Rahasia Mahasiswi Cantik Itu

Rahasia Mahasiswi Cantik Itu

Halo semuanya! Saya seorang pembaca setia yang ingin berbagi cerita. Bukan maksud saya untuk menyaingi karya-karya luar biasa yang sudah ada, tapi saya berharap cerita ini bisa dinikmati.

Kisah ini bermula dari lima sahabat yang bertemu di masa orientasi siswa dan membentuk kelompok mereka sendiri, "Youngnicorn"—mungkin sebuah plesetan dari "unicorn," ya? Kelima sahabat tersebut adalah Natasha Quincy Fadhira, Cecilia Alissa, Karnia Juwita, Claire Darmawan Putri, dan Muthia Lorensia. Persahabatan mereka terjalin erat berkat kebersamaan mereka dalam satu gugus selama masa orientasi.

Bab 1: NAT

Nama saya Natasha Quincy Fadhira, teman-teman biasa memanggil saya Nat atau Tasha. Saya bersekolah di sebuah SMA swasta ternama di kota saya, mengenakan seragam putih abu-abu yang familiar. Tinggi badan saya sekitar 167 cm, meskipun saya kurang ingat pasti karena terakhir kali mengukurnya adalah saat audisi anggota tim tari di kelas sepuluh—setahun yang lalu. Saya merasa cukup beruntung memiliki penampilan yang menarik, dan sering dipuji teman-teman. Mereka juga sering berkomentar tentang bentuk tubuh saya yang proporsional.

Keluarga saya termasuk berada dari segi ekonomi dan penampilan. Ibu saya memiliki kecantikan yang menawan, dan sering disebut mirip dengan Dian Sastro. Ayah saya memiliki postur tubuh yang tegap dan tampan. Senyum dan sapaan beliau selalu mampu membuat orang merasa nyaman. Saya adalah anak tunggal, satu-satunya putri dari orang tua saya.

Tiba-tiba, bunyi bel pagi menggema. Saya baru saja tiba di sekolah. "Astaga! Kalau tidak buru-buru, saya akan terlambat!" Saya pun berlari secepat mungkin menuju kelas.

Cerita Sex Dewasa - Rahasia Mahasiswi Cantik Itu
ncang. “Shit, mesti lewat parkiran motor. Gaada waktu buat muter arah. Ah gua pasti bakalan jadi tontonan sama anak anak cowok nih. Ahelah” umpatku dalam hati. Karena aku harus lari melewati parkiran motor yang pasti bakal rame sama anak anak cowok yang nakal dan lebih suka memilih untuk masuk ke dalam kelas sesudah bel berbunyi hanya untuk ngumpul-ngumpul dan merokok di luar sekolah. Dan akhirnya dengan terpaksa aku memilih untuk melewati parkiran motor. Tetapi kali ini aku menurunkan kecepatanku, aku memutuskan untuk hanya berjalan cepat. “suit suit. Eh si bohay, mau kemana nih?” terdengar salah satu dari mereka bersorak ke arah ku dan teman-temannya yang lain tertawa dengan keras. Memang ini sekolahan, mereka gabakalan berani berbuat apa apa selain itu. Tapi tetap saja risih rasanya, walaupun sedikit bangga dengan panggilan begitu hehehe. “heh udah jangan diketawain napasih” seseorang mencoba membelaku, dari suaranya aku menilai dia seorang cowok. “sekali sekali juga dapet pemandangan kaya gini. Jangan ribut deh. Nikmatin aja” “tapi ga harus diketawain juga” Aku mendengar sedikit ribut-ribut dari kejauhan. Aku masih berpikir, dan mencoba menebak siapa yang membelaku tadi. Ah sudahlah, gausah terlalu dipikirin, yang penting sekarang udah selamat dari mereka. Aku kembali berlari menuju ke arah kelas. “OH! Natasha Quincy Fadhira! Maaf nona, tetapi anda sudah terlambat dan kelas saya sudah dimulai. Silahkan pintu keluar di sebelah sana” ujar pak Martial di depan kelas sambil sedikit berteriak seakan memanggil semua murid untuk melihat ke arahku. “Tapi pak, saya kan hanya terlambat beberapa menit” aku mencoba untuk sedikit memelas, karna ini sudah kali ke empat aku terlambat pelajaran Sejarah ini. Aku tidak ingin orang tua ku datang ke sekolah karna dipanggil oleh guru BK. “Tapi Natasha, saya hanya memberi kelonggaran 15 menit untuk terlambat masuk dalam pelajaran saya. Dan anda nona sudah terlambat 20 menit.” “Pak, beri kelonggaran kali ini aja pak. Saya…” “Pintu keluar di sebelah sana” pak Martial memotong sebelum aku mencoba untuk menjelaskan keterlambatanku. Daripada berdebat yang hasilnya akhirnya sudah diketahui bahwa aku tidak akan menang, aku memutuskan untuk keluar. Dan mencoba untuk duduk sebentar untuk mengambil nafas. Ini alasan kenapa aku berlari, pelajaran Sejarah yg digurui oleh Bapak Martial ini hanya memberi kelonggaran 15 menit untuk siswa nya yg terlambat. Dan jelas aku tidak ingin terlambat atau malah lebih parahnya orangtua ku dipanggil karena ini. Aku gamau kalau sampai di cap siswi bandel oleh guru-guru. Bandel jangan, nakal bolehlah hihihi. Aku mengeluarkan smartphone ku dan membuka aplikasi chating, masuk ke dalam satu group yang bernama “YOUNGNICORN”, plesetan dari unicorn atau apalah ntahlah. Group yg terdiri dari 5 orang, dan salah satu nya memberi nama seperti itu, aku hanya mengikuti. “Yang telat mana nih” Tak lama kemudian, masuk notification tanda chat ku di balas “I telat nih” Rere membalas. “Dimana yu re?” “I masih on the way hahaha” “yaelah. Jam segini masih otw? Parah lu ngebonya” “I abis begadang. Ntar I chat lagi, lagi bawa mobil” “HEH! RIBUT BENER, GATAU ORANG LAGI BELAJAR APA?” Nia pun bergabung dalam chat. “lalalala~ EGP~ belajar apaan bisa bales chat” aku membalas. “gua liat tadi Cilia telat juga. Tapi gatau tuh anak dimana” Nia mencoba memberitahu. “ohya? Coba gua chat dulu” “gaperlu. Gua di lantai 3, di dekat ruang olahraga.” Cilia memberitahu keberadaannya. Akupun menuju ke tempat yang diberitahu Cilia. “ heran deh, ngapain coba dia di lantai 3.” batinku. Lantai 3 terdiri dari 2 labor yang jarang digunakan, beberapa kelas, gudang dan ruang olahraga. Aku masih heran dengan apa yang dilakukan anak ini di lantai 3 tersebut. Sesampainya aku di ruang olahraga, yang cukup jauh dari kelas-kelas, aku mendengar suara-suara aneh. Aku mencoba untuk mendekat pelan-pelan, terdengar rintihan-rintihan dari dalam ruangan tersebut. “Ngapain coba ni anak di dalam, pake suara desahan lagi.”

DUAAR!!

