang sudah tegang. Begitu rudalku sudah aku keluarkan dari CDku, Tika yang masih polos itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku melihat wajah Tika agak memerah. Setelah aku bertumpu kedua tangan, aku sodorkan rudalku di wajahnya dan aku suruh Tika untuk memegangnya. “Nduk.. ayo dipegang dan dielus-elus..! “Inggih Ndoro.. tapi Tika malu Ndoro.. Tika takut Ndoro..”. “Nggak apa-apa Nduk.. ini nggak nggigit kok.. ini namanya rudal Nduk..”. Kemudian gadis kecilku ini mulai memegang, mengurut, meremas dan kadang-kadang diurut. “Nduk.. rudalnya ndoromu ini diemut ya..”. “Tapi Ndoro.. Tika takut Ndoro.. Tika jijik Ndoro..”. “Tidak apa-apa Nduk.. diemut saja seperti saat Tika ngemut es krim.. ayo nanti Tika Ndoro kasih es krim.. mau ya..”. “Benar Ndoro.. nanti Tika dikasih es krim..”.”Iya Nduk..”.
Tika pun jongkok di antara pahaku dan mulai memasukkan rudalku ke mulut yang mungil. Agak susah sih, bahkan kadang-kadang rudalku mengenai giginya. “Nah gitu nduuk.. diisep ya.. yaa.. ya gituu.. nduuk..”. Sambil Tika mengoral rudalku, kaos lusuhnya pun aku angkat dan aku dari tubuh Tika mungilnya. Aku elus-elus teteknya dan kadang-kadang aku remas dengan keras. “Aku gemes banget sih sama payudaranya yang bentuknya agak meruncing itu”. 12 menit kemudian, saya merasakan rudalku sudah berdenyut-denyut. Aku tarik kepala Tika dan aku kocok rudalku dimulut mungilnya.. dan.. aku tekan sampai menyentuh kerongkongannya dan akhirnya “.. croot.. croot.. croot.. cruut..!” Cairan pejuhku sebagian besar tertelan oleh Tika dan hanya sedikit yang meneteskan keluar dari mulutnya.
“Ndoroo.. pipisnya banyak banget.. Tika sampai mau muntah..”. “He.. eh.. nduuk.. tapi enak kan.. pipisnya Ndoro..”. “Inggih Ndoro.. pipis Ndoro kental banget.. Tika sampai nggak bisa telan.. agak amis Ndoro..”. Aku memang termasuk laki-laki yang suka merawatku. Hampir setiap hari aku fitnes. Menuku setiap hari: susu khusus lelaki, madu, 6 butir telur mentah, dan juga suplemen protein produk Amerika. Jadi ya wajar kalau spermaku kental dan agak salah.
Kemudian aku peluk bidadariku kecilku ini dan sesuai janjiku dia aku kasih es krim rasa vanilla. Setelah habis Tika memakan es krimnya, dia aku telentangkan lagi diranjangku. Terus aku kangkangkan lagi pahanya dan aku mulai lagi menjilati serambi lempit tembemnya. terus terang saya penasaran sebelum membobol produk daranya. “Ndoro.. mau ngapain lagi.. nanti Tika pipis lagi lho Ndoro..”. “Tidak apa-apa Nduk.. pipis lagi aja Nduk.. Tika mau lagi khan es krim..” “Mau Ndoro..”.
Setelah aku siap, pahanya aku kangkangkan lagi lebih lebar, dan aku mulai memasukkan kepala rudalku ke lubang surgawinya. Baru masuk sedikit, tikaku meringgis. “Ndoro.. serambi lempit Tika diapain.. kok sakit..” Aku sempat tarik ulur rudalku di liang serambi lempitnya. Dan setelah kurasa mantap, aku tekan dengan keras. Aku merasakan ujung rudalku menghasilkan unggul tipis, yang aku yakin itu adalah murni daranya. “Ndoorroo.. sakiit..” Langsung aku peluk Tika, kuciumi wajah dan bibir mungilnya. “Tidak apa-apa Nduk.. nanti enak kok.. Tika tenang saja ya..”. Setelah kudiamkan saat ini, aku mulai lagi mengamati beberapaknya dan aku melihat masih sambil menggigit bibir bawahnya.
“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli Ndoro.. ahh..” Itulah yang keluar dari mulut Tika. “Auuhh.. oohh.., Ndoro.., periih.., aahh.. gelii Ndoro.. aahh..,”. SAmbil aku terus meusuk-nusuk serambi lempitnya, aku selalu memperhatikan wajah imutnya Tika. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Wajahnya memerah, kadang-kadang kadang-kadang menggigit bibir bawahnya dan jika aku melihatnya hanya melihat putihnya saja. Kedua kaki Tika pun sudah tidak beraturan di sana-kesini dan juga kedua menarik-narik seprei kasurku hingga terlepas dari kesulitan. “Auuhh.. oohh.., ndoroo.., aahh.. ooh.. aahh, ndoroo..”.
Aku mulai merasakan ada denyutan-denyutan serambi lempitnya di rudalku, pertanda tikaku sebentar lagi orgasme. Kepala Tika pun mulai menengadah ke atas dan kadang-kadang melengkung. Sungguh pemandangan yang sensasional, gadis 14 tahun yang masih polos, tubuhnya mengelinjang dengan desahan-desahan yang betul-betul erotis. Aku yakin para pembaca setuju dengan pendapatku, tapi pembeli pembaca kok megang-megang “itu” nya sendiri, hayo terangsang ya. Aku tahu kok, nggak usah malu-malu, terusin aja sambil membaca ceritaku ini.
“Oohh.. ahh.. auuhh.. geli ndoroo.. ahh..” “Ndoroo.. Tika mau pipiiss.. ndoroo..” “Seerr.. suurr.. suurr.., rudalku seperti disiram air hangat..” . Aku peluk sebentar tikaku untuk memberikan kesempatan gadis kecilku menyelesaikan atau gamesme. Setelah agak reda, aku lumat-lumat bibir mungilnya. “Maapin Tika ya Ndoro.. Tika pipis dikasurnya Ndoro..”. “Tika malu Ndoro.. udah gede masih ngompol di kasur..”. “Tidak apa-apa Nduk.. (lugu sekali gadisku ini).. Ndoro juga mau pipis di kasur kok..”.
Aku sendiri sudah nggak tahan. Kakinya aku angkat, lalu kuletakkan di pundakku. Dengan posisi ini kurasakan rudalku menyentuh dinding rahimnya. serambi lempitnya jadi becek banget, dan saya mulai sodokan rudalku. “Ndooro.. Tika capek.. Tika mau bobok.. ndooroo..”. “Iya nduuk.. Tika bobok saja yaa..”. “Memeek Tika periih.. ndooroo..”. Kutekan keras-keras rudalku ke liang kenikmatannya dan kutarik pantatnya dan “croot.. cruut.. croot.. croot.. cruut.. croot..!”. Aku muntahkan pejuhku kedalam rahimnya.
Aku cabut rudalku dari serambi lempit tembemnya, terlihat lendir putih bercampur dengan darah segar yang mengalir dari liang limbahnya. “Ndoro.., kenapa Ndoro pipis diperutnya Tika.., perut Tika jadi hangat Ndoro..”. “Iya nduuk.., biar kamu nggak kedinginan.., ayo sekarang Tika bobok ya.., sini Ndoro kelonin..”. “Inggih Ndoro.., sekarang Tika capek.., Tika pengen bobok..”. Saya perhatikan serambi lempitnya sudah mulai melebar dan membandingkan dibandingkan sebelum aku perawanin. Aku peluk dia dan aku cium dengan mesra Tika, si gadis kecilku. Aku dan tikapun akhirnya tercapai dengan pulas. Nikmat.
Bagaimana pembaca sudah orgasme belum.., kalau udah.., dibersihin yaa.., bobok.. byee. Nantikan ceritaku selanjutnya, dimana aku akhirnya bisa juga menikmati Mbok Inemku dan juga bidadari kecilku, si Intan.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Komentar
Posting Komentar