Rahasia Gadis Salon SMA

Rahasia Gadis Salon SMA

Hari terasa panjang dan melelahkan, dan setelah menyelesaikan pekerjaan saya, saya memutuskan untuk memanjakan diri. Saya memarkir mobil di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan dekat kantor dan bergegas menuju sebuah salon dengan dekorasi yang mencolok, didominasi warna merah. Resepsionisnya, seorang wanita muda yang cantik dengan nama Anggi yang tertera pada name tag-nya, menyambut saya dengan ramah. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanyanya. Saya memesan perawatan creambath dan refleksi.

Setelah dipersilakan ke tempat cuci rambut, seorang gadis muda datang untuk merawat rambut saya. Dia tampak masih sangat muda, dengan kulit sawo matang yang bersih dan wajah yang manis. Meskipun kecantikannya berbeda dari orang lain yang saya kenal, ada sesuatu yang menarik perhatian saya pada aura muda dan polosnya. Postur tubuhnya mungil, tetapi saya menyadari bahwa proporsi tubuhnya cukup menonjol.

Perawatan dimulai. Sentuhan pijatan dari gadis muda itu, yang bernama Dian, terasa menenangkan dan menghilangkan rasa lelah di tubuh saya. Namun, saya juga menyadari bahwa saya merasa tertarik padanya. Khususnya, saya memperhatikan postur tubuhnya yang menarik.

Selama perawatan creambath, dan kemudian refleksi, saya memperhatikan Dian dengan lebih seksama. Karena posisi duduk saya lebih tinggi, terkadang ketika dia membungkuk, saya dapat melihat sedikit bagian dadanya yang terlihat di balik seragam kerjanya. Pemandangan itu membuat saya terpesona. Saya memulai percakapan dengannya, dan ia bercerita tentang dirinya. Ternyata dia baru saja lulus SMA dan sedang mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan keinginannya sambil bekerja di salon tersebut. Usianya masih sangat muda, dan ia bercerita tentang kesulitannya melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya.

yang lebih baik.

Singkat kata, aku tawarkan dia untuk melamar di perusahaanku. Tampak dia berseri-seri mendengarnya. Aku sarankan sehabis jam kerjanya kita dapat mengobrol lebih jauh lagi mengenai pekerjaan itu. Diapun setuju untuk menemuiku di food court selepas pulang kerja nanti.

Jam 8.00 malam, Dian menemuiku yang menunggunya di tempat yang telah disepakati itu. Kupesan makan malam sambil kita berbincang-bincang mengenai prospeknya untuk bekerja di perusahaanku. Kuminta dia mengirimkan surat lamaran serta ijazahnya secepatnya untuk diproses.

Kubilang ada lowongan sebagai resepsionis di kantorku. Memang cuma ada Noni resepsionis di kantorku, sehingga aku merasa perlu untuk menambah satu lagi. Setidaknya itulah pikiranku yang sudah diseliputi hawa n*fsu melihat kemolekan tubuh muda Dian.

Sambil berbincang, mataku terus mengagumi b*ah d*danya yang tampak sekal menggiurkan itu. Ingin rasanya cepat-cepat kuj*lat dan kuhis*p sepuas hati. Dian tampak menyadari aku menatap d*danya, dan dia tampak tersipu malu sambil berusaha menutup celah T-shirtnya.

Sehabis makan malam, aku tawarkan untuk mengantarnya pulang. Sambil meneruskan wawancara, alasanku. Dianpun tidak menolak mengingat dia sudah ingin sekali pindah tempat kerja. Terlebih penampilanku membuatnya semakin yakin. Di dalam mobil, dalam perjalanan, kuteruskan perbincanganku mengenai job description seorang resepsionis di kantorku.

Sambil berbincang kucoba mer*ba pah*nya yang terbungkus jeans ketat. Sesekali tangannya menolak rab*an tanganku. “Jangan Pak.. malu” alasannya. Sementara itu, n*fsuku sudah begitu menggelora dan motel jam-jaman langgananku pun sudah hampir tampak.

“Dian.. Terus terang saja.. Kamu memenuhi semua persyaratan.. Hanya saja kamu harus bisa melayani aku luar dalam untuk bekerja di perusahaanku.” tegasku sambil kembali menger*yangi pah*nya. Kali ini tidak ada penolakkan darinya.

“Tapi Pak.. Dian nggak biasa..” “Yach kamu mulai sekarang harus membiasakan diri ya..” kataku sambil mer*mas pah*nya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku membelokkan setir Mercyku ke pintu masuk motel langgananku itu.

Mobilku langsung masuk ke dalam garasi yang telah dibuka oleh petugas, dan pintu garasi langsung ditutup begitu mobilku telah berada di dalam. Kuajak Dian turun dan kamipun masuk ke dalam kamar. Kamar motel tersebut lumayan bagus dengan kaca yang menutupi dindingnya. Tak lama, petugas motel datang dan akupun membayar rate untuk 6 jam.

Setelah si petugas pergi, kuajak Dian untuk duduk di ranjang. Dengan ragu-ragu dia patuhi perintahku sambil dengan gugup tangannya mer*mas-r*mas sapu tangannya. Kusibakkan rambutnya yang ikal sebahu dengan penuh kasih sayang, dan mulai kuc*umi wajah calon resepsionisku ini.

Kemudian kuc*umi bibirnya yang agak sedikit tebal dan s*nsual itu. Tampak dia hanya bereaksi sedikit sambil menutup matanya. Hanya nafasnya yang mulai memberat.. Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, dan langsung tanganku dengan gemas mer*bai dan mer*masi b*ah d*danya yang ranum itu.

Aku sangat gemas sekali melihat seorang ABG bisa mempunyai b*ah d*da ses*ksi ini. Kuangkat T-shirtnya, dan langsung kuj*lati b*ah d*danya yang masih tertutup ** ini. Kuc*umi belahan d*danya yang membusung. Ahh.. bercintai sekali anak ini.

Dia masih tetap menutup matanya sambil terus mer*mas-r*mas sapu tangan dan seprei ranjang ketika aku mulai men*kmati b*ah d*danya. Kubuka pengait **nya yang tampak kekecilan untuk ukuran b*ah d*danya, dan langsung kuhis*p dan kuj*lati b*ah d*da gadis ABG salon ini.

“Eh.. Eh..” hanya er*ngan tertahan yang keluar dari mulutnya. Dian tampak mengg*git bibirnya sendiri sambil meng*rang ketika lid*hku menari di atas put*ngnya yang berwarna coklat. Dengan cepat put*ng itu mengeras pertanda siempunya sedang ter*ngs*ng hebat.

Cerita Sex Dewasa - Rahasia Gadis Salon SMA
Segara kul*cuti semua pakaianku sehingga aku tel*nj*ng bulat. Kem*luanku telah tegak ingin merasakan n*kmatnya tubuh gadis muda ini. Akupun duduk di atas d*danya dan kuarahkan kem*luanku ke mulutnya. “Jangan Pak.. Dian belum pernah..” katanya sambil menutup bibirnya rapat.

“Ya kamu harus mulai belajar donk..” jawabku sambil menyentuhkan kem*luanku, yang panjangnya hampir sama dengan panjang wajahnya itu, ke seluruh permukaan wajahnya. “Katanya mau jadi pegawai kantoran..” aku mengigatkan. “Tapi nggak akan muat Pak.. Besar sekali” “Ya kamu coba aja sedikit demi sedikit. Dimulai dari ujungnya dulu ya sayang..” perintahku lagi.

Dianpun mulai membuka mulutnya. Kusodorkan kem*luanku dan sedikit demi sedikit rasa hangat yang n*kmat menjalari kem*luanku itu, ketika Dian mulai menghis*pnya. Kuangkat kepalanya sedikit sehingga dia lebih leluasa menghis*pi kem*luan calon bosnya ini.

“Ya.. Begitu.. Sekarang coba lebih dalam lagi” kataku sambil mendorong kem*luanku lebih jauh ke dalam mulutnya. Kemudian kutarik keluar kem*luanku dan kuarahkan mulut gadis ABG ini ke b*ah zak*rku. “Sekarang kamu j*lat dan his*p ini ya.. Sayang”

Dianpun menurut. Dij*latinya dan kemudian dihis*pnya b*ah zak*rku satu per satu. Demikian selama beberapa menit aku duduk di atas d*da Dian dan mengajarinya memberikan ken*kmatan dengan menggunakan mulutnya. Mulutnya tampak penuh sesak ketika ia menghis*pi kem*luanku.

Setelah puas men*kmati hangatnya mulut Dian, aku kembali gemas melihat b*ah d*danya yang membusung itu. Kembali kun*kmati b*ah d*danya dengan mulutku. Kembali Dian meng*rang tertahan sambil mengatupkan bibirnya. Sementara itu, akupun mel*cuti celana jeansnya dan sekalian cel*na dal*mnya. Tampak v*ginanya yang bersih tak berbulu seperti menantang untuk dig*njot kem*luanku.

Tanganku meraba-raba v*ginanya dan tak lama menemukan klit*risnya. Kuusap-usap klit*risnya itu, sementara mulutku kembali dengan gemas men*kmati b*ah d*danya yang besar menantang. Terdengar dengusan nafas Dian semakin dalam dan cepat.

Matanya masih menutup demikian juga dengan bibirnya. Tangannya tampak semakin keras mer*mas sprei ranjang kamar. Aku sudah ingin menyet*b*hi gadis ABG petugas creambath ini. Kurenggangkan pah*nya sementara kuarahkan kem*luanku ke liang n*kmatnya. “Pelan-pelan ya Pak..” pintanya sambil membuka mata.

Tak kujawab, tapi mulai kudorong kem*luanku menerobos l*ang v*ginanya. Memang dia sudah tidak per*wan lagi, tetapi v*ginanya masih sempit menjepit kem*luanku. “Ahh..” jeritnya ketika kem*luanku telah menerobos v*ginanya. Tak kuasa lagi dia untuk menahan jeritan n*kmatnya.

Mulai kugenjot v*ginanya, sambil kur*mas-r*mas b*ah d*danya. Makin keras er*ngan Dian memenuhi ruangan itu. “Ahh.. Ahh..” er*ngnya seirama dengan goyanganku. Buah d*danya bergoyang menggiurkan ketika aku memompa v*ginanya.

Sesekali kuhentikan goyanganku untuk kembali menghis*pi b*ah d*danya yang besar dengan gemas. Hampir 20 menit terus kupompa gadis ABG kenikmatans pegawai salon ini. Tiba-tiba dia meng*rang dan meng*jang hebat tanda org*sme. Tampak butir keringat mengalir membasahi wajahnya yang kenikmatans. Kuseka keringatnya dengan penuh kasih sayang.

Kemudian kunaiki kembali tubuhnya dan kali ini kuletakkan kem*luanku diantara b*ah d*danya yang kenyal itu. Tanganku merapatkan b*ah d*danya, sehingga kem*luanku terjepit diantaranya. Nikmat sekali rasanya dijepit b*ah d*da gadis ABG sekenikmatans dia.

Mulai kugoyangkan badanku maju mundur sehingga b*ah d*danya yang kenyal menggesek-gesek kem*luanku dengan n*kmat. Kadang kulepaskan kem*luanku dari himpitan b*ah d*danya untuk kemudian kusorongkan ke mulutnya untuk dihis*p. Kemudian kembali kujepitkan diantara b*ah d*danya yang ranum itu.

Kira-kira 15 menit lamanya kem*luanku men*kmati kenyalnya b*ah d*da dan hangatnya mulut Dian. Akupun merasa akan org*sme, dan tak lama kusemburkan cairan ejak*las*ku di atas b*ah d*da Dian. Dengan kem*luanku, kuoleskan sp*rmaku keseluruh permukaan b*ah d*danya yang sangat membuatku gemas itu.

“Pak.. Jangan bohong lho janji Bapak..” ujar Dian saat kami telah meluncur kembali di dalam mobilku. “Oh nggak, sayang.. Cepat saja kamu kirim lamarannya ya” jawabku.

Dianpun tersenyum senang mendengarnya. Terbayang olehnya kerja di kantor yang merupakan cita-citanya. Akupun tersenyum senang membayangkan b*ah d*da Dian yang akan dapat aku n*kmati sepuasnya nanti. Kuturunkan Dian dipinggir jalan sambil kuberi uang untuk ongkos taksi.

“Terimakasih ya Pak Robert” katanya ketika dia turun dari mobilku. “Sama-sama Dian” jawabku sambil melambaikan tangan.

Kukebut mobilku menuju jalan tol. Hari telah larut malam. Jalanan telah menjadi lenggang. Ingin rasanya cepat sampai di apartemanku setelah hari yang melelahkan ini. Tiba-tiba aku sadar kalau aku belum mentest secara bercintaama kemampuan Dian untuk menjadi resepsionis.

Interpersonal skill, bahasa Inggris, telephone manner, dan lain-lain. Rupanya aku hanya terbuai oleh b*ah d*danya yang n*kmat itu. Biarlah nanti bagian HRD yang mentestnya, pikirku. Kalau lulus ya diterima, kalau nggak ya nggak apa-apa. Toh aku sudah puas men*kmati b*ah d*danya he.. He..

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel