Mahasiswi Kedokteran & Rahasia Keluarga

Mahasiswi Kedokteran & Rahasia Keluarga

Didikkan di lingkungan keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, saya tumbuh di tengah tuntunan etika dan kesopanan. Kedua orang tua saya selalu menekankan pentingnya perilaku terpuji dan martabat seorang perempuan, khususnya dalam pergaulan. Ayah, khususnya, sering mengingatkan akan pentingnya kehati-hatian, terutama dalam interaksi dengan kaum laki-laki, dengan penekanan pada bijaksana dalam memilih pertemanan.

Meskipun nasihat mereka begitu bijak, justru hal itu membangkitkan rasa ingin tahu saya akan tantangan kehidupan di luar lingkaran keluarga. Namun, keinginan saya untuk menjelajahi dunia dan mengeksplorasi potensi diri sebagai remaja, terbentur oleh pandangan orang tua yang menginginkan saya untuk tetap berada dalam lingkungan yang mereka anggap aman.

Keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan di luar kota, misalnya, langsung mendapat penolakan dari Ayah. "Tidak perlu kuliah di luar kota, di sini banyak kampus berkualitas," katanya dengan tegas. Saya hanya bisa menunduk, tak mampu menatap tatapan penuh kewibawaannya. Ibu, dengan lembutnya, berusaha menenangkan saya, "Ayahmu menginginkan yang terbaik, Nak. Dunia luar tak selalu semudah yang terlihat. Lebih baik kamu kuliah di sini dulu. Menjelajahi dunia bisa dilakukan setelah kamu lebih dewasa dan matang." Sentuhan lembutnya di kepala saya, yang tertutup jilbab ungu kesayangan, hanya mampu dibalas dengan air mata yang membasahi pipi.

Perjalanan menuju Surabaya, tempat saya diterima di program studi kedokteran di salah satu perguruan tinggi negeri ternama melalui jalur beasiswa atas prestasi UN saya – peringkat kedua se-Jawa Timur – diiringi pesan terakhir Ayah, "Hati-hati, Nak. Ingat pesan Ayah baik-baik. Berhati-hatilah dalam pergaulanmu agar cita-citamu tercapai." Kepergian saya kali ini hanya diiringi doa dan pesan dari keluarga, karena mereka tak mampu mengantar saya. Namun, kehadiran Mbak Intan, saudara perempuan Ibu, telah sedikit meringankan beban orang tua saya.

Cerita Sex Dewasa - Mahasiswi Kedokteran & Rahasia Keluarga
terbaik untuk masa depanmu” ungkap ibu saat aku memeluknya mesra. Aku pandangi wajahnya yang cantik, tubuhnya masih bercintai meski telah melahirkan anak tiga, lemak tubuhnya menempel pada bagian yang tepak, sehingga ia selalu tampil menawan. Aku kadang iri melihat kesempurnaan tubuh bercintainya

Bis mulai melangkah pelan, aku menempati bangku urutan kedua. Ini memang bukan perjalanan pertamaku dengan Bis, tapi kali ini aku sendiri, dan perjalanan ini malam hari, sesuatu yang belum pernah aku lakukan. “permisi mbak, apa bangku inu kosong” suara parau itu mengejutkan lamunanku. Sekilas aku memandang cowok itu, alamak cakepnya. Bibirnya menyunggingkan senyum dengan lengan yang kekar.. Aku mulai menggeser dudul di dekat jendela. Bis pun berjalan pelan. Kami mulai mengobrol dan saling mengenalkan diri, hingga akhirnya aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, yang aku rasakan lampu Bis telah meredup, dan yang membuatku terkejut adalah posisi tidurku yang bersandar di dada cowok disebelahku. Kepalaku tepat dibawah dagunya, bahkan aku mendengar jelas degub keras jantungnya. Aroma parfumnya benar-benar membuatku nyaman.

Tapi… Oh tidak, tanganya tepat menangkup di dadaku, memberikan rasa aneh yang tak pernah aku rasakan. Tangan itu bergerak pelan, mengusap lalu meremas pelan. Aku benar-benar bingung mau merespon bagaimana. Pikiranku benar-benar gelisah, sementara tangan kekar itu semakin liar bergerak. Oh tuhan, apa yang harus aku lakukan. Tapi rasa ini, rasa geli dan gatal yang mulai menjalar, membuatku hanya mengerang dan mengeliat tak berdaya. Tubuhku serasa lemas, deru nafasnya aku rasakan hangat di ubun-ubunku, rupanya ia menghirup aroma rambutku yang terbalut jilbab ungu kebanggannku. Oh tidak, rasa ini mulai memabukkan dan melenakkan tubuhku. Apakah begini rasanya disentuh Indi, Nuri, Rita dan Rasya saat bermesraan dengan pacarnya. Aku benar-benar tak berdaya menahan kenikmatan ini, dan aku benar-benar merintih. Aku yakin cowok yang mengenalka namanya sebagai Edo mendengar rintihanku. Namun, responku yang diam dan tetap rebah dalam rengkuhan didadanya membuatnya semakin berani. Kali ini ia membenamkan bibirnya di ubun-ubunku, mengantarkan hawa panas yang membuatku merinding. Aku mulai duduk gelisah, sementara dibawah sana mulai aku rasakan kedutan-kedutan ringan yang membuat tanganku reflek menekannya kuat. Aku rasakan tangannya semakin gencar meremas dan memilin putingku, mesti tetap diluar kaos yang kukenakan, namu tangannya tetap menemukan puting payudaraku yang telah lama mengeras. Ia begitu terampil memilin dan mengombinasikan dengan remasan. Ooooohhhhh… Kali ini aku mengerang, dan kedutan di serambi lempitku semakin kuat. Aku semakin gelisah, tiba-tiba tubuhku mengejang. Tanganku reflek menangkufi vegiku yang mengembung dalam balutan berbahan katun, dan tangan itu semakin kuat mencengkram bulatan payudaraku.. Aku merasakan nikmat yang tak kukenal..

Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel