Rahasia Pernikahan Papi Setelah Mami Pergi

Setahun Mami udah gak ada, eh Papi malah bikin kaget! Dia mau nikah lagi! Calonnya janda, umur 40 tahun. Papi sendiri udah 60! Bayangin aja, kita semua geleng-geleng kepala, antara kaget campur geli. Mungkin Papi udah gak betah sendiri, masa iya umur segitu masih kuat ngurus istri muda?
Tapi kita maklum juga sih, Papi kan sendirian di rumah. Kita bertiga anaknya udah pada nikah dan punya rumah sendiri. Di rumah cuma ada adik laki-laki Papi yang masih kuliah dan mbak pembantu yang udah tua. Papi emang sayang banget sama Mami, pasti kehilangan banget setelah Mami meninggal. Dulu mereka kemana-mana berdua, walau sering ribut.
Akhirnya kita keluarga besar ngumpul, ngomongin nasib Papi. Ide kita? Panti jompo! Lebih nyaman, banyak temen, ada kegiatan, makanan terjamin. Kita mau cari yang bagus, yang mewah lah. Kamar pribadi, kamar mandi dalam, ada TV, AC, plus dokternya juga. Mahal sih, tapi demi kenyamanan Papi, kita rela keluar duit lebih.
Nah, masalahnya gimana caranya ngajak Papi ke panti jompo? Adikku usul, ajak Papi jalan-jalan, pura-pura mau ke mall, tapi sebenernya ke panti jompo. Eh, Papi malah tertarik! Jadi deh, rencana kita berhasil.
Sabtu sore seperti biasa, aku janjian sama adikku buat jenguk Papi...
rnyata Sabtu itu adikku dengan suaminya dan anaknya berlibur keluar kota.
Aku datang ke panti dengan suamiku dan anakku yang berumur 4 tahun pengen ngajak Papi makan di luar.
Papi segera pergi mandi. Rupanya Denis lapar duluan, lalu papinya mengajak Denis pergi mencari makanan.
Setelah sekian menit suamiku pergi dengan Denis, kringgg… kringgg…. kringgg… handphoneku berbunyi.
“Kita nggak usah keluar makan aja ya, Mi.” kata Johan padaku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Denis ngajak Papi makan di sini. Mami sama Papi mau makan apa, nanti Papi belikan…”
Belum aku menjawab Johan, Papi memeluk aku dari belakang. Diciumnya leherku dan diremasnya tetekku yang terbungkus kaos ketat dan rudalnya yang tegang dikocok-kocoknya di sela pantatku yang terbungkus celana jeans.
ASTAGA….
Aku bukan kaget lagi. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh saya. Peredaran darahku bukan memompa dari jantung lagi, tapi dari otakku. Otakku serasa tidak bisa berpikir.
“Nanti Mami telepon…” kataku pada Johan buru-buru mematikan hapeku.
“Lepaskan dulu aku, Pi…! Lepaskan dulu…” kataku pada Papi. “Papi kocok disitu, nanti celanaku basah…”
Papi melepaskan aku. Kulihat rudalnya. rudal Papi masih segagah rudal Johan, suamiku. Pantesan Papi mau menikah dengan janda umur 40-an. Kalau Papi menikah dengan wanita umur 50 tahun ke atas pastilah wanita itu akan kewalahan melayani Papi.
Papi berbaring di kasur menunggu uluran tanganku ke rudalnya yang berdiri tegak.
Tidak mau aku membantu Papi mengocok rudalnya aku merasa aku berhutang pada Papi, mau aku turuti, aku mengkhianati Johan, aku seperti telur berada di ujung tanduk.
Namun bagaimana pun, aku merasa kasihan juga pada Papi. Hampir semua laki-laki sama. Suamiku, Johan, jika aku lagi haid selama seminggu, ia sudah gelisah, apalagi Papi yang kehilangan Mami.
Akupun mulai mengocok rudal Papi dengan badan panas dingin keluar keringat. Tak ayal lagi sewaktu Papi memegang payudaraku dari luar kaosku, aku segera melepaskan kaosku dan BH-ku.
Payudaraku bukan payudara yang bagus. Payudaraku lembek menggantung dan kecil, tapi Papi meremasnya dengan penuh napsu dan mengisapnya dengan napsu yang menggebu sehingga membuat aku tidak mampu lagi membentengi diriku.
Aku menyerah pada Papi. Aku terlentang pasrah di atas tempat tidur membiarkan Papi melepaskan celana jeansku.
Papi menjilat serambi lempitku, sedangkan celana dalamku dibuang entah kemana, saya sudah tidak tau lagi. serambi lempitku rasanya sangat nikmat dijilat Papi.
Aku menggelinjang merasakan lidah Papi mengulak-ngalik bagian dalam serambi lempitku. Johan tidak sepandai Papi dalam soal permainan serambi lempit.
Aku sudah lupa ia adalah orangtuaku, aku ikut menghisap rudal Papi.
Sewaktu rudal Papi sudah maksimal tegangnya, Papi memasukkan rudalnya ke lubang serambi lempitku.
Kedua tanganku hanya bisa memegang ujung batal kepala sewaktu rudal Papi menghujam-hujam lubang serambi lempitku. Tetekku dihisap dan disedotnya dengan penuh kenikmatan..
Rakusnya Papi, membuat aku menjerit saat aku orgasme untuk pertama kalinya. Aku menikah dengan Johan sudah 6 tahun, tetapi Johan membuat aku orgame bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Sedangkan Papi….
Oleh sebab itu, ketika Papi mau melepaskan air kenikmatannya, aku membiarkan saja lepas bebas di dalam serambi lempitku meskipun saat itu aku lagi subur.
Sungguh hangat rasanya rahimku disiram oleh air kenikmatan Papi. Papi memeluk aku erat-erat, Papi mencium bibirku seperti saya istrinya.
Johan pulang membawa makanan, aku menjadi istri yang kenikmatans. Papi juga tidak menunjukkan napsunya yang seperti singa kelaparan itu di depan Johan.
Aku Emmi, adiknya Atty. Umurku 26 tahun, mempunyai seorang anak berumur 2,5 tahun, suamiku berumur 29 tahun.
Kalian sudah tau, karena kakakku Atty sudah bercerita pada kalian, bahwa Papi tinggal di panti jompo.
Tidak terasa Papi tinggal di panti sudah 6 bulan. Hari ini Papi berulang tahun yang ke 61.
Kami anak mantunya ingin memberikan surprise pada Papi. Suamiku menyuruh aku menjemput Papi di panti setelah ia dan anak kami turun di depan sebuah restoran chinesefood.
Waktu itu Kak Atty dan suaminya belum kelihatan batang hidungnya dan adik laki-lakiku yang katanya mau membawa pacarnya juga belum datang dan beberapa saudara dekat yang kami undang juga belum datang.
Mobilku segera meluncur ke panti. Jalan yang mulus tanpa macet, hanya sekitar 45 menit aku berkendara, aku sudah sampai di panti.
Papi yang membukakan pintu kamarnya untukku. Papi hanya memakai celana dalam. Pemandangan ini sudah sering kulihat di rumah. Jadi aku sudah tidak perlu heran.
“Cepat mandi, Pi…” kataku pada Papi.
“Papi memang lagi mau mandi…” jawab Papi. “Tiba-tiba Papi terbayang pada Mamimu. Alangkah nikmatnya sewaktu Papi bersetubuh dengan Mamimu semalam sebelum Mamimu meninggal… Papi jadi masturbasi, Mi… tapi nggak bisa keluar. BISAKAH KAMU BANTU PAPI KELUARKAN, MI…?”
Aku hampir kehilangan napas mendengarnya.
“Bagaimana Mi? Apa kamu bisa membantu Papi?” tanya Papi.
Pertanyaan itu sulit untuk kujawab. Jika aku menolak, pasti akan berantakan acara ulang tahun Papi. Jika kuturuti, bagaimana hubunganku dengan Iwan meski Iwan tidak tau apa yang aku lakukan dengan Papi, tapi tanganku sudah kunodai.
“Kalau tidak dikeluarkan Papi akan sangat menderita.” kata Mami.
Bagaimana mampu kutolak lagi? Segera kuturunkan celana dalam Papi. Huu..uufff… sontak aku kaget. Tak kusangka rudal Papi masih bisa berdiri sekaku itu.
Jika Iwan melihat bisa jadi Iwan akan merasa rendah diri. Kekagumanku pada rudal Papi membuat aku terlena, sehingga dengan liarnya Papi menodai tubuh telanjangku.
Payudaraku yang montok diremas-remas semaunya. Putingku yang besar dilinting seperti melinting rokok klobot jagung, lalu putingku itu disedot-sedot Papi, sementara tangan Papi menguak bibir serambi lempitku.
Seterusnya, aku hanya bisa pasrah menerima rudal Papi di dalam serambi lempitku. Setelah itu, dengan gesitnya Papi menggenjot lubang serambi lempitku seperti ia menggenjot lubang serambi lempit istrinya.
Merasakan rudal Papi yang keras itu membuat aku merasa nikmat saat kelentitku dibesot-besot.
Melihat aku menikmatinya, rudal Papi menyodok lubang serambi lempitku semakin dalam, tubuhku seperti sudah menjadi miliknya, Papi mau cium, mau Papi remas, aku hanya bisa pasrah dan terima.
Papi berbaring penuh kepuasan di sampingku setelah ia mencurahkan benihnya banyak-banyak di rahimku.
Dan sejak sore itu aku sendirian ke panti menikmati cinta bersama Papi.
Kemudian yang membuat aku heran adalah kenapa jarak aku hamil dengan jarak Kak Etty hamil selisihnya tidak jauh, ya?
Sialnya lagi, setelah berhasil menyetubuhi aku dan membuatku hamil, sebulan kemudian Papi menikah dengan seorang aunty dari India yang berumur 50 tahun dan tinggal di panti itu juga bersama Papi.
Komentar
Posting Komentar