Aku mendorong pintu ruangan tersebut dengan lumayan keras. Terlihat Cilia tidur di atas meja yang di susun rapi dengan rok yang sampai ke pinggang, dan baju seragam yang terbuka 3 kancing serta BH yang terangkat. Memperlihatkan toketnya yang ranum, dengan puting imut yang mengeras. Disampingnya, aku melihat seorang cowok yang berbadan atletis, dengan rudal yang panjang dan berurat. Aku taksir mungkin 18cm mungkin. Setengah menggantung mungkin karena kaget hahaha. Dengan panik ia menaikkan celananya. Aku tertawa terbahak-bahak. Melihat ia panik. “eh Agha, santai aja kali. Lanjutin aja hahaha” aku tertawa. “wah sialan Nat. Kaget gue. Kirain tadi bakal ke-gep.” Ia melepaskan pegangan pada celananya. “lagian elu Nat, pake acara ngagetin segala.” Cilia mulai angkat bicara. “WOY! Yang salah itu elu bedua, pagi pagi gini udah menggenjot aja” aku mencoba membela diri. “GHAAA~ jangan bengong, masukin lagi. Lagi enak juga tadi” dengan sedikit memohon Cilia berkata kepada Agha. “hahaha lanjut aja kali, Gha. Gue numpang duduk di sini aja” aku meyakinkan Agha. “tapi Cil, udah turun lagi ini.” kata Agha sambil mengocok ngocok rudalnya. “NAAAATTTT LO MESTI TANGGUNG JAWAB BIKIN AGHA KERAS LAGI” Cilia mencoba menyuruhku. “Dih! Ogah! Yang menggenjot elu, yang bikin tegang gua.” Aku menolak “Ayolah, Nat. Demi temen yang lagi horny?” Cilia meyakinkan sambil memainkan serambi lempit nya. “Kok mesti gua sih, Cil.” Kataku mendekat ke Agha dengan berat hati, berkedok demi teman. Aku piker, cuma bikin berdiri, apa susahnya? It’s just a blowjob dan gua bisa tenang lagi duduk sambil main HP. Aku pun berlutut di depan Agha. “Ini rudal gede banget sih, jadi pengen nyobain sesekali.” Kataku dalam hati. Aku pun mulai mengocok rudal Agha. Perlahan tapi pasti. “Udah, Nat. isep aja. Gatahan gue” Akupun dengan perlahan memasukan rudal Agha ke dalam mulutku. Memaju-mundurkan kepalaku dengan perlahan. Sedangkan tangan ku bergerak untuk memainkan zakar Agha. Aku berpikir dengan seperti ini mungkin Agha akan cepat bernafsu dan melanjutkan permainannya dengan Cilia. Agha mulai bernafsu dan menekan kepalaku memaksa untuk Deepthroat. Aku terbatuk. “Sialan lu, Gha. Mau bikin gue muntah?”. Agha hanya tertawa dan beralih ke Cilia. “Udah keras, Tuan Putri. Puas lu?” kataku sambil mencubit puting Cilia. “AW! Makasih sayang.” Kata Cilia kepadaku. “GHAAAA~ sekarang mainnya sama gua. Tinggalin aja Natasha sendirian, paling juga nanti dia ngangkang minta disodok sama elu.” “OGAH!” sanggahku dengan cepat Kamipun tertawa. Agha mulai menggesekan rudalnya ke serambi lempit Cilia. “Jangan digosok aja dong beib. Entot gua” Cilia mulai binal. Agha dengan perlahan memasukan rudalnya. “AAAAHHH!! TERUS BEIB!!” Agha memasukan rudalnya hingga masuk semua. “Dalam banget beib. Enak.” Agha mulai bergerak perlahan. Memaju-mundurkan pinggangnya. Yang diterima oleh Cilia dengan irama yang hampir bersamaan. Cilia memeluk Agha. Berharap mungkin Agha mau menghisap putingnya. Agha tau keinginan Cilia dan mulai menghisap puting Cilia dan memainkan putingnya yang lain dengan jari-jarinya. “BEEIIIIB! TUSUK TERUUUS! ENAAAAAK. CILIA MAU DAPEEET” ujar Cilia setengah berteriak. Agha mempercepat tusukannya. Tidak memberikan Cilia kesempatan untuk bernapas, Agha melumat bibir Cilia dengan bernafsu. “AGHAAAA!~ CILIAAA KELUAAAAAAAAAAAAAARRRRRRR” Cilia memeluk Agha dengan erat dan mengejang. Agha menarik keluar rudalnya. Cilia kaget dan protes “Beib, kok langsung dikeluarin sih. Udah mau ya beib?” Tanpa mengeluarkan suara Agha berjalan ke arah toket Cilia dan meletakkan rudalnya diantara toket Cilia. Tanpa perlu di komando Cilia tau apa yang harus dilakukan dan mengapitkan kedua toketnya lalu menggerakan toketnya naik turun, bergantian kiri kanan. Agha menarik kedua puting Cilia sambil tetap menggerakkan pinggulnyaaa. 10 menit kemudian Agha mempercepat gerakan pinggulnya dan mengerang. Menyemprotpatlah peju Agha mengenai toket, leher, muka, dan rambut Cilia. Yang langsung ditanggapi dengan Cilia yang membuka mulut. Agha terkapar lemas bersandar ke dinding. Dan Cilia pun mengambil nafas panjang dan berat. Terlihat toketnya yang ranum naik turun mengikuti nafasnya. “Beib, makasih ya. Dapet blowjob pula dari si bohay.” ujar Agha “WOY! Cari mati lu, Gha?” aku menaikan volume ku. “maaf Nat maaf. tapi blowjob lu oke banget. kapan-kapan lu ya yang tiduran, biar gua yang entot sampai lemes” Agha berkata sambil tertawa. “udah udah. jangan berantem. bentar lagi mau masuk” Cilia menengahi kami.

Jujur, aku jadi pengen dientot sama Agha. Cilia kayanya keenakan banget. huuuh jadi penasaran.

TENG!TENG!TENG!

Bertepatan dengan mereka membereskan pakaian mereka bel berbunyi. Kami keluar dengan muka merah, puas, dan celana dalam yang basah. Basah? Ya, basah. Menonton permainan mereka membuatku basah dan ingin digoyang dengan rudal yang besar.

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